bergeraklah...!!!!

Sesungguhnya alam mengajarkan bahwa kita tak akan pernah bisa berhenti. Meski kita berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak kita mengelilingi matahari.


Air yang tak bergerak lebih cepat usuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin yang tak dinyalakan lebih berdebu. Hanya perkakas yang tidak digunakan yang lebih gampang berkarat.


Alam telah mengajarkan ini. jangan berhenti berkarya, atau kita segera menjadi tua dan tak berguna.


.

.

.

Sabtu, 09 Juli 2011

SESAL

Bising sekali. Klakson dan deru mobil-mobil, obrolan orang-orang, tangisan, teriakan dari satu dua perempuan, dan beribu pertanyaan yang terlontar kepada saya. Beberapa menit saya tersadar dari pingsan, akhirnya saya ingat kejadian yang baru saja terjadi. Saya bergegas bangkit untuk duduk dari posisi tidur di pinggir trotoar. Kepala menjadi pusing sekali, sedikit perih di dahi sebelah kiri, dan ketika saya sentuh dengan tangan, terasa sangat perih dan berdarah. Kepala saya terbentur aspal ketika terlempar tadi.

sirine polisi dari kejauhan makin membuat bising malam ini. Setelah mobil polisi berhenti, mereka segera mendekat sebuah mobil yang tergeletak sedikit hancur di bagian depan akibat menabrak belakang truk. Rupanya mobil menghantam truk dari belakang. Melihat itu, saya berlari menghampiri mobil bersama dimana dua polisi ikut membantu beberapa warga untuk mengeluarkan sopir yang tidak sadarkan diri untuk keluar dari mobil. Itu suami saya, Rama. Mata saya dengan cepat melirik jok tengah, mencari Tyo, anak laki-laki saya. Diaman Tyo?

“Tyo?” Panggil saya sambil memutar pelan tubuh saya sendiri untuk melihat sekeliling. Saya kembali memanggil namanya berkali-kali, tapi tak saya temukan. Hingga pada panggilan berikutnya, sirine ambulans membuat suara saya tak bisa saya dengar oleh telinga saya sendiri.

30 menit yang lalu ...

***

Saya menggedor pintu apartemen pada ahirnya ketika pintu tak terbuka setelah menekan bel berkali-kali. Penjaga gedung segera menghampiri pintu beberapa detik kemudian setelah saya meminta bantuannya tadi. Penjaga gedung bergegas membuka pintu apartemen, dan saya dengan cepat masuk ke dalam mencari Tyo yang mungkin sekarang sedang sekarat. Hampir satu jam yang lalu Tyo menelepon saya kalau perutnya sakit sekali dan setelah itu telepon rumah tak diangkat, handphone Rama tak juga diangkat.

Saya segera meminta penjaga gedung untuk mengangkat Tyo keluar ketika saya menemukan Tyo tak sadarkan diri di lantai depan pintu ruang kerja Rama. Ketika penjaga gedung berusaha menggendong Tyo, pintu ruang kerja terbuka. Wajah Rama yang kusut tampak dari dalam sana.

“Tyo! Ada apa ini?” Teriak Rama kemudian. Rama segera menghampiri Tyo dan berlari sambil menggendong Tyo keluar rumah. Saya bergegas mengikutinya di belakang. Ke pintu depan, ke tempat parkir dimana mobil saya sudah stand by disana. Saya dengan cepat membuka pintu tengah agar Tyo bisa dibaringkan disana. Rama dengan cepat mengambil kunci mobil saya dan masuk ke jok kemudi. Mobil melaju setelah saya duduk di kursi samping kemudi.

“Dari tadi kamu ngapain di dalem? Tyo sampe nelpon saya karena perutnya sakit,” tanya saya dengan suara marah.

“Saya... saya gak dengar,” jawab Rama dengan terbata. “Apa dia pingsan dari tadi? Udah berapa lama?” Tanya Rama dengan nada cemas dan penuh penyesalan.

“Kamu tanya sama saya? Yang dirumah sama Tyo siapa?” Bentak saya kemudian karena kesal dengan pertanyaan konyolnya. “Besok Tyo tinggal sama saya,”

“Itu urusan nanti. Sempat, ya, di saat genting begini bilang tentang Tyo harus tinggal sama siapa,”

“Kalau kamu gak asik sama kerjaan kamu, kalo kamu inget sama anak kamu, Tyo gak akan seperti ini, Ram. Saya makin kesal kalau kamu sok lebih memperhatikan Tyo,”

“Hati-hati dengan mulut kamu, Rani! Siapa yang pergi dari rumah? Siapa yang kabur meninggalkan Tyo? Kamu juga jangan sok sayang sama Tyo,”

“Berhenti! Turun dari mobil sekarang. Biar saya sendiri yang bawa Tyo ke rumah sakit. Tyo gak butuh papa seperti kamu,” pinta saya kemudian.

