bergeraklah...!!!!

Sesungguhnya alam mengajarkan bahwa kita tak akan pernah bisa berhenti. Meski kita berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak kita mengelilingi matahari.


Air yang tak bergerak lebih cepat usuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin yang tak dinyalakan lebih berdebu. Hanya perkakas yang tidak digunakan yang lebih gampang berkarat.


Alam telah mengajarkan ini. jangan berhenti berkarya, atau kita segera menjadi tua dan tak berguna.


.

.

.

Sabtu, 09 Juli 2011

LOKER NOMOR 7 _ BAGIAN 7

cerita yang lalu ...

Laras gagal membuat pertemuan antara dirinya dan Karang untuk kedua kalinya. Hal ini terjadi karena Raras kecil harus dirawat dirumah sakit ketika Laras sedang mempir untuk melihat Raras kecil di rumahnya untuk pertama kali. Pertemuan jam setengah lima di pameran kerajinan tangan dunia gagal karena Laras datang terlambat. Sebelumnya di hari yang sama, Laras memasukkan surat dan tiket masuk ke dalam tas Karang ketika Karang sedang berlatih baseball. Tapi Karang dan Laras tak pernah tahu, kalau suratnya hilang, hanya menyisakan satu tiket masuk pameran. Sementara setelah akhirnya Raras dan Laras kembali berhubungan melalui loker nomor 7, Laras tahu kalau Karang tak pernah ingat pada Laras.

***
18 januari 2004, Minggu
09:00
Laras turun di halte setelah melalui satu jam perjalan menggunakan bus. Berhenti sebentar sambil berdiri untuk melihat salah satu foto yang sedari tadi ada digenggamannya, ia kemudian berjalan sambil menatap lahan kosong di kelilingi pagar seng yang tinggi. Di tahun 2010, seperti di foto, lahan tersebut akan berdiri sebuah apartemen dimana salah satunya akan ditinggali Karang ketika usianya 24 tahun nanti.


Laras melompat-lompat berusaha untuk melihat lahan kosong yang ada di balik pagar seng yang tinggi itu. Tapi sia-sia, akhirnya Laras pasrah dengan apa yang ada dihadapannya kini, pagar seng tinggi. Kemudian Laras membaca salah satu surat Raras.

Di samping apartemen ada kafe.
Karang sering mengajakku makan siang disana
atau minuman sebelum aku pulang

Disana, kamu akan Lihat trotoar di seberang apartemen
Kami berjalan bersama sepanjang trotoar itu sampai halte pulang
Pohon kirai payung berjejer rapi membatasi antara jalan raya dan trotoar.


Laras terus berjalan ke bangunan yang ada disamping lahan kosong. Ruko berhalaman luas itu bertuliskan konveksi Putra yang menerima pesanan kaos, jaket, dan baliho. Ruko ini akan disulap menjadi kafe seperti yang ada di foto tujuh tahun yang akan datang.

Lama Laras berdiam diri di depan ruko, Laras kembali menyeberang jalan dan berjalan di trotoar. Sekitar 100 meter ada halte di depan sana. Berjalan pelan, Laras membayangkan Karang ada di sampingnya, mengantarnya menuju halte di sana, sambil bercerita mengobrolkan tentang apa saja sambil menikmati daun-daun kerai payung yang bergoyang tertiup angin. Laras mendekati salah satu pohon kerai payung yang masih muda.

“Kamu akan setinggi ini tahun 2010 nanti, lihatlah,” kata Laras pada batang kerai payung muda sambil memperlihatkan sebuat foto. “Menurut kamu, kamu yang mana?” Tanya Laras sambil memperhatikan foto kerai payung yang berjajar ke belakang.

Setelah sampai di halte, Raras berdiri di samping tiang penyangga halte. Kemudian menyandarkan badannya ke tiang sambil mengamati lahan kosong yang masih tertutup pagar seng tadi. Lama Laras terdiam, akhirnya ia melihat bus melaju menuju halte di kejauhan. Sambil menunggu bus menghampiri halte, Laras kembali memandangi sekali lagi apa pun di sekitar tempat ia berdiri, mencoba memberi bekas di otaknya.

Entah pikiran darimana, Laras tiba-tiba dengan cepat mengambil sebuah batu dan menggoreskan sesuatu di tiang besi penyangga halte sebelum ia naik ke dalam bus.



***
23 Januari 2010, Minggu
14:00

Raras berjalan pelan mengikuti langkah Karang sambil menikmati daun-daun kerai payung dan hembusan angin yang sesekali lewat. Sudah banyak cerita tentang Laras yang sudah keluar dari mulutnya.

“Aku suka pohon ini,” kata Karang ketika Raras sudah kehabisan cerita. “Guru biologiku dulu pernah bilang, dengan bentuk daun itu, ia lebih banyak menyerap karbon dioksida ketimbang daun lain,” lanjutnya sambil menatap daun-daun salah satu pohon kerai payung. Raras hanya menanggapinya dengan mengeluarkan kata ‘uh’ sambil mengangguk berkali-kali tanda mengerti.

