bergeraklah...!!!!

Sesungguhnya alam mengajarkan bahwa kita tak akan pernah bisa berhenti. Meski kita berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak kita mengelilingi matahari.


Air yang tak bergerak lebih cepat usuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin yang tak dinyalakan lebih berdebu. Hanya perkakas yang tidak digunakan yang lebih gampang berkarat.


Alam telah mengajarkan ini. jangan berhenti berkarya, atau kita segera menjadi tua dan tak berguna.


.

.

.

Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 September 2011

Tiba-tiba "berat"


Saya tidak mengerti arti perjuangan, pemberontakan, keadilan/ ketidakadilan, rakyat, pencurian/ penuntutan hak, kewajiban, nasionalis, pergerakan, "politik tai kucing". Saya benar-benar tidak mengerti.

Saya yakin saya adalah manusia pasif yang bergemul dengan pikiran-pikiran saya sendiri. Tidak untuk dibagikan, bahkan tidak untuk dirasa oleh diri sendiri. Sebut saja pasif dan cenderung tidak peduli.

Tak apalah walau saya tak punya hak mengatakan ini. Mungkin akan terlalu kasar, tapi abaikan saja.

Disana arus kotor sudah melebar. Lumpur-lumpurnya mengotori negeri ini (negeri?). Yang menumpahkan, yang memungut, yang membersihkan, yang menonton pun ikut berlumpur. Yang tergerak berteriak-teriak di tepiannya pun juga kotor (mungkin).

Kemanakah ketulusan? Kemanakah keadilan? (keadilan?)

yang berbicara itu bicara : "satu-satunya cara adalah masuk ke dalam lumpur dan memasukkan serta manusia-manusia luhur seperti kita untuk bersedia bergabung".

Pengharapan kosong untuk saat ini. Bicara dan pemikirannya ajaib, gerakannya ajaib juga (mungkin) dan saya masih sebagai penonton dari sini.

Yang paling membuat saya terkadang marah dengan apa yang saya tonton adalah tentang dunia itu yang terinspirasi dari dunia-dunia fiksi yang diciptakan oleh manusia-manusia seberang yang memiliki kitab "skenario". Jujur sama dalam dunia fiksi action, saya lebih tertarik dengan grusak grusuk perebutan kekuasaan antar saudara di kerajaan-kerajaan ketimbang perebutan kekuasaan (kekuasaan?) antar penguasa yang tidak sedarah. Akankah lebih kejam?

Hah, sebut saja "bapak saya" yang sangat saya banggakan. Dada saya sesak jika membayangkan kegiatan pagi, siang, dan malamnya di hotel prodeo (prodeo?). Atau ekspresi-ekspresi dari topeng-topeng seni beserta musik gamelannya. Menonton itu, saya tertawa dengan dada yang sesak. Atau topeng yang diam atau berpura-pura diam yang sebelumnya sudah mengantongi kitab "skenario". Malang sekali penonton. Hebat sekali sang sutradara.

Layarnya pun terkadang berat sebelah, memihak, dan terlalu komersil. Mengikuti arus-arus lumpur yang paling deras mengalir. Padahal lumpur-lumpur itu mengalir ke segala arah, ibarat sudut bola, yang memiliki tak hingga sudutnya.

Kemanakah ketulusan? Kemanakah keadilan? (keadilan?)

dan saya masih sebagai penonton, diam, tak pernah berkomentar sedikitpun. Karena saya sangat tidak tertarik, dan hanya akan menyakitkan dada yang sudah sesak ini.

*setelah tersindir Soe Hok Gie
Read More......

"... Entah mengapa menjadi begitu singkat, sangat singkat..."


Langit selalu menyaksikan saya dari singgasananya disana dan saya hingga saat ini masih melakukan perjalanan ini. Entah mengapa menjadi begitu singkat, sangat singkat terutama ketika menatap sebuah titik. Takut menjatuhkan bola mata di sebuah titik lagi lalu akan kembali merasa begitu singkat, secepat kilat.

Takjum memang, tapi ketakutan kadang menyertainya di belakang. Kantung saya masih sedikit sekali tapi tangan sungguh seperti tertahan untuk memungut semua yang ada untuk memenuhi isi kantung. Begitulah hidup atau begitulah saya? Saya pun tidak mengerti.