“Apa-apaan ini? Keadaan Tyo genting dan kamu berpikir tentang hal yang gak penting seperti tadi? Sebaiknya kamu yang turun kalau ego kamu masih begitu,”

“Berhenti! Minggir!” Teriak saya akhirnya karena kesal. Dada saya semakin kesal mendengar perkataan Rama. Tapi, Rama sama sekali tak mengindahkan permintaan saya.

“Papa, perut Tyo sakit,” rengekan Tyo tiba-tiba terdengar. Saya dengan cepat menoleh ke arah Tyo yang terbaring sambil meringis kesakitan. Saya melepas sabuk pengaman, dan berusaha melompat ke jok tengah untuk memeluk Tyo, anak kesayangan saya yang baru masuk TK B. “Papa, sakit. Papa,”

“Iya, sayang, sebentar lagi sampai rumah sakit. Ini mama sayang, mama disini,”

“Papa, sakit. Papa,” rintih Tyo pelan.

“Sebentar lagi kita sampai rumah sakit. Tahan, ya, nak. Sebentar lagi,” Rama ikut bersuara menenangkan Tyo.

“Papa,” rintih Tyo lagi.

“Sebulan sama kamu, Tyo makan mi instan terus ya? Saya tahu kamu sudah berhenti kerja dua minggu yang lalu. Kalau kamu tidak mampu mengurus Tyo, seharusnya kamu serahkan dia sama saya,”

“Rani!” Teriak Rama marah.

“Dia juga seharusnya istirahat. Beberapa hari ini kamu ajak dia jalan-jalan, kan? Saya benar kalau kamu memang tidak akan pernah peduli sama Tyo, sama keluarga kamu sendiri,”

“Rani!” teriak Rama lagi lalu tiba-tiba mobil sedang melaju dengan cepat ke arah kami. Dengan sigap Rama mengendalikan kemudi berbelok ke kiri dan mengerem cepat. Tyo jatuh ke bawah. Suara ban berdecit-decit dan saya terlempar keluar dengan tiba-tiba.

***

Setelah melakukan pemeriksaan, akhirnya dengan cepat dokter mengetahui apa yang terjadi dengan Tyo. Dia terkena usus buntu dan harus segera operasi. Setelah menandatangani beberapa surat, Tyo dibawa ke ruang operasi. Saya berniat menunggu Tyo di depan pintu sampai operasi selesai.

Dua polisi menghampiri saya. Setelah bersalaman basa-basi dan bertanya tentang kejadian yang telah terjadi, salah satu dari mereka memberi kabar bahwa Rama meninggal dunia.

***

Saya tak bisa menahan air mata ketika menatap Tyo yang tertidur di ranjang rumah sakit. Dua minggu ia dirawat disini dan besok ia sudah bisa pulang. Saya pun tidak tahu saya sedang menangis karena apa, atau untuk siapa.

Pikiran saya masih tentang Rama dan kepergiannya yang mendadak. Betapa tidak, begitu sesak dada ini penuh dengan penyesalan. Saya memang tak tahan dengan keacuhannya terhadap keluarga selama ini dan saya memang memutuskan pergi meninggalannya. Tapi, saya bukan pergi untuk tak melihatnya lagi. Saya masih ingin terus melihatnya.

Ketika kecelakaan malam itu, tubuh Rama sama sekali tak cedera luar dan dalam. Ia meninggal di tempat karena sakit yang dideritanya. Kanker pankreas yang ia ketahui tepat dihari dimana saya meninggalkan rumah. Hari dimana Tyo kesakitan malam itu dan menelepon saya, rupanya Rama pingsan di ruang kerja karena sakit itu. Kalau diingat, wajar saja ia tak mendengar rintihan Tyo.

Rama memutuskan keluar dari kantor agar bisa menghabiskan banyak waktu dengan Tyo. Setelah Rama tak bekerja lagi, ia benar-benar menghabiskan banyak waktu bersama Tyo, ke tempat-tempat Tyo inginkan. Piknik, ke taman hiburan, bermain layang-layang, ke pantai.

Lalu, menyadari kenyataan itu, mengingat apa yang saya katakan malam itu tentang Rama, saya benar-benar menyesal. Saya menjadi kasihan terhadap diri saya sendiri. Saya tak ada disamping suami dan anak saya ketika mereka merasakan sakit.
Read More......

LOKER NOMOR 7 _ BAGIAN final

cerita yang lalu ...