“Sudah sampai halte,” kata Raras setelah mereka berhenti di sebuah halte. Raras memberikan secarik kertas pada Karang sambil berjalan menuju salah satu tiang halte. Sementara Karang membaca kertas itu.

Tidak ada apartemen dan kafe di tahun 2003
tapi trotoar dan pohon yang masih muda ada disana
oh ya, aku menuliskan sesuatu di tiang halte
apa masih ada disana?


Raras segera memanggil Karang untuk mendekat pada tiang halte sambil tersenyum. Tak lama kemudian keduanya tersenyum lebih lebar lagi sambil mengusap-usap tulisan yang ada disana.

LARAS LOVE KARANG – goresan di di tiang halte

“Kenapa kita tidak menemui Laras?” Usul Karang kemudian yang ditanggapi dengan anggukan penuh semangat dari Raras. “Sabtu minggu depan?”

***
28 Januari 2004, Rabu
07:00

Sepertinya sabtu nanti kami akan menemuimu
“bersiaplah, dan tampil cantik di hari itu,”
seandainya bisa kuucapkan itu padamu di tahun 2010
aku menjadi penasaran sekali dengan kamu yang tua, hahaaa


apa kamu cemas?
sebaiknya alamat rumah yang pernah kamu berikan
tidak salah, hahaa
Laras dewasa akan bertemu dengan Karang dewasa


Laras membaca surat itu dengan hati yang berdegup. Ia hampir tak bisa bernafas. Dan hayalannya tentang ia dan Karang banyak sekali sekarang, dua kali lipat banyak ketimbang hari biasanya. Lalu Laras membalas surat Raras.

Aku membuat janji bertemu di bangku
penonton lapangan baseball jumat sore.
Jantungku seperti mau pecah menunggu hari itu
Karang suka sekali kentang goreng
aku akan memberikannya nanti




***
29 Januari 2010, Sabtu
08:00
Raras ada di dalam mobil bersama Karang pagi ini. Ia membolos kelas renang tanpa sepengetahuan Kak Anggun. Entah mengapa, jantungnya kini berdegup kencang dan badannya terasa dingin jika membayangkan pertemuan indah antara Laras dan Karang nanti. Raras agak menyesal juga mengapa tidak pernah berinisiatif untuk mengunjungi Laras sebelumnya, sehingga ia bisa tahu bagaimana Laras yang dewasa.

“Jangan tertawa, aku agak gugup,” kata Karang tiba-tiba.

“Sama,” jawab Raras singkat.

“Apa alamatnya benar?” Tanya Karang memastikan.

“Tentu saja,” jawab Raras singkat karena juga masih merasa gugup.

”Sebenarnya aku terharu dan senang, ada yang menyukaiku sebesar Laras. Apa menurutmu ia masih menyukaiku?”

“Tentu saja,” jawab Raras sambil tersenyum.



09.00
Raras mulai cemas dalam perjalanan. Seseorang yang sekarang menempati rumah Laras memberikan sebuah alamat rumah yang ditinggali Laras sekarang. Ternyata sudah empat tahun Laras pindah rumah. Untung saja penghuni rumah Laras yang lama masih menyimpan alamat rumah yang pernah diberikan oleh mama Laras.

“Rumah ini? Nomor 17?” Tanya Raras ketika mobil berhenti disebuah rumah yang sangat asri dan lebih kecil dibanding rumah Laras sebelumnya. Dengan cepat Raras turun dari mobil dan mendekati pintu gerbang. Tampak seorang perempuan memakai dress santai bermotif bunga kecil-kecil sedang memindahkan pot-pot kecil dari teras ke halaman depan.

“Permisi,” sapa Karang agak keras setelah puas mengamati perempuan itu. Perempuan itu menoleh ke arah kami dan tampaklah wajahnya. Perempuan agak tua dengan rambut keriting pendeknya mendekati kami.

“Ada apa?” tanya perempuan itu ramah sambil membuka gerbang.

“Kami mencari alamat ini. Apa ini benar rumahnya?” Karang memberikan secarik kertas bertuliskan alamat rumah.

“Iya, ini alamat rumah saya. Mencari siapa?” Tanya perempuan itu masih ramah namun terlihat sekali wajahnya penasaran.

“Kami teman Laras, tante,” jawab Karang. “Apa Laras ada?”

“Laras siapa?” Tanya perempuan itu mulai bingung.

“Tante yang punya rumah ini?” Tanya Raras yang dijawab dengan anggukan pelan perempuan itu. “Tante tidak punya anak bernama Laras?”

Perempuan itu menggeleng lemah dan bercerita kalau ia baru pindah setahun yang lalu. Tapi menurut ceritanya, penghuni rumah sebelumnya tidak memiliki anak, ia tinggal sendiri selama tinggal di rumah ini.