Lalu apa setelah hari ini? Apa hanya dengan singkat seperti ketika itu? Lalu mencemaskan saya setelah itu? Huah, mungkin langit tersenyum terkikik membaca pikiran saya dan menggeleng heran dengan reaksi tak berarti dari saya.
Bagaimana ini?
Read More......

hanya kisah saya 13_hujan bulan juni

saya tengah mencoba "trial and error" untuk menghasilkan data yang saya inginkan. SPSS 16.0 lalu microsoft exel lalu SPSS 16.0, lalu exel lagi, begitu terus hingga saya "mabok SPSS" (begitu saya menyebutnya). Sedangkan papa duduk di sofa di depan meja kerja tempat saya mengolah data-data itu.

"ai, beliin papa tolak angin, ai," teriak papa tiba-tiba kepada adik saya yang berada di ruang tv. Adik saya menjawab dengan lemas, mengingatkan saya bahwa ia sedang sakit. Lalu saya mengajukan diri untuk menggantikan adik saya. Papa mengeluarkan uang dan meletakkannya di atas meja.

Hujan kecil turun tiba-tiba, ketika saya baru saja mengambil jaket di kamar. "pa, ujan. Nunggu reda, ya," kata saya.

"di warung yg deket aja, bawa payung. Jadi gak usah naik motor," saran papa, karena saya berniat membelinya di warung yang lebih jauh. Saya tak menghiraukan papa. Saya bertekad kuat ke warung itu saja, naik motor.

Semenit kemudian, hujan berhenti, menyisakan gerimis lembut. Saya berangkat ke warung naik motor. Greng greng greng greng !

Sesampainya di warung, lumayan antri. Saya mendapat antrian ketiga. Tak lama kemudian, tolak angin sudah ada di tangan saya. Saya hendak pulang. Tapi, hujan deras tiba-tiba turun, berkali-kali lipat derasnya dari hujan sebelumnya. Membasahi semuanya, termasuk motor saya. Saya terduduk di bangku depan warung, menatap hujan, air yang mengalir dari jalan menuju halaman warung, dan motor saya yang terpaksa mandi sore.

"wah, hujan ini bakal lama," kata pemilik warung. Saya hanya tersenyum sambil menoleh ke arah langit. Langit sangat hitam, tak menyisakan warna biru sedikitpun. Lalu saya kembali menatap hujan, sekarang tampak menari-nari kian kemari bersama angin. Ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang. Cantik sekali! Saya menjadi semakin cinta hujan. Inilah hujan bulan juni.

Satu dua motor melaju menembus hujan. Ah, iri saya melihat mereka. Saya ingin hujan-hujanan juga.

"mau pulang, dek? Saya pinjami payung, motornya ditinggal aja, nanti papanya suruh ambil," saran pemilik warung.

"gak, om. Nunggu reda aja. Orang rumah lagi pada sakit, takut ikut sakit," jawab saya. Tapi, sedetik kemudian saya berkata dalam hati jika saya ingin menembus hujan saja seperti orang tadi. Hujan-hujanan.

"nunggu reda?" tanya pemilik warung.

"emang bakal lama, ya?" tanya saya sok memastikan. Pemilik warung mengiyakan. Dalam hati saya tersenyum, dan berniat melakukan langkah selanjutnya. "kalo lama, mending pulang sekarang aja," saya sok bergumam, sambil menjulurkan tangan ke depan untuk merasakan hujan melalui telapak tangan saya. Ketika itu, dalam hati saya berkata, hujan, tolong temani saya, teruslah deras sampai lama.

"kan udah keliatan hujan, ngapain di tes pake tangan?" ledek pemilik warung. Saya tersenyum, lalu berlari kecil menuju motor yang diparkir di halaman warung. Menaiki motor, dan melaju menembus hujan dan angin. Wow! Waaaaaaaaaa teriakan saya tidak hanya di dalam hati, saya mengeluarkannya seperti muntahan yang sudah tak tertahankan. Saya membiarkan sensasi kehujanan hingga sampai di depan rumah.

Basah kuyub badan saya, semuanya. Saya turun dari motor, membuka jaket dan menggantungkannya di stang motor, lalu berlari kejalan sambil berteriak 'huuuuuaaa' berkali-kali. Melempar sandal ke teras, lalu berputar-putar di tengah jalan depan rumah. Berlarian kesana-kemari sambil memainkan genangan-genangan air. Merentangkan tangan, menengadahkan wajah untuk menikmati rintikan hujan melalui saraf-saraf pipi, lalu membuka mulut untuk menelan air hujan sebanyak mungkin (saya memilih air hujan yang tidak melewati daun/atap rumah, hanya asli dari langit).

"lily! Nanti kamu sakit!" teriak papa dari dalam rumah. Saya hanya nengir, tak berniat menghentikannya sama sekali.