Raras dan Karang berencana menemui Laras. Dengan membolos kelas Renang dan kelas Paduan suara, di hari Sabtu, Raras dan Karang bersama menemui Laras. Tapi betapa terkejutnya mereka karena Laras sudah pindah dari rumah. Mereka bersusah payah mencari alamat rumah Laras dengan harus menemui beberapa rumah. Akhirnya tiba pada sebuah rumah yang menurut keterangan oomnya Laras, itu adalah rumah yang mereka cari. Tapi, rumah itu juga kosong.

***
29 januari 2004, Kamis
12:00

Laras kembali membayangkan apa yang akan terjadi pada pertemuannya besok Jumat. Laras sudah memastikan suratnya benar-benar Karang baca, dan menuliskannya dengan kata-kata yang bisa membuat Karang penasaran.


***
29 Januari 2010, Sabtu
13.20

Raras dan Karang masuk perlahan ke sebuah butik yang tak jauh dari rumah Tante Maria, mama Laras, setelah mereka menyempatkan makan siang. Seorang pelayan menghampiri Raras dan Karang dengan sangat sopan dan ramah.

“Ada yang bisa dibantu?” Tanya pelayan itu.

“Tante maria disini?” Tanya Raras.

“Belum pulang dari makan siang,” jawab pelayan itu. “Mau menunggu?” Tanyanya masih ramah dan sopan. Raras dan Karang mengangguk secara bersamaan sambil mengamati berbagai pakaian yang ada di dalam butik.

“Oh, itu ibu Maria,” Kata pelayan tiba-tiba setelah beberapa detik menyuruh mereka duduk di sofa dekat pintu masuk sambil menunjuk perempuan setengah baya yang cantik sedang berusaha menyeberang jalan dengan menenteng sebuah tas kulit mungil berwarna coklat muda. Raras dan Karang dengan cepat menoleh ke arah perempuan yang ditunjuk pelayan toko.

“Siang, tante,” sapa Karang ketika Tante Maria baru saja masuk ke dalam butik.

***
13:40

“Tujuh tahun yang lalu,” jawab Tante Maria masih dengan wajah sedih. Kaki Raras masih lemas ketika mendengar apa yang dikatakan Tante Maria. Raras masih terus menatap Tante Maria yang duduk di seberang meja kerjanya. Sambil memberikan album foto yang berada di dalam ruang kerja Tante Laras, ia mempersilakan sekali lagi teh yang tersedia di hadapan Raras dan Karang.

“Ini foto waktu Laras koma,” kata Raras pelan setelah membuka album foto. “Laras seperti selama empat bulan?” Tanya Raras sambil akhirnya menangis. Raras mengusap-usap permukaan foto itu.

“Oh, ya. Bagaimana kalian kenal Laras?”Tanya Tante Maria. “Saya jadi ingat beberapa bulan sebelum kecelakaan, ia pernah menelepon saya dan bertanya apakah dia sudah mati,”

“Susah dijelaskan, tante. Tapi saya sudah merasa dekat sekali dengan Laras,” jawab Raras. Mendengar jawaban Raras, Tante Maria mengernyitkan keningnya, tapi ia hanya diam sambil mengamati Raras.

“Makamnya dimana, tante?” Tanya Karang.

“Kenapa Laras kecelakaan?” Tanya Raras cepat sebelum Tante menjawab pertanyaan Karang.

“Menurut orang-orang, Laras tertabrak mobil waktu menyebrang jalan,” jawab Tante Maria. “Sore itu saya belum sempat memarahi Laras karena ia membolos lagi di hari Sabtu minggu sebelumnya. Tepat di depan lapangan baseball,” lanjut Tante maria.

“Lapangan baseball?” Tanya Karang. Ia ingat ia dulu ikut baseball ketika SMA.

“Kapan, tante?” Tanya Raras.

“Tahun 2004, sekitar bulan Januari,” jawab Tante Maria. Mendengar itu, Raras tersentak dan langsung berlari keluar kantor Tante Maria tanpa sempat berpamitan. Melihat itu, Karang bingung dan segera menyusul Raras setelah berpamitan dengan cepat pada Tante Maria. Ketika sampai di luar butik, Karang tak menemukan Raras di tempat parkir, sehingga karang berlari ke pinggir jalan.

“Raras!” Panggil Karang setelah melihat Raras tengah berlari seperti orang kebingungan menjauh dari butik. Karang mengejarnya.