“Apa tante tahu, beliau pindah kemana?” Tanya Karang.

“Tidak tahu. Tapi saya kenal dengan adik iparnya,” jawab perempuan itu. “Mau kuberikan nomor teleponnya?”

11:00
Sudah kesekian kali Raras menekan bel, tapi tetap saja tak ada orang yang membukakan pintu. Karang sudah kembali di samping Raras sambil melongo sekali lagi ke jendela ruang tamu. Karang baru saja menglilingi rumah untuk mencari tahu apakah rumah ini benar-benar kosong. Tapi sepertinya benar-benar kosong.

“Coba telepon oom nya Laras lagi, apa benar ini alamatnya,” perintah Raras dengan wajah kesal. Dengan cepat Karang mengambil handphone dari kantong celananya dan mulai menelepon.

“Om, kami sudah sampai rumah Tante Maria, tapi rumahnya kosong. Apa benar alamatnya? Atau apa Tante Maria sudah pindah rumah lagi?”

bersambung ...
Read More......

LOKER NOMOR 7 _ BAGIAN 6

cerita yang lalu ...

Libur sekolah, Raras mencari laki-laki yang disukai Laras. Dalam suratnya yang panjang, Laras menginginkan informasi tentang sosok yang bernama Karang di tahun 2010. Raras menemui Karang ke alamat rumah yang diberikan Laras dalam suratnya, namun ternyata rumah itu sudah tidak menjadi tempat tinggal Karang. Setelah mencari informasi lebih lanjut, Raras menemukan apartemen Karang. Namun sayang sekali, dalam pertemuan itu, Raras mengetahui kalau Karang sama sekali tidak mengingat Laras.

***
8 Januari 2004, Kamis
15:00

Laras berjalan menyusuri salah satu jalan kompleks yang menurutnya, tidak terlalu berbeda dengan foto yang pernah Raras kirim. Sambil mengamati nomor-nomor rumah yang tertera di tiap tembok pagar, Laras memikirkan akan Raras di tahun itu. Lama sekali Laras dan Raras tidak berhubungan. Sekarang Laras libur sekolah, mungkin saja Raras disana juga merindukan surat Laras seperti dirinya.


Laras berhenti di depan sebuah rumah bernomor 23. Rumah bercat biru muda dengan beberapa bagian tembok dilapisi batu-batu alam. Tanahnya lebih tinggi sekitar satu meter dari jalan kompleks di depannya. Pagar berukuran pendek mengelilingi halaman depan rumah dengan gerbang tinggi dan besar tertutup rapat. Dari jalan kompleks tempat ia berdiri, Laras bisa melihat sebuah pohon seri di halaman depan dan sebuah ayunan dari besi yang bangkunya saling berhadapan.

Dua anak muncul dari dalam rumah, sedang berebut sebuah boneka salju yang terbuat dari kain. Melihat boneka itu, Laras yakin ia tidak berada di depan rumah yang salah. Sepertinya sejak kecil Raras menyukai salju. Anak yang lebih kecil terlihat sedang berusaha mengambil boneka dari genggaman anak yang lebih besar.

“Kak Anggun, itu boneka Raras,” rengek anak yang lebih kecil sambil sesekali menyingkirkan ujung-ujung rambutnya yang panjang masuk ke dalam mulut.

“Mamaku yang beli boneka ini, jadi ini boneka aku,” jawab anak yang lebih besar. “Kamu anak sial, tahu? Anak yatim piatu,” kata anak itu kemudian sambil mendorong Raras dengan kasar hingga Raras terjatuh. Melihat itu, badan Laras tergerak hendak menolong Raras, tapi Laras mampu menahannya di detik berikutnya.

“Kakak,” rengek Raras kecil.

“Mau boneka ini? Naik di atas pohon itu, nanti aku akan lempar boneka dari bawah,” kata anak yang lebih besar mengajak negosiasi. Tak lama, Raras memanjat pohon seri yang agak tinggi itu dengan tertatih. Setelah mencapai puncak, anak yang lebih besar melempar boneka ke arah Raras. Dengan sengaja ia melempar ke arah yang lebih jauh dari Raras berada, sehingga Raras kesusahan untuk menggapainya dan membuat Raras terjatuh kemudian.

Laras berlari menaiki tanah yang tinggi itu untuk melihat Raras sekarang. Anak yang paling besar berhenti tertawa dan suasana menjadi sepi sekarang. Laras tidak bisa menaiki tanah itu, jadi ia berlari menuju pintu gerbang untuk melihat apa yang terjadi. Laras melihat Raras kecil terbaring di bawah pohon seri dan mengalir darah dari kepalanya, sementara anak yang lebih besar diam kaku sambil mengamati Raras kecil.

“Tolong! Ada orang dirumah? Raras jatuh! Tolong!” Teriak Laras kemudian sabil mendorong-dorong pintu gerbang yang tak mungkin terbuka. Tak lama kemudian seorang laki-laki tua dan seorang perempuan agak lusuh keluar dari dalam rumah dan segera membawa Raras kecil masuk ke dalam mobil.