Setelah itu, kembali berlari kesana-kemari sambil berteriak. Memainkan air yang ada di selokan kecil depan rumah, dimana, airnya penuh dan mengalir deras. Menyiduk airnya dengan kaki dan membuangnya ke atas. Memasukkan daun kering ke air selokan dan berlari mendahului daun menuju hilir. Huuuuuaaaah, senangnya sore ini! Senangnya sore ini! Teriak saya dalam hati.

Tamu tetangga sebelah keluar rumah mengintip saya, tapi tidak saya pedulikan. Anaknya yang kira-kira berusia 6 tahun menatap saya dengan wajah sangat iri, juga tak saya pedulikan. Akhirnya saya hujan-hujanan. Hujan bulan juni.

Sekarang, setelah mandi, dengan kepala berbalut handuk, saya merasakan sakit kepala. Cenat-cenut.

Langit, terima kasih untuk hujannya sore ini. Hujan bulan juni akhirnya membuat saya senang, membuat penat akan data-data tadi terlupakan. Saya senang sekali sore ini.

Langit, terima kasih untuk hujannya!
:D
Read More......

hanya kisah saya 12

Ini ujian SPMB pertama. 30 menit menuju jam 8 pagi, Saya dan beberapa rekan disuruh masuk ke ruang ujian. Waktu itu, saya ujian di gedung fisiks FMIPA lantai 1, tepat di bawah tangga besi berputar (itu ruang kelas berapa ya?).

Karena lagi males nulis, saya persingkat saja ...
:D

setelah 3/4 waktu ujian berlalu, seorang dosen pengawas berjilbab n berkacamata tebal berkeliling kelas, hingga tiba kepada saya. Dia berdiri disamping saya dan mengamati kertas ujian saya. Tiba-tiba ...

"kok dikit amat ngerjainnya? Soalnya susah2 ya?! Yang lain penuh..." suara lantang beliau di tengah kesunyian ujian membuat petir tiba-tiba datang.

Semua orang memandang saya, menoleh ke arah saya, sambil senyum. Saya menggerutu berkali-kali dengan dosen pengawas itu. Dikit emang dikit, tapi jangan dipublikasikan, dong, bu! Saya memang gak pinter, tapi jangan dipublikasikan, dong, bu!

Saya diam menunduk, lalu setelah ibu pengawas ke calon mahasiswa lain, saya menoleh ke kertas anak2 lain. Ternyata mereka penuh semua. Kanan, kiri, sebelahnya kanan, sebelahnya kiri. Waaaah, mereka bisa, kenapa saya tidak bisa? Akhirnya saya kembali mengotak-atik soal lagi dengan lebih giat.

Musik patah hati terdengar,"jreng jreng jreng". Tetep gak bisa. Cuma segitu yang yang saya bisa. Saya hanya memandangi kertas ujian saya.

Akhirnya saya putuskan pasrah saja. Biarlah orang berkata apa, aaaaaa. Manusia tiada yang sempurna, aaaaaaa. Kuterima kau apa adanya...

Menit2 selanjutnya saya bosan dan tidak berniat menyentuh soal lagi. Punggung yang tadinya kaku saya sandarkan pada kursi, dan mulai mengajak mata berkeliling melihat rekan2 seperjuangan. Dari depan, sampai belakang. Eits, mata saya berhenti pada rekan yang ada di belakang saya (tidak tepat, tapi serong ke kanan). Dia tampak melirik kertas jawaban saya, lalu mengisi di lembar jawabannya. Lalu melihat kertas jawaban saya, lalu kembali mengisi kertas jawabannya. Dia tidak menyadari tatapan saya. Saya membalikkan kertas jawaban, dan pada akhirnya kami bertatap mata. Dia nyengir lalu pura-pura ikut berkeliling mata. Huh! Dasar!

Pengumuman satu bulan kemudian. Saya bernazar...

Horeeee!! Saya lulus. Dari 60 calon mahasiswa di ruangan itu, 4 orang lulus. 2 orang di deretan depan, saya di deretan tengah, dan satu orang lagi, dia masuk jurusan penjaskes. Saya liat nomornya, tidak jauh dari saya, saya hitung sesuai bangku, akhirnya saya meyakinkan diri, anak yang kemarin asik sedang menyontek saya, lulus. Huuuuuuuu

saya cek ulang pengumuman itu, benar-benar hanya empat orang. Calon mahasiswa yang duduk di sebelah kanan kiri saya (waktu itu jawabannya penuh) tidak lulus.
Hemmm, rasanya ingin berteriak bahagia kepada dosen pengawas itu. Saya memang bisa ngerjain soal sedikit, tapi saya lulus, bu! Saya lulus!
Read More......

hanya kisah saya_11

setelah turun dari bus, dengan lunglai saya berjalan di jalan setapak menuju rumah saya. Langit sore masih tampak cerah namun sengatan matahari terhalangi awan, sehingga tidak terlalu panas. Walau terasa gerah juga.