“Laras mati besok,” kata Raras sambil menangis ketika Karang menarik pundak Raras untuk menyingkir ke pinggir jalan raya. “Dia janjian sama kamu di lapangan baseball besok. Kita ke sekolah sekarang. Kita harus menghentikan Laras sekarang,”


***
16:15

Raras masih menunggu di depan loker nomor 7 sambil menangis. Beberapa kali Raras mengecek isi loker, tapi surat peringatan Raras masih ada di dalam loker itu. Raras menutup kembali pintu loker dan membukanya lagi, tapi, masih belum ada balasan.

“Laras!” Teriak Raras ke dalam loker nomor 7 berharap mendengar jawaban Laras setelah itu. Tak ada reaksi apa pun yang diberikan loker nomor 7 sehingga membuat tangis Raras makin menjadi-jadi. Raras meletakkan kepalanya ke dalam loker nomor 7 karena lemas, ia bersandar sejenak dan berpikir cara apa yang bisa ia lakukan. Sementara Karang beberapa kali mengusap-usap pundak Raras untuk menenangkannya. Wajah Karang juga tampak cemas.


***
30 Januari 2004
14:30

Laras memasukkan kentang goreng yang ia potong dadu ke dalam kotak makan dengan agak tergesa. Sebentar lagi jam setengah 4 sore, waktu janjiannya dengan Karang untuk bertemu di bangku penonton lapangan baseball. Setelah itu, ia memasukkan kotak makan ke dalam tas selempang agak usang dan sebotol ukuran kecil saos sambal. Karang suka kentang goreng dipadu dengan saos sambal ekstra pedas itu.

15:00
Karang masuk ke ruang ganti di pinggir lapangan baseball untuk memakai sepatu olahraga. Karang dengan santai dan sambil melempar canda dengan teman satu team membuka tas olahraga dimana sepatu olahraganya berada. Selembar kertas jatuh dari dalam tas ketika Karang mengangkat sepatunya dari dalam tas.

karang Baruna.
Aku punya sesuatu untuk kamu.
Kita ketemu di bangku penonton sebelah timur.
Aku tunggu hari Jumat 30 Januari 2004 jam setengah empat


15:40
Karang mengamati bangku penonton di sebelah timur lapangan dari pintu ruang ganti sambil menggenggam secarik kertas. Tidak ada seorang pun disana lalu Karang kembali masuk ke dalam ruang ganti.
“Ada kecelakaan di luar,” kata seorang teman Karang yang baru bergabung di luar ganti. Dengan tergesa-gesa ia mengganti pakaiannya dan memakai sepatu olahraga.

15:30
Karang mengamati bangku penonton di sebelah timur lapangan dari pintu ruang ganti sambil menggenggam secarik kertas. Masih tidak ada seorang pun disana lalu Karang kembali masuk ke dalam ruang ganti.

16:00
Karang melakukan pemanasan di tengah lapangan bola bersama teman-temannya sambil mengamati bangku penonton sebelah timur.


***
30 Januari 2010
16:10

Karang dan Raras berdiri di samping pintu masuk lapangan baseball sambil mengamati arus lalu lintas di jalan raya depan lapangan baseball. Tidak terjadi apa pun disana, sehingga membuat Raras menangis lagi seperti kemarin. Karang hanya bisa diam sambil memeluk Raras.

tamat
Read More......

LOKER NOMOR 7 _ BAGIAN 7

cerita yang lalu ...

Laras gagal membuat pertemuan antara dirinya dan Karang untuk kedua kalinya. Hal ini terjadi karena Raras kecil harus dirawat dirumah sakit ketika Laras sedang mempir untuk melihat Raras kecil di rumahnya untuk pertama kali. Pertemuan jam setengah lima di pameran kerajinan tangan dunia gagal karena Laras datang terlambat. Sebelumnya di hari yang sama, Laras memasukkan surat dan tiket masuk ke dalam tas Karang ketika Karang sedang berlatih baseball. Tapi Karang dan Laras tak pernah tahu, kalau suratnya hilang, hanya menyisakan satu tiket masuk pameran. Sementara setelah akhirnya Raras dan Laras kembali berhubungan melalui loker nomor 7, Laras tahu kalau Karang tak pernah ingat pada Laras.

***
18 januari 2004, Minggu
09:00
Laras turun di halte setelah melalui satu jam perjalan menggunakan bus. Berhenti sebentar sambil berdiri untuk melihat salah satu foto yang sedari tadi ada digenggamannya, ia kemudian berjalan sambil menatap lahan kosong di kelilingi pagar seng yang tinggi. Di tahun 2010, seperti di foto, lahan tersebut akan berdiri sebuah apartemen dimana salah satunya akan ditinggali Karang ketika usianya 24 tahun nanti.