^^^
17:00
Laras merasakan lemas pada kakinya ketika berjalan menuju ruang dimana Raras tadi berada. Baru saja ia menjalani donor darah untuk membantu Raras kecil. Kebetulan sekali golongan darah Laras sama dengan Raras. Ketika hampir tiba, Laras melihat anak yang lebih besar dari Raras tadi berdiri di depan pintu ruang operasi.

“Anak nakal,” marah Laras setelah menghampiri anak yang sudah pasti adalah Kak Anggun kecil.

“Apa dia akan mati?” Tanya Kak Anggun kecil sambil menangis menunduk.

“Tidak akan mati,” jawab Laras.

“Aku menyesal,” kata Kak Anggun kecil kemudian.

^^^
18:10
Dengan terengah-engah Laras masuk ke dalam pameran kerajinan tangan dari berbagai negara, Handcraft EXPO 2004. Sebelum ke rumah Raras, Laras mampir ke lapangan baseball tempat dimana Karang sedang latihan disana. Setiap Selasa, Kamis dan Jumat Karang latihan baseball di lapangan ini. Laras memasukkan satu tiket pameran ke dalam tas Karang dan selembar surat untuk bertemu di stand nomor 23A jam setengah lima sore. Laras sungguh tidak mengetahui kalau surat yang ia berikan hilang, hanya menyisakan selember tiket masuk di dalam tas Karang.

“Ma, ada anak mencari Laras ke sini, tidak?” Tanya Laras kepada seorang wanita setengah baya yang tengah melayani pengunjung untuk melihat-lihat koleksi batik yang ada di stand nya.

“Tidak ada,” jawab mama Laras cepat kemudian kembali konsentrasi ke pengunjunga. Mendengar itu, Laras mengamati tiap pengunjung yang memadati pameran ini sambil duduk di salah satu bangku plastik yang tersedia di stand. Badannya terasa lemas sekali akibat donor darah tadi.

“Sayang, kenapa?” Tanya mama Laras. Laras hanya menggeleng sambil bersandar etalase yang ada di belakang bangku plastik dengan lemas.


***
9 Januari 2010, Minggu
13:00
Raras naik ke dalam mobil sambil tersenyum pada Karang yang sudah menunggu di bangku kemudi. Karang membalas senyum Raras. Baru saja mereka menemui rumah pengrajin mainan wayang kertas di daerah yang lumayan jauh dari apartemen Karang. Butuh 3 jam lebih perjalanan.

Tadi pagi Raras datang membawa oleh-oleh dari Surabaya, dan Karang membalasnya dengan mengajak Raras menemui pengrajin wayang kertas. Hitung-hitung jalan-jalan gratis ke daerah yang lebih sejuk.

“Kita kamu kemana lagi?” Tanya Raras.

“Pulang,” jawab Karang sambil memperhatikan jalanan.

“Ide cemerlang. Apa akan laku di luar negeri?” Tanya Raras lagi.

“Saya akan membuatnya menarik dengan mengemasnya dengan modern. Wayang dari tangkai daun singkong tadi akan diproses dan dikemas sehingga menjadi awet,”

“Oh, bukan wayang kertas?”

“Itu juga, tapi sebenarnya saya lebih fokus untuk memasarkan kerajinan tangan khas Indonesia dari bahan-bahan alami. Orang-orang dulu banyak membuat kerajinan tangan dari bahan-bahan alami yang lain,”

“Apa saja?”

Begitu seterusnya obrolan mereka tak kunjung terhenti. Karang mulai tertarik dengan kerajinan tangan sejak ia melihat salah satu pameran kerajinan tangan dunia ketika SMA. Ia hampir setiap hari datang ke pameran dan menyayangkan beberapa kerajinan tangan Indonesia dari dedaunan kering mengering dan harus selalu diganti dengan yang baru setiap hari.

^^^
9 Januari 2004, Jumat
16:00
Laras kesal sekali jika mengingat kejadian kemarin. Sudah dua kali pertemuan antara ia dan Karang gagal. Seperti tidak ditakdirkan untuk bertemu, alam sepertinya menghalangi pertemuan mereka. Setidaknya itulah pikiran Laras.

Laras sekarang berada di stand tempat mama Laras memamerkan batik koleksi butik mama Laras yang sudah cukup terkenal. Laras berharap Karang akan datang lagi ke pameran dan bisa bertemu.

“Bagaimana Karang di tahun 2010? Apakah aku berpacaran di tahun itu?” Gumam Laras.


***
10 Januari 2004, Sabtu
09:00
Laras lama mengamati Karang dari luar kaca toko cake di sebuah mall dekat rumah Karang. Seperti biasa, Karang selalu berada di dalam sana, meladeni pelanggan. Setiap sabtu Karang libur sekolah. Sekolah Internasional memang memiliki jam sekolah lima hari saja, Senin hingga Jumat. Untuk berinteraksi dengan Karang walau sebagai pelanggan, Laras sering sekali membolos.