Senangnya ketika pagar tembok abu-abu sudah nampak mata, sebentar lagi tiba. Ingin segera rebahan, karena lelah badan dan pikiran akibat pembicaraan di kampus tadi. 20 meter lagi sampai di depan pintu gerbang.

"mbak! Mbak! Mbak!" suara laki2 terdengar. Saya menoleh ke belakang. Laki2 itu mengendarai sepeda motor.

Saya membalas senyumnya, karena saya berpikir dia mengenal saya. Atau dia tetangga yang belum saya kenal? Karena beberapa tahun ini memang banyak warga baru dan saya sudah jarang sekali keluar rumah untuk sekedar bercengkrama dengan para tetangga.

"pulang kuliah, ya?" teriaknya sambil berusaha mendekat ke arah saya. Saya mengiyakan sambil senyum seramah mungkin.

"semester berapa?" tanyanya setelah menghentikan motornya di samping saya. Saya jawab kalau sudah semester delapan.

"namanya siapa sih?" tanyanya. Saya mulai bingung, tapi saya jawab juga nama saya.

"kenalin, aku andi" katanya sambil mengajak berjabat tangan. Saya mulai curiga, jangan2 sebenarnya memang saya tidak mengenal dia. Saya mulai berpikir dia punya niat menghipnotis saya, sehingga saya membuang pandangan mata saya ke bawah, ketika ia menatap mata saya. Saya meraih jabatan tangannya sebentar.

"rumahnya mana?" tanya dia lagi. Saya ber'hah' ria, dan dengan terbata saya jawab "itu di depan, sebentar lagi,"

"yang mana?"

"yg abu2" jawab saya makin bingung.

"yang abu-abu mana?"

"ya yang itu,"

"oh, yang abu2 putih ya?" tanyanya. Saya mengiyakan lagi. Makin bingung sekarang.

"aku main, ya," pintanya kemudian. Hah? Gila ya ni orang?

"masih capek, mas, baru pulang,"

"nanti malem, ya?" pintanya lagi. Saya menjawab hah pertama, lalu selanjutnya saya bilang terserah dia.

"ya udah, nanti malem. Sekarang aku pulang, ya," katanya sambil berbalik dengan motornya. Hah? Gila apa ya tuh orang. Lalu dia pergi, meninggalkan saya yang kebingungan.

Saya melanjutkan sisa perjalanan saya menuju rumah, dengan kebingungan. Saya masuk, lalu menjatuhkan diri di sofa ruang tv, masih kebingungan. Tak percaya dengan apa yang barusan terjadi.

Dia penjahat bukan, ya? Apa dia mau merekrut lily jadi anggota NII?

Selanjutnya saya menjadi takut dan kebingungan.

Hari yang aneh, kan? Orang itu aneh, kan?

Read More......

Selasa, 18 Januari 2011

tentang bintang

lama setelah awan mendung menutupi langit, hingga tak bisa lagi langit menyuguhkan panorama kerlap-kerlip bintang. akhirnya malam ini ada satu bintang yang menyapa. bintang yang tidak asing, yang pernah dikenal dahulu. lalu, bagaimana mensyukurinya??

ketika sang bintang bersikap ramah, tapi biasa, tapi sangat menggetarkan. mungkin karena terlalu lama mendung atau mungkin sudah terlalu jenuh akan hujan...

be a great star
be a superstar in the sky

mungkin akan merindukan bintang lagi
Read More......

pertanyaan dalam hati, apakah hati yang menjawab juga?

ia terdiam membaca satu kata dalam kalimat-kalimat itu. Sungguh tidak tahu apa yang sedang Tuhan pesankan melalui kata itu dan matanya. saat ini, sungguh ia berkata pada Tuhannya. Sangat tidak adil ketika ia yang tidak tahu apa-apa harus bertanya sendiri. ia sangat butuh jawaban Tuhan.

jauh ia telah mengagumi bintang. tuhan tahu itu dan semua tahu itu. bahkan tanpa disadari ia melebihinya. ini yang disebut cinta. hahaaaa cinta. "rayuan gombal". tapi sungguh sudah terlalu jauh. hanya itu yang bisa ia rasa dan ia sadari. "sudah terlalu jauh" <<< "sudah terlalu dalam"

tidak lima detik kemudian hilang, tapi puluhan ribu detik yang lalu, ia akan membiarkan hati dan pikiran untuk menghentikannya. karena ia yang tidak tahu apa-apa itu terpaksa menafsirkan kalau ia tak boleh lebih dalam lagi, berakhir. lalu dia meratapi sendiri akan penafsiran dan keputusannya.