Laras melompat-lompat berusaha untuk melihat lahan kosong yang ada di balik pagar seng yang tinggi itu. Tapi sia-sia, akhirnya Laras pasrah dengan apa yang ada dihadapannya kini, pagar seng tinggi. Kemudian Laras membaca salah satu surat Raras.

Di samping apartemen ada kafe.
Karang sering mengajakku makan siang disana
atau minuman sebelum aku pulang

Disana, kamu akan Lihat trotoar di seberang apartemen
Kami berjalan bersama sepanjang trotoar itu sampai halte pulang
Pohon kirai payung berjejer rapi membatasi antara jalan raya dan trotoar.


Laras terus berjalan ke bangunan yang ada disamping lahan kosong. Ruko berhalaman luas itu bertuliskan konveksi Putra yang menerima pesanan kaos, jaket, dan baliho. Ruko ini akan disulap menjadi kafe seperti yang ada di foto tujuh tahun yang akan datang.

Lama Laras berdiam diri di depan ruko, Laras kembali menyeberang jalan dan berjalan di trotoar. Sekitar 100 meter ada halte di depan sana. Berjalan pelan, Laras membayangkan Karang ada di sampingnya, mengantarnya menuju halte di sana, sambil bercerita mengobrolkan tentang apa saja sambil menikmati daun-daun kerai payung yang bergoyang tertiup angin. Laras mendekati salah satu pohon kerai payung yang masih muda.

“Kamu akan setinggi ini tahun 2010 nanti, lihatlah,” kata Laras pada batang kerai payung muda sambil memperlihatkan sebuat foto. “Menurut kamu, kamu yang mana?” Tanya Laras sambil memperhatikan foto kerai payung yang berjajar ke belakang.

Setelah sampai di halte, Raras berdiri di samping tiang penyangga halte. Kemudian menyandarkan badannya ke tiang sambil mengamati lahan kosong yang masih tertutup pagar seng tadi. Lama Laras terdiam, akhirnya ia melihat bus melaju menuju halte di kejauhan. Sambil menunggu bus menghampiri halte, Laras kembali memandangi sekali lagi apa pun di sekitar tempat ia berdiri, mencoba memberi bekas di otaknya.

Entah pikiran darimana, Laras tiba-tiba dengan cepat mengambil sebuah batu dan menggoreskan sesuatu di tiang besi penyangga halte sebelum ia naik ke dalam bus.



***
23 Januari 2010, Minggu
14:00

Raras berjalan pelan mengikuti langkah Karang sambil menikmati daun-daun kerai payung dan hembusan angin yang sesekali lewat. Sudah banyak cerita tentang Laras yang sudah keluar dari mulutnya.

“Aku suka pohon ini,” kata Karang ketika Raras sudah kehabisan cerita. “Guru biologiku dulu pernah bilang, dengan bentuk daun itu, ia lebih banyak menyerap karbon dioksida ketimbang daun lain,” lanjutnya sambil menatap daun-daun salah satu pohon kerai payung. Raras hanya menanggapinya dengan mengeluarkan kata ‘uh’ sambil mengangguk berkali-kali tanda mengerti.

“Sudah sampai halte,” kata Raras setelah mereka berhenti di sebuah halte. Raras memberikan secarik kertas pada Karang sambil berjalan menuju salah satu tiang halte. Sementara Karang membaca kertas itu.

Tidak ada apartemen dan kafe di tahun 2003
tapi trotoar dan pohon yang masih muda ada disana
oh ya, aku menuliskan sesuatu di tiang halte
apa masih ada disana?


Raras segera memanggil Karang untuk mendekat pada tiang halte sambil tersenyum. Tak lama kemudian keduanya tersenyum lebih lebar lagi sambil mengusap-usap tulisan yang ada disana.

LARAS LOVE KARANG – goresan di di tiang halte

“Kenapa kita tidak menemui Laras?” Usul Karang kemudian yang ditanggapi dengan anggukan penuh semangat dari Raras. “Sabtu minggu depan?”

***
28 Januari 2004, Rabu
07:00

Sepertinya sabtu nanti kami akan menemuimu
“bersiaplah, dan tampil cantik di hari itu,”
seandainya bisa kuucapkan itu padamu di tahun 2010
aku menjadi penasaran sekali dengan kamu yang tua, hahaaa


apa kamu cemas?
sebaiknya alamat rumah yang pernah kamu berikan
tidak salah, hahaa
Laras dewasa akan bertemu dengan Karang dewasa


Laras membaca surat itu dengan hati yang berdegup. Ia hampir tak bisa bernafas. Dan hayalannya tentang ia dan Karang banyak sekali sekarang, dua kali lipat banyak ketimbang hari biasanya. Lalu Laras membalas surat Raras.