Laras masuk ke dalam toko dan menghampiri etalase berisi aneka cake lucu dan beraneka warna yang paling dekat dengan Karang berdiri.

“Selamat datang di Baruna’s Cake. Mau pesan apa?” Karang menghampiri Laras yang pura-pura sibuk mengamati aneka cake di dalam etalase.

“Cheese Sarina dua,” jawab Laras sambil tersenyum.

“Makan disini atau di bungkus?” Tanya Karang penuh hormat.

“Makan disini,” jawab Laras. “Minumnya, saya mau apa saja yang kamu pilih,” lanjut Laras sambil berjalan di salah satu meja terdekat dari tempatnya berdiri tadi. Dari kejauhan, seorang pelayan toko meletakkan dua buah cake pesanan Laras ke atas piring yang cantik dan menhampiri Laras sambil membawa gelas berbentuk lucu berisi minuman berwarna merah muda bertopi es krim putih di atasnya. Sementara Karang duduk di meja lain dan mulai membaca sebuah buku. Karang memang bukan pelayan di sini, dia anak pemilik toko Baruna’s Cake.


***
12 Januari 2004, Senin
09:10
Laras, aku merindukanmu.
Ada banyak cerita, kau tahu?
Aku menemukan Karang, dan ini fotonya di tahun 2010


Laras membaca surat dari dalam loker nomor 7 untuk kesekian kalinya lalu kembali menatap foto laki-laki berusia 24 tahun itu. Laki-laki itu membiarkan rambut tipis di kumis dan janggutnya. Badannya kekar dan lekukan senyumnya masih sama ketika laki-laki itu ketika berumur 17.
Laras tidak sabar ingin segera tahu jawaban Raras apakah di tahun itu Laras dan Karang berpacaran. Sudah beberapa kali Laras ijin ke toilet pada jam pelajaran Bahasa Indoensia ini hanya sekedar mengecek surat balasan dari Raras. Tapi surat belum juga dibalas Raras.

10:05
Aku heran, Karang tak ingat apa pun terhadapmu.
Bagaimana bisa terjadi?

Bukankah dia sekarang tampan?Wah, pasti kamu tidak
konsentrasi di dalam kelas, sambil
meneteskan air liur menatap foto karang
hahaaaa


Laras tersenyum sebentar lalu terdiam. Ia gelisah dengan apa yang baru saja ia baca. Laras tak menyangka dalam waktu tujuh tahun nanti, Laras tak punya keberanian bertemu dengan Karang secara tiba-tiba saja, tanpa membuat janji bertemu di suatu tempat seperti yang selalu Laras buat selama ini.

bersambung ...
Read More......

LOKER NOMOR 7 _ BAGIAN 5

cerita yang lalu ...

Raras dan Laras mulai menyadari apa yang terjadi. Loker nomor 7 bekerja seperti pintu ajaib doraemon, hanya saja bukan benda-benda yang dapat bertukar tempat, melainkan tinta. Sehingga mereka tidak bisa saling bertukar benda-benda canggih di tahun 2010 atau benda sebagai hadiah satu sama lain. Tapi, karena foto dicetak dengan tinta, mereka lebih sering mengirim foto-foto di tahun masing-masing.

***
19 Desember 2010, Minggu
10:00

Raras menjatuhkan diri di lantai dan duduk lemas menyandarkan punggungnya ke tembok setelah merasa pegal karena sudah hampir satu jam berdiri bersandar di samping pintu. Tadi pagi-pagi sekali Raras sudah keluar rumah dengan ijin jogging pada Kak Anggun, sehingga masih menggunakan celana panjang olahraga lengkap dengan jaket senada berwarna putih. Badannya terasa sangat gerah sekarang, sehingga ia membuka jaketnya dan membiarkan badan bagian atasnya kini berselimut tanktop putih.

“Siapa kamu?” Tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu sambil memperhatikan Raras. Melihat itu, spontan Raras berdiri sambil menenteng jaketnya. Terlihat sedikit keringat tersebar di leher dan lengan Raras dan deru nafasnya yang stabil.

“Raras,” jawab Raras cepat. “Karang?” Tanya Raras memastikan.

“Iya. Saya Karang. Raras siapa?” Tanya seseorang itu.

“Temannya Laras. Tahu?”

“Laras siapa?” Tanya seseorang itu.

Raras bergumam sebentar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu tesenyum ragu-ragu pada seseorang itu. “Dulu kamu pernah tinggal di alamat ini?” Tanya Raras akhirnya memiliki ide dengan memperlihatkan sebuah alamat yang ia tulis di salah satu halaman diarynya. Orang itu membacanya, lalu mengangguk heran sambil menatap Raras.