beberapa ratus detik lalu satu kata muncul di suatu malam yang biasa, tapi tak terduga. ia yang tak tahu apa-apa menangis seperti hujan tadi sore. deras. karena lagi-lagi Tuhan membiarkan ia menafsirkannya lagi. karena tak tahu bagaimana TUhan akan menjawab.

pertanyaan hati, apakah hati yang menjawab juga?

jika hanya kebetulan, bukankah ini jawaban Tuhan? dan memebiarkanku dalam kalimat "sudah terlalu jauh"?

jika disengaja, bukankah ini jawaban Tuhan, jawaban hati, dan jawabannya? bahwa ia menginginkan topik sama, karena ada yang mendoakannya, dan mengirimi surat cinta melalui Tuhannya? dan membiarkanku dalam kalimat "sudah terlalu jauh"?

lalu ia menghardik padanya, melalui hati, dalam hati. tak akan tersampaikan.

"hentikan semua ini! sungguh saya hanya penafsir amatiran yang bergerak karena hati, mimpi, dan harapan. Saya tak tahu bagaimana jawaban Tuhan. lihat saya, saya menangisi anda, tulisan anda, dan segalanya karena anda, tolong,"

lalu sungguh tak akan tersampaikan. ia yang tidak tahu apa-apa masih tetap tak tahu apa-apa.
Read More......

saya yang mundur

jika cerita kita sama,
entah disengaja atau tidak sengaja (campur tangan Tuhan).
saya yang mundur, tak ingin menceritakannya lagi
saya ijinkan anda untuk bercerita tentang itu
saya hanya akan mengamati dan menutup rapat mulut dan jemari
saya ijinkan anda, sekarang

apa anda dekat dengan Tuhan?
bisa sampaikan pertanyaan saya?

"Apa ini pesan_Mu? lalu apa yang harus saya lakukan?"

terima kasih jika anda mau menyampaikannya

:) <<<<< tersenyum
Read More......

setelah jawab_Mu

Kau pun menjawab
ketika Kau gemas dengan penharapanku
sungguh Tuhan, aku pun begitu

setelah jawab_Mu
aku ingin tertawa, meratapi kebodohanku
lalu tersenyum, untuk penetapannya,
disini, detik ini, aku lakukan
ya...!!

lalu Tuhan, perlihatkan aku sesuatu yang lain
agar aku tak merasa terpuruk ataupun terburuk
aku tahu, kasih_Mu lebih dari yang kukira
tak apa jika tak sekarang,
bisakah kumohonkan untuk "segera"?

_ketika termenung dan meratapi_

10-10-2010, 08:10
Read More......

akhir-akhir ini langit sangat puitis

tiba-tiba langit menjadi puitis. ketika hujan, selalu saja ada yang diceritakan. ketika panas terik pun begitu bahkan ketika langit sekedar kelabu. langit malam yang biasanya hanya malam, mendadak menjadi puitis sekali. langit biru bersama mentari pagi, atau langit yang keputihan bersama awan, tak ada yang diam untuk menyapa dengan ceritanya. ada apa dengan langit hari akhir-akhir ini?

bunga, dia yang namanya tak ingin disebut tengah menyadarinya. pesan-pesan puitis tiap kali ia terima dengan pertanyaan yang sama, selalu begitu. ada apa dengan langit akhir-akhir ini?

di depan pintu ia duduk suatu waktu, membiarkan cahaya pagi menyapa selama bererapa menit. diam disana, siap menerima pesan puitis selanjutnya. terkadang ia membentuk lekungan bibir penuh ratap, terkadang lekungan indah kebahagiaan. sekarang aku yang akan bertanya heran. ada apa dengan langit dan dia akhir-akhir ini?

aku terpaksa mengamati langit karena dia. atau mengamati dia saja. aku menerima pesan puitis itu, layaknya bunga. tapi bibirku hanya menggambarkan satu, bukan ratapan atau kebahagiaan, tapi kebimbangan. ada apa dengan langit dan dia akhir-akhir ini?
Read More......

ijinkan aku tersenyum malam ini. mungkin nanti angkuh yang membuatnya jera, lalu tak ada waktu untuk tersenyum

Tuhan, tiba-tiba aku ingin segera hujan
akankah aku mendapatkannya?
jika saat itu benar-benar datang, jangan tanya untuk apa kemudian aku berlari