Aku membuat janji bertemu di bangku
penonton lapangan baseball jumat sore.
Jantungku seperti mau pecah menunggu hari itu
Karang suka sekali kentang goreng
aku akan memberikannya nanti




***
29 Januari 2010, Sabtu
08:00
Raras ada di dalam mobil bersama Karang pagi ini. Ia membolos kelas renang tanpa sepengetahuan Kak Anggun. Entah mengapa, jantungnya kini berdegup kencang dan badannya terasa dingin jika membayangkan pertemuan indah antara Laras dan Karang nanti. Raras agak menyesal juga mengapa tidak pernah berinisiatif untuk mengunjungi Laras sebelumnya, sehingga ia bisa tahu bagaimana Laras yang dewasa.

“Jangan tertawa, aku agak gugup,” kata Karang tiba-tiba.

“Sama,” jawab Raras singkat.

“Apa alamatnya benar?” Tanya Karang memastikan.

“Tentu saja,” jawab Raras singkat karena juga masih merasa gugup.

”Sebenarnya aku terharu dan senang, ada yang menyukaiku sebesar Laras. Apa menurutmu ia masih menyukaiku?”

“Tentu saja,” jawab Raras sambil tersenyum.



09.00
Raras mulai cemas dalam perjalanan. Seseorang yang sekarang menempati rumah Laras memberikan sebuah alamat rumah yang ditinggali Laras sekarang. Ternyata sudah empat tahun Laras pindah rumah. Untung saja penghuni rumah Laras yang lama masih menyimpan alamat rumah yang pernah diberikan oleh mama Laras.

“Rumah ini? Nomor 17?” Tanya Raras ketika mobil berhenti disebuah rumah yang sangat asri dan lebih kecil dibanding rumah Laras sebelumnya. Dengan cepat Raras turun dari mobil dan mendekati pintu gerbang. Tampak seorang perempuan memakai dress santai bermotif bunga kecil-kecil sedang memindahkan pot-pot kecil dari teras ke halaman depan.

“Permisi,” sapa Karang agak keras setelah puas mengamati perempuan itu. Perempuan itu menoleh ke arah kami dan tampaklah wajahnya. Perempuan agak tua dengan rambut keriting pendeknya mendekati kami.

“Ada apa?” tanya perempuan itu ramah sambil membuka gerbang.

“Kami mencari alamat ini. Apa ini benar rumahnya?” Karang memberikan secarik kertas bertuliskan alamat rumah.

“Iya, ini alamat rumah saya. Mencari siapa?” Tanya perempuan itu masih ramah namun terlihat sekali wajahnya penasaran.

“Kami teman Laras, tante,” jawab Karang. “Apa Laras ada?”

“Laras siapa?” Tanya perempuan itu mulai bingung.

“Tante yang punya rumah ini?” Tanya Raras yang dijawab dengan anggukan pelan perempuan itu. “Tante tidak punya anak bernama Laras?”

Perempuan itu menggeleng lemah dan bercerita kalau ia baru pindah setahun yang lalu. Tapi menurut ceritanya, penghuni rumah sebelumnya tidak memiliki anak, ia tinggal sendiri selama tinggal di rumah ini.

“Apa tante tahu, beliau pindah kemana?” Tanya Karang.

“Tidak tahu. Tapi saya kenal dengan adik iparnya,” jawab perempuan itu. “Mau kuberikan nomor teleponnya?”

11:00
Sudah kesekian kali Raras menekan bel, tapi tetap saja tak ada orang yang membukakan pintu. Karang sudah kembali di samping Raras sambil melongo sekali lagi ke jendela ruang tamu. Karang baru saja menglilingi rumah untuk mencari tahu apakah rumah ini benar-benar kosong. Tapi sepertinya benar-benar kosong.

“Coba telepon oom nya Laras lagi, apa benar ini alamatnya,” perintah Raras dengan wajah kesal. Dengan cepat Karang mengambil handphone dari kantong celananya dan mulai menelepon.

“Om, kami sudah sampai rumah Tante Maria, tapi rumahnya kosong. Apa benar alamatnya? Atau apa Tante Maria sudah pindah rumah lagi?”

bersambung ...
Read More......

LOKER NOMOR 7 _ BAGIAN 6

cerita yang lalu ...

Libur sekolah, Raras mencari laki-laki yang disukai Laras. Dalam suratnya yang panjang, Laras menginginkan informasi tentang sosok yang bernama Karang di tahun 2010. Raras menemui Karang ke alamat rumah yang diberikan Laras dalam suratnya, namun ternyata rumah itu sudah tidak menjadi tempat tinggal Karang. Setelah mencari informasi lebih lanjut, Raras menemukan apartemen Karang. Namun sayang sekali, dalam pertemuan itu, Raras mengetahui kalau Karang sama sekali tidak mengingat Laras.