“Tidak kenal Laras? ini fotonya,” Raras memperlihatkan sebuah foto remaja perempuan yang dikucir satu. rambutnya yang pendek sebahu terlihat sekali walau dengan kuciran itu. Orang itu menggeleng pelan. Melihat itu, Raras mendesah agak kesal.

11:25

Raras kembali membaca surat Laras yang ia simpan di dalam tas olahraga setelah menyimpan rapat diary ke dalam tas. Setelah membacanya, matanya kembali menatap ke luar jendela bus yang berjalan agak lambat. Pemandangan di luar tidak Raras perhatikan, ia pun tak tahu ini daerah mana. Kurang lebih sudah 30 menit perjalanan, setengah perjalanan lagi akan sampai ke rumah Raras.

Sebut saja ini perjalanan mencari Karang. Berjuang menemukan Karang, orang yang Laras sukai. Keluarga Karang sudah pindah dari rumah yang dituliskan Laras dalam suratnya yang panjang. Keluarga Karang sudah pindah lagi ke Austria sejak Karang lulus SMA. Menurut informasi, Karang kuliah di Denmark. Untung saja salah satu tetangga yang mengaku teman satu komplek Karang memberi tahu kalau Karang sekarang di Indonesia, baru sebulan dan memberi alamat apartemen Karang.

“Karang tidak ingat kamu,” kata Raras pelan.

Raras memikirkan sosok Karang. Laki-laki dengan tinggi sekitar 170-an, berbadan lumayan kekar, berkacamata minus berbentuk persegi panjang yang mungil berwarna coklat. Laki-laki itu membiarkan bulu-bulu tipis menutupi kumis dan janggutnya. Menurut Raras, dengan pakaian yang Karang gunakan, ia baru saja berolahraga di suatu tempat. Mungkin di gym.

^^^
20 desember 2010, Senin
09:00

Raras menekan bel pintu rumah yang pernah ia datangi kemarin di hari Minggu. Laki-laki yang sempat Raras temui waktu itu muncul dari balik pintu ketika pintu akhirnya terbuka.

“Kamu lagi?” Sapa laki-laki itu sangat tidak ramah.

“Saya masuk, ya,” Raras memohon kemudian karena tampak sikap laki-laki itu tidak berniat mengajak Raras untuk bertamu di rumahnya. “Sebentar saja,”

09:20

Raras masih mengamati ekspresi wajah Karang yang masih membaca surat Laras. Wajah Karang tampak serius sekali sambil beberapa kali menengadahkan kepala ke atas untuk mengingat-ingat sesuatu.

“Saya ingat pernah dikejar anjing sepulang dari sekolah Taman Kanak-Kanak, dan memang teman saya menolong saya. Saya baru tahu kalau dia yang menolong saya,” kata Karang sambil tersenyum kecil.

“Baguslah,” Raras mencoba menanggapinya dengan bahagia. Mungkin sebentar lagi ia akan ingat tentang Laras.

“Oh, dia juga masih ingat kalau saya pernah hampir tenggelam di danau waktu ada camp sehari yang diakadan TK. Waktu itu saya mengejar katak, lalu peristiwa itu terjadi begitu saja. Untung saja salah seorang guru menyelamatkan saya. Rupanya dia juga yang melihat saya dan segera melapor pada guru,”

“Jadi, sudah ingat Laras?” Tanya Raras. Karang meletakkan surat Laras dan mengambil foto Laras yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Ia mengamati foto Laras lama, lalu menggeleng. Raras bingung, tapi agak kesal. Raras menganggap daya ingat laki-laki ini kurang.

“Masih SMP, ya?” Tanya Karang setelah puas mengamati foto Laras. Matanya kini memandang ke Raras.

“SMA kelas X,” jawab Raras cepat.

20:00
Karang tidak kuliah di Denmark seperti yang diceritakan teman satu komplek Karang waktu itu. Karang kuliah di universitas swasta terkenal di daerahnya. Sudah lulus tahun lalu. Menurut penuturan laki-laki itu, ia tengah merintis suatu usaha bisnis kecil. Mengingat itu, Raras garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

“Kamu melakukan apa dua hari ini?” Tanya Kak Anggun ketika serial drama yang ia tonton sedang rehat menampilkan iklan.

“Tidak melakukan apa-apa,” jawab Raras sambil pura-pura menonton iklan yang sedang diputar di televisi.

“Libur natal kita ke resort. Mama dan Papa besok pulang,” seru Kak Anggun berseri-seri. Raras ikut berseri sambil berteriak hore sekencang-kencangnya sambil membayangkan Surabaya.

Surabaya, kota kelahiran Raras, yang sejak berumur 7 tahun tidak ia tempati lagi. Di tahun itu, Orang tua Raras dan dua adiknya meninggal dunia karena kecelakaan dalam perjalanan liburan ke Bali. Sebuah keajaiban, memang, Raras selamat dalam kecelakaan tersebut walau dengan patah di kaki dan paha kirinya.