Kau sangat tahu
gelas ini sudah kugenggam, meringkuk dalam pelukan harap
akan kuisi dengan air hujan nanti, bersiap-siap

esok pagi, kah? siang hari kah?
oh, jika malam ini, injinkan aku tetap terjaga menunggu hujan
atau jika tak sengaja terlalu lelah,
bisakah Kau berperan membangunkanku?
gelas ini sudah kugenggam, meringkuk dalam pelukan harap
akan kuisi dengan air hujan nanti, bersiap-siap

atau jika masih lama hujan datang
jangan biarkan aku berangkuh-maruh
aku ingin mengisinya dengan air dari langit itu
Read More......

ijinkan aku tersenyum malam ini. mungkin nanti angkuh yang membuatnya jera ... bag.2

terbangun dari tidur :

hari ini hujan, ketika bangun, hujan di luar sana
hari ini hujan, ketika sore, hujan di luar sana
sekarang langit mendung
mungkin malam nanti akan hujan (lagi)?

apa pesan Tuhan?

antara bahagia dan tidak ketika tersadar hujan
semalam aku ingin hujan, Dia datangkan hujan
(anggapanku) Dia datangkan hujan untuk aku

apa pesan Tuhan?

tapi ketika itu aku hanya terdiam, memandang keluar jendela
melalui celah gorden yang menggantung
gelas itu masih kosong
aku tak berlari kemudian
Read More......

langit, puitis, romantis, tulisan, hujan, (sepi)

langit begitu puitis akhir-akhir ini dan suasana romantis tiba-tiba dirindukan. sudah menonton drama romantis buatan korea selatan, dan membaca novel romantis, tapi masih terasa dirindukan. lalu bertanya kembali dalam hati, apa yang harus dilakukan?

seperti wabah yang mendera otak dan saraf-saraf jemari, tulisan-tulisan tercipta lebih produktif dari sebelumnya yang mati. semua rasa dapat tertuang dari setiap-setiap kejadian. yang memilukan, yang membahagiakan, yang membingungkan, sampai yang biasa-biasa saja. ya, karena itu langit begitu puitis akhir-akhir ini. langit yang memberikan energinya seperti wabah-wabah itu.

lalu hujan. tiba-tiba sangat tertarik akan hujan, alih-alih sangat menginginkan salju dan keromantisan. heummm, tapi rasanya bukan. tapi suasana dingin, bukan panas gerah di akhir-akhir hari yang lalu. ah, entahlah, ketertarikan itu muncul sebagai tak terduga karena tak ada yang tahu apa penyebabnya.

setelah membaca beberapa tulisan-tulisan itu, sepertinya hujan menggambarkan sepi. hey! itukah?

ah, entahlah, biarkan tak ada yang menjawab dan tak ada jawaban. tak ingin jawaban!

menarik sekali semuanya. kita akumulasikan. langit, puitis, romantis, tulisan, hujan, sepi. kasian sekali kata terakhir itu. akan diganti.

langit begitu puitis akhir-akhir ini dan suasana romantis tiba-tiba dirindukan. sudah menonton drama romantis buatan korea selatan, dan membaca novel romantis, tapi masih terasa dirindukan. lalu bertanya kembali dalam hati, apa yang harus dilakukan?

seperti wabah yang mendera otak dan saraf-saraf jemari, tulisan-tulisan tercipta lebih produktif dari sebelumnya yang mati. semua rasa dapat tertuang dari setiap-setiap kejadian. yang memilukan, yang membahagiakan, yang membingungkan, sampai yang biasa-biasa saja. ya, karena itu langit begitu puitis akhir-akhir ini. langit yang memberikan energinya seperti wabah-wabah itu.

lalu hujan. tiba-tiba sangat tertarik akan hujan, alih-alih sangat menginginkan salju dan keromantisan. heummm, tapi rasanya bukan. tapi suasana dingin, bukan panas gerah di akhir-akhir hari yang lalu. ah, entahlah, ketertarikan itu muncul sebagai tak terduga karena tak ada yang tahu apa penyebabnya. sungguh, hujan ya hujan.

oktober, 2010 at 13
Read More......

siapa mau bergerak di belakang? diijinkan untuk mengikuti jejak-jejak kosong ini

pada kenyataannya di akhir cerita, lily adalah lily. tapi cerita apa yang tengah di bicarakan, ya?

heummm susah sekali mengerti diri sendiri, sesusah remaja-remaja yang begajulan, banyak omong, dan menuang keeksistensian dimana-mana (dibaca:pencarian jati diri). padahal seharusnya sudah melewati tahap itu, tapi itulah sekarang. yang kecil cepat dewasa, yang besar mudah mengecil dan kekanak-kanakan. sepertinya tak ada yang diam menetap. bosan mungkin, mungkin bosan. apa pun itu, semuanya ada, nyata, tercipta, dan akuilah itu.