***
8 Januari 2004, Kamis
15:00

Laras berjalan menyusuri salah satu jalan kompleks yang menurutnya, tidak terlalu berbeda dengan foto yang pernah Raras kirim. Sambil mengamati nomor-nomor rumah yang tertera di tiap tembok pagar, Laras memikirkan akan Raras di tahun itu. Lama sekali Laras dan Raras tidak berhubungan. Sekarang Laras libur sekolah, mungkin saja Raras disana juga merindukan surat Laras seperti dirinya.


Laras berhenti di depan sebuah rumah bernomor 23. Rumah bercat biru muda dengan beberapa bagian tembok dilapisi batu-batu alam. Tanahnya lebih tinggi sekitar satu meter dari jalan kompleks di depannya. Pagar berukuran pendek mengelilingi halaman depan rumah dengan gerbang tinggi dan besar tertutup rapat. Dari jalan kompleks tempat ia berdiri, Laras bisa melihat sebuah pohon seri di halaman depan dan sebuah ayunan dari besi yang bangkunya saling berhadapan.

Dua anak muncul dari dalam rumah, sedang berebut sebuah boneka salju yang terbuat dari kain. Melihat boneka itu, Laras yakin ia tidak berada di depan rumah yang salah. Sepertinya sejak kecil Raras menyukai salju. Anak yang lebih kecil terlihat sedang berusaha mengambil boneka dari genggaman anak yang lebih besar.

“Kak Anggun, itu boneka Raras,” rengek anak yang lebih kecil sambil sesekali menyingkirkan ujung-ujung rambutnya yang panjang masuk ke dalam mulut.

“Mamaku yang beli boneka ini, jadi ini boneka aku,” jawab anak yang lebih besar. “Kamu anak sial, tahu? Anak yatim piatu,” kata anak itu kemudian sambil mendorong Raras dengan kasar hingga Raras terjatuh. Melihat itu, badan Laras tergerak hendak menolong Raras, tapi Laras mampu menahannya di detik berikutnya.

“Kakak,” rengek Raras kecil.

“Mau boneka ini? Naik di atas pohon itu, nanti aku akan lempar boneka dari bawah,” kata anak yang lebih besar mengajak negosiasi. Tak lama, Raras memanjat pohon seri yang agak tinggi itu dengan tertatih. Setelah mencapai puncak, anak yang lebih besar melempar boneka ke arah Raras. Dengan sengaja ia melempar ke arah yang lebih jauh dari Raras berada, sehingga Raras kesusahan untuk menggapainya dan membuat Raras terjatuh kemudian.

Laras berlari menaiki tanah yang tinggi itu untuk melihat Raras sekarang. Anak yang paling besar berhenti tertawa dan suasana menjadi sepi sekarang. Laras tidak bisa menaiki tanah itu, jadi ia berlari menuju pintu gerbang untuk melihat apa yang terjadi. Laras melihat Raras kecil terbaring di bawah pohon seri dan mengalir darah dari kepalanya, sementara anak yang lebih besar diam kaku sambil mengamati Raras kecil.

“Tolong! Ada orang dirumah? Raras jatuh! Tolong!” Teriak Laras kemudian sabil mendorong-dorong pintu gerbang yang tak mungkin terbuka. Tak lama kemudian seorang laki-laki tua dan seorang perempuan agak lusuh keluar dari dalam rumah dan segera membawa Raras kecil masuk ke dalam mobil.

^^^
17:00
Laras merasakan lemas pada kakinya ketika berjalan menuju ruang dimana Raras tadi berada. Baru saja ia menjalani donor darah untuk membantu Raras kecil. Kebetulan sekali golongan darah Laras sama dengan Raras. Ketika hampir tiba, Laras melihat anak yang lebih besar dari Raras tadi berdiri di depan pintu ruang operasi.

“Anak nakal,” marah Laras setelah menghampiri anak yang sudah pasti adalah Kak Anggun kecil.

“Apa dia akan mati?” Tanya Kak Anggun kecil sambil menangis menunduk.

“Tidak akan mati,” jawab Laras.

“Aku menyesal,” kata Kak Anggun kecil kemudian.