Sejak saat itu Om dan Tantenya merawat Raras. Raras dibawa ke ibukota negara setelah kesembuhannya. Resort yang om dan tante Raras punya berada di salah satu pantai di Surabaya, sehingga lumayan sering Raras bisa mengunjungi rumahnya yang dulu. Dengan kasih sayang om, tante, dan Kak Anggun, Raras lupa akan kesedihan ketika kehilangan itu. Ia sama sekali tidak merasakan sedih hingga sekarang.

bersambung ...
Read More......

LOKER NOMOR 7 _ BAGIAN 4

cerita yang lalu ...

Hari-hari berikutnya, Laras mendapat surat balasan dari dalam loker nomor 7. Setiap surat yang terbalas, anak itu selalu berpikir kalau Laras adalah hantu hingga membuat Laras tidak yakin akan wujudnya sekarang. Setelah bertanya pada teman dan mama Laras, akhirnya ia benar-benar yakin kalau Laras bukan hantu gentayangan yang masih merasa hidup. Laras benar-benar masih hidup, bukan hantu. Tapi, pada suatu waktu, Laras meyakini pelakunya bukan berwujud manusia, tapi hantu sekolah. Tapi, mengapa hantu sekolah ini tak pernah berhenti menganggap Laras hantu sekolah juga?

***
24 Agustus 2010, Selasa
06:00

Raras tidak langsung beranjak dari ranjang setelah mematikan jam beker yang tadi terdengar nyaring sekali. Seperti datang tiba-tiba, pikiran tentang pintu ajaib doraemon dengan cepat memenuhi isi otaknya. Sedetik kemudian ia berlari menuju kamar mandi, tak sabar ingin segera pergi ke sekolah.

06:51
Turun dari mobil, Raras langsung berlari masuk ke sekolah. Merasa belum dipamiti, Kak Anggun teriak-teriak sambil membunyikan klakson mobil sekali. Raras yang tersadar, kembali untuk berpamitan dengan Kak Anggun.

“Maap, kak. Raras buru-buru!” teriak Raras sambil melambaikan tangan pada Kak Anggun yang duduk di kursi kemudi. Tanpa menghiraukan Kak Anggun lagi, Raras berlari masuk ke gedung sekolah. Raras langsung mendekati loker nomor 7 dan segera memasukkan kunci yang sejak dari rumah sudah ada di genggaman Raras ke dalam lubang loker nomor 7. Seperti biasa, Raras harus bersusah payah hingga akhirnya loker terbuka. Raras memasukkan secarik kertas yang sudah ia siapkan setelah mandi tadi ke dalam loker yang kosong itu lalu menutup loker tanpa menguncinya.

Sekitar dua menit kemudian, Raras membuka loker dan menemukan secarik kertas. Raras membuka kertas itu dengan kecewa, karena kertas itu masih kertas yang sama yang tadi Raras masukkan. Begitu di menit-menit kemudian, hingga bel tanda masuk berbunyi. Beberapa temannya heran melihat tingkah Raras yang membuka tutup loker itu sedari tadi tapi, Raras tak peduli. Setiap ditanya, ia akan menjawab seenaknya hingga mereka kesal sendiri dan tak ingin bertanya apa-apa.

Satu jam kemudian, pada tengah pelajaran, Raras sengaja minta ijin ke toilet dan mencuri waktu untuk memeriksa isi loker. Tapi lagi-lagi kekecewaan yang ada pada dirinya. Kertas yang ia temukan masih kertas yang sama. Suratnya belum dibalas.

^^^
10:11

Raras dengan cepat menyusuri data-data pribadi siswa di perpustakaan. Ia tengah mencari di buku masuk sekolah tahun 2003. Setiap nama yang mengandung nama ‘Laras’ segera Raras catat di diary yang baru ia beli beberapa minggu yang lalu. Tapi, setelah menemukan 2 nama, Raras terhenti mencari sambil berpikir.

“Kalau nama Laras lebih dari satu, percuma saja,” gumam Raras kemudian.

^^^
25 Agustus 2010, Rabu
10:05

Raras tersenyum membaca surat balasan yang baru ia ambil dari dalam loker nomor 7. Tadi pagi ketika Raras memeriksa loker, masih berisi kertas yang sama seperti kemarin.

saya juga bersumpah saat ini tahun 2003.
mendapat suratmu, saya jadi mulai berpikir kalo loker ini seperti pintu ajaib doraemon.

sungguh saya masih tidak percaya, tapi jika itu benar, bagaimana 2010?

oh ya, saya menempel kalender kecil tahun 2003. apa juga tertempel disana?


Raras segera melirik isi loker. di pintu bagian dalam tertempel kalender kecil tahun 2003 yang bergambar kepala beruang kutub putih berukuran besar dengan sedikit langit di bagian atas kepala beruang itu. Raras takjub agak lama dengan apa yang terjadi. Mata dan jemarinya tak henti fokus pada kalender itu. Setelah puas mengusap-usap kalender, Raras teringat untuk segera membalas surat itu.

sepertinya memang benar loker ini bekerja seperti pintu doraemon.

fantastik! kalender kecil bergambar beruang kutub putih tertempel di pintu bagian dalam loker.