jangan percaya apa yang dikatakan, bukan bermaksud menipu, tapi usaha inilah yang membahagiakan untuk melupakan kegilaan yang tengah meradang. haiiiiiaaaah..... (pose jurus bangau)

sekarang tersenyum saja, nikmati saja, melihat saja kelakuan-kelakuan itu. suatu saat, pada kenyataannya di akhir cerita, lily adalah lily. setelah bosan akan diakhiri, atau setelah semakin gila. hahaaaaa atau mau tertawa terkekeh-kekeh? terserah saja, sesuai kehendak hati, asal jangan memaksa lalu berteriak untuk berhenti. haiiiiiiaaaaaah .... (pose jurus katak melompat) <<<< akan berbuat demikian dan bicara "diam!" atau "mati!"

siapa mau bergerak di belakang? diijinkan untuk mengikuti jejak-jejak kosong ini. lalu boleh ajak saya tertawa bersama, tak harus dengan alasan jelas, akan tetap diijinkan karena penerimaan akan ada seutuhnya, kapan pun,dimana pun. hohooooo
Read More......

langit, sampaikan saja salamku untuknya, aku tahu, kau pun menginginkan segala kebaikan di setiap harinya

langit, sampaikan saja salamku untuknya, aku tahu, kau pun menginginkan segala kebaikan di setiap harinya. mari bersama berbahagia dan membahagiakan dia. kau bisa dengan memberikannya gunung, laut, kopi, hujan, malam, persahabatan, malam, bulan, dan aku akan memberikannya doa keselamatan.

tak ingin menyapa, atau pura-pura (tak) merindukannya, lalu mengenang perjalanan-perjalanan yang ternyata hanya dikenang olehku saja, olehku saja, olehku saja. jadi, sampaikan saja salamku untuknya, tanpa memo, tanpa nama tera, tanpa materai, tanpa tanda tangan, bilang saja “bunga”, dia yang namanya tak ingin disebut menitipkan salam untuknya.

jangan merasa direpotkan. kau menyayangiku seperti kau menyayanginya. seperti si awal tadi, kita sama-sama menginginkan segala kebaikan di setiap harinya dan setiap hariku. jika kusampaikan sendiri salamku untuknya, takut segala kebaikan dan kebahagiaan tak berkunjung kepadaku atau dia. lalu kau akan marah lagi, melihat aku meraung, merajuk, seperti beberapa waktu itu.

salam ***** <<<<<<< sampaikan yang ini
Read More......

kata "sama"

apa kau selalu mengamatiku?

hai bintang, kau seperti tahu apa yang kukatakan,
jika tidak, bukankah ini ada peran Tuhan?
boleh kah aku menafsirkan ala amatiran yang penuh asa seperti ini?

berhentilah “sama”,
tolong hentikan semua “sama” ini,
tau? aku sedang merasa teramati sekarang,
dan akan menyakitkan jika aku adalah benar-benar seorang amatir,

hai bintang, baca lah note ini,
ini untuk bintang, “my superstar”,
atau jika tidak bisa membaca, mintalah makhluk lain untuk membacanya,
sungguh, note ini untuk bintang,

aku benar-benar ingin menghentikan “sama” ini,
aku sungguh tak sanggup berperan menjadi penafsir amatir,
aku tak sanggup, sungguh
Read More......

bukan apa-apa

tolong jangan begini. aku pun tak punya kekuatan untuk bertanya. tanyaku hanya mampu terucap seperti bisik, dan seringkali hanya berada jauh di dalam hati dan hampir setiap pertanyaannya, dijawab oleh hati juga. tolong buka lebar jendela itu, agar aku, dan orang-orang yang peduli bisa melihat semuanya.

apa kau akan membiarkan seperti ini hingga akhir tahun? atau bulan selanjutnya? aku tak mampu menangis sendiri selalu. Aku tak mampu menemukan dada yang selalu sesak ketika diam. Ya, aku memang terlalu tinggi untuk mengakui semua rasa, dan sangat berharap kau bisa mengerti.

Aku terlalu sulit, seperti memiliki “energi ionisasi” yang sangat tinggi dan “afinitas” yang sangat kecil. Tuhan, hal indah apa di kemudian hari dengan aku yang seperti ini? Sepertinya Kau mengijinkan aku untuk merasakan dan menangisi hingga beberapa waktu nanti.