Preseiden sekarang adalah Bapak Susilo bambang Yudhoyono. Kalau diingat-ingat, tahun 2003 masih Ibu Megawati?


tepat setelah bel tanda istirahat telah usai, Raras membuka loker nomor 7 dan menemukan surat balasan.

wow! kalender itu tidak hilang seperti surat kita. kalender yang baru saja saya tempel juga masih menempel di loker saya

susilo bambang yudhoyono? wajahnya memang mulai sering muncul di tv

saya percaya 100% sekarang.
apa kamu murid baru di tahun itu? saya murid baru di tahun saya sekarang. sepertinya kelas kita sama, mengingat loker kita sama



***
18 Desember 2010, Sabtu
11:00

Pembagian raport sekolah hari ini sungguh tidak Raras pedulikan seperti pembagiam raport tahun-tahun sebelumnya. Ia bahkan tidak tahu tentang nilai metematikanya tepat di nilai KKM kalau saja Kak Anggun tidak mengomel. Kak Anggun terus saja memeriksa hasil nilai Raras sambil mengomentarinya satu persatu.

“Di rumah saja, bisa, tidak? Raras ingin segera sampai rumah sekarang,” mohon Raras sambil mengambil raport dari tangan Kak Anggun. Kak Anggun mengomel sebentar tentang sikap Raras barusan sebelum akhirnya menyalakan mesin mobil.

Dalam perjalanan, Raras gelisah, ingin segera membaca surat-surat Laras yang lebih banyak ketimbang hari biasanya. Kemarin Raras bercerita kalau hari ini adalah hari pembagian raport dan akan masuk tanggal 3 januari 2011 mendatang. Agar tidak menimbulkan kecurigaan dan tetap menjaga rahasia, Raras tidak mungkin ada di sekolah dua minggu ke depan untuk berkirim surat dengan Laras.

Sejak hari dimana akhirnya Raras dan Laras mengerti apa yang tengah terjadi, mereka tak pernah berhenti saling mengirimi surat satu sama lain. Raras pun mengembalikan kunci loker nomor 31 dan kembali menggunakan loker nomor 7.

Entah sejak kapan, kejadian hilangnya tas Raras hanya terjadi pada hari itu saja, selanjutnya, loker nomor 7 tidak bisa lagi membawa tas masing-masing ke masa yang berbeda. Hal itu mereka sadari ketika Raras tengah mengirim handphonenya ke dalam loker, atau ketika Laras mengirim ikat rambut yang Laras pakai ketika itu. Sejauh pemahaman mereka, loker 7 hanya mampu menukar tinta. Ya, tinta. Seandainya saja benda dapat bertukar tempat, mereka berdua akan berusaha mampu masuk ke dalam loker yang mustahil untuk diisi oleh tubuh mereka. Selama ini, kertas yang mereka dapat adalah kertas yang sama, hanya saja di atas kertas itu telah berubah wujud menjadi tulisan lain. Tinta warna pada foto juga bisa, sehingga mereka sering sekali bertukar foto.

Raras dan Laras selama ini saling memberi informasi tentang keadaan di tahun mereka masing-masing. Laras tak henti-hentinya berkata bisa menjadi peramal gadungan. Laras bisa mengetahui tentang hal besar yang bisa diingat Raras tentang apa yang akan terjadi di tahun 2003. Maklum saja, di tahun itu, umur Raras masih 9 tahun, banyak yang dilupa, dan hanya hal-hal besar yang Raras ingat. Seperti akan munculnya film Eiffel I’m In Love yang ketika itu, Raras ingat kalau Kak Anggun mengobrol bersama temannya. Atau tentang akan kemunculan kasus Wahyu Hidayat mahasiswa STPDN. Kasus itu merajai televisi di tahun 2003, sehingga Raras masih mengingat kasus tersebut.

Berdasar keterangan Laras, sekolah tidak jauh berbeda dengan tahun 2003, hanya saja, lahan disamping sekolah masih berupa rumah warga, sekarang sudah menjadi kolam renang dan lapangan tenis. Mereka saling memberi foto keadaan tersebut.

“Kak, kita mau kemana?” Pikiran Raras tentang Laras buyar seketika setelah menyadari mereka tidak berada di jalan pulang.

“Makan dulu, laper,” jawab Kak Anggun santai.

“Kenapa tidak makan di rumah saja?” Sungut Raras.

“Makan diluar lebih enak,” jawab Kak Anggun masih santai. Raras menjadi gelisah lagi sekarang. “Kamu kenapa, Ras?”

“Cuma ingin segera sampai rumah,” jawab Raras pelan, pasrah pada akhirnya.

bersambung ...

Read More......