Oktober, 2010
Read More......

tidakkah benar-benar terlihat? atau memang tidak ada kesungguhan?

merasakan apa-apa dan apa yang dipikirkan ketika itu? merasa sepertinya sudah tidak angkuh, tapi apa yang salah, aku sama sekali tidak tahu. bingung. ketika itu aku membuka gelas-gelas yang ada. oh, aku lupa, kalau itu masih tersembunyi. tidakkah benar-benar terlihat? atau memang tidak ada kesungguhan? heuh, kejam sekali

kesal sekali melihat apa yang terjadi sekarang. setiap kali begini akhir dari kisah. bosan. bosan. sangat jenuh.

rasanya ingin hujan lalu hujan-hujanan seperti masa kecil. rasanya ingin hujan lalu melompat-lompat menghindari genangan-genangan air. rasanya ingin hujan lalu membiarkan basah seluruh kepala. rasanya ingin hujan lalu menepis tiap air yang membasahi seluruh muka. rasanya ingin hujan lalu menari-nari lucu di dalamnya. rasanya ingin hujan sekarang. ingin hujan. hujan.

atau buruk yang terlihat ketika itu, sehingga begini. aaaaaahhhh, seharusnya tidak berpikir seperti ini.

ketika itu ada rasa bahagia yang hanya aku selipkan dalam diam. tidak bicara dengan siapa pun, karena rasanya senang jika hanya sendiri (atau takut bahagia itu sekilas datang lalu pergi, atau takut sebenarnya tidak ada rasa bahagia). heummm ingin sekali mengendurkan otot-otot ini untuk bertanya saja.

jadi tertawa sendiri sekarang. menertawai diri sendiri. seru ketika dicoba. jadi tertawa dulu ah. hahahaaaaaa. lagi. hahahaaaaaa. lagi. hahahaaaaa. sekali lagi. hahahaaaaaaaa

A : malang sekali nasibmu, hawa.
B : merasa kasihan dengan diri
A : kasihan kau
B : kapan datang?
A : sampai kapan memang?
B : beuhhhhh malah bertanya
A : hahahaaaaaa
B : tertawa?
A : hahhaaaaaaa
B : hahahaaaaa
Read More......

biga, nan jeongmal bileul salanghagedoemyeon

biga, nan jeongmal bileul salanghagedoemyeon....
비가, 난 정말 비를 사랑하게되면.....
ketika hujan, saya sangat cinta hujan

hujan sekarang. hujan sedari sore hingga sekarang. sayang sekali, hanya bisa mendengarnya dari dalam kamar, atau melihatnya dari teras, atau yang paling baik dari aku dan hujan sore ini adalah menadahkan banyak air hujan ke telapak tangan, sampai penuh. sayang sekali, tidak hujan-hujanan.

karena merasa sudah besar, malu dibilang ke kanak-kanakan atau malu dibilang “india” ketika berlari keluar, tanpa payung, tanpa jas hujan, di dalam hujan. ah, sayang sekali aku merasa sudah besar. ah, sayang sekali aku bukan seorang anak kecil yang tak punya malu.

ingin rasanya sekarang pura-pura kehujanan. pura-pura pergi dan lupa bawa payung. pura-pura buru-buru ingin pulang sehingga tak perlu menunggu reda. ingin sekali. ah, aneh sekali kisah aku dan hujan ini.
Read More......

hujan

Sejak hari itu, setiap baru bangun pagi, masih di atas ranjang, bahkan terkadang masih terpejam, aku berdoa agar turun hujan. Hujan, akhir-akhir ini tampak begitu indah. Hujan satu-satunya yang bisa membuat aku merasa bahagia kini. Hujan yang mampu menutupi semua kegalauan dan rasa ingin menangis. Betapa tidak, aku bisa tersenyum, menari, melompat-lompat, di dalam hujan, tanpa ia protes dan menghina sedikitpun. Dan makin hari, aku makin cinta hujan. Hari ini, hujan lagi, kah?

Entah sampai kapan kecintaan akan hujan akan memudar. Mungkin sampai aku akhirnya hujan-hujanan (lagi). Setiap kali hujan, aku tak ingin bawa payung, aku ingin terburu-buru mengejar waktu. Aku ingin pura-pura terpaksa kehujanan, lalu basah semua bajuku, kepalaku, kakiku, semuanya. Pura-pura mengeluh ketika dilihat orang, padahal dalam hati tersenyum bahagia. Tersenyum sangat bahagia. (kapan saat itu?)

Sekarang pun, aku tak peduli gelas-gelas itu. Aku tak peduli hujan akan mengisi gelas-gelas yang kugenggam namun tersembunyi itu. Aku sungguh tak peduli. Aku hanya ingin membiarkan hujan membasahi semuanya. Semuanya. Lalu, akan turun hujan, kan?
Read More......