^^^
18:10
Dengan terengah-engah Laras masuk ke dalam pameran kerajinan tangan dari berbagai negara, Handcraft EXPO 2004. Sebelum ke rumah Raras, Laras mampir ke lapangan baseball tempat dimana Karang sedang latihan disana. Setiap Selasa, Kamis dan Jumat Karang latihan baseball di lapangan ini. Laras memasukkan satu tiket pameran ke dalam tas Karang dan selembar surat untuk bertemu di stand nomor 23A jam setengah lima sore. Laras sungguh tidak mengetahui kalau surat yang ia berikan hilang, hanya menyisakan selember tiket masuk di dalam tas Karang.

“Ma, ada anak mencari Laras ke sini, tidak?” Tanya Laras kepada seorang wanita setengah baya yang tengah melayani pengunjung untuk melihat-lihat koleksi batik yang ada di stand nya.

“Tidak ada,” jawab mama Laras cepat kemudian kembali konsentrasi ke pengunjunga. Mendengar itu, Laras mengamati tiap pengunjung yang memadati pameran ini sambil duduk di salah satu bangku plastik yang tersedia di stand. Badannya terasa lemas sekali akibat donor darah tadi.

“Sayang, kenapa?” Tanya mama Laras. Laras hanya menggeleng sambil bersandar etalase yang ada di belakang bangku plastik dengan lemas.


***
9 Januari 2010, Minggu
13:00
Raras naik ke dalam mobil sambil tersenyum pada Karang yang sudah menunggu di bangku kemudi. Karang membalas senyum Raras. Baru saja mereka menemui rumah pengrajin mainan wayang kertas di daerah yang lumayan jauh dari apartemen Karang. Butuh 3 jam lebih perjalanan.

Tadi pagi Raras datang membawa oleh-oleh dari Surabaya, dan Karang membalasnya dengan mengajak Raras menemui pengrajin wayang kertas. Hitung-hitung jalan-jalan gratis ke daerah yang lebih sejuk.

“Kita kamu kemana lagi?” Tanya Raras.

“Pulang,” jawab Karang sambil memperhatikan jalanan.

“Ide cemerlang. Apa akan laku di luar negeri?” Tanya Raras lagi.

“Saya akan membuatnya menarik dengan mengemasnya dengan modern. Wayang dari tangkai daun singkong tadi akan diproses dan dikemas sehingga menjadi awet,”

“Oh, bukan wayang kertas?”

“Itu juga, tapi sebenarnya saya lebih fokus untuk memasarkan kerajinan tangan khas Indonesia dari bahan-bahan alami. Orang-orang dulu banyak membuat kerajinan tangan dari bahan-bahan alami yang lain,”

“Apa saja?”

Begitu seterusnya obrolan mereka tak kunjung terhenti. Karang mulai tertarik dengan kerajinan tangan sejak ia melihat salah satu pameran kerajinan tangan dunia ketika SMA. Ia hampir setiap hari datang ke pameran dan menyayangkan beberapa kerajinan tangan Indonesia dari dedaunan kering mengering dan harus selalu diganti dengan yang baru setiap hari.

^^^
9 Januari 2004, Jumat
16:00
Laras kesal sekali jika mengingat kejadian kemarin. Sudah dua kali pertemuan antara ia dan Karang gagal. Seperti tidak ditakdirkan untuk bertemu, alam sepertinya menghalangi pertemuan mereka. Setidaknya itulah pikiran Laras.

Laras sekarang berada di stand tempat mama Laras memamerkan batik koleksi butik mama Laras yang sudah cukup terkenal. Laras berharap Karang akan datang lagi ke pameran dan bisa bertemu.

“Bagaimana Karang di tahun 2010? Apakah aku berpacaran di tahun itu?” Gumam Laras.


***
10 Januari 2004, Sabtu
09:00
Laras lama mengamati Karang dari luar kaca toko cake di sebuah mall dekat rumah Karang. Seperti biasa, Karang selalu berada di dalam sana, meladeni pelanggan. Setiap sabtu Karang libur sekolah. Sekolah Internasional memang memiliki jam sekolah lima hari saja, Senin hingga Jumat. Untuk berinteraksi dengan Karang walau sebagai pelanggan, Laras sering sekali membolos.

Laras masuk ke dalam toko dan menghampiri etalase berisi aneka cake lucu dan beraneka warna yang paling dekat dengan Karang berdiri.

“Selamat datang di Baruna’s Cake. Mau pesan apa?” Karang menghampiri Laras yang pura-pura sibuk mengamati aneka cake di dalam etalase.

“Cheese Sarina dua,” jawab Laras sambil tersenyum.

“Makan disini atau di bungkus?” Tanya Karang penuh hormat.

“Makan disini,” jawab Laras. “Minumnya, saya mau apa saja yang kamu pilih,” lanjut Laras sambil berjalan di salah satu meja terdekat dari tempatnya berdiri tadi. Dari kejauhan, seorang pelayan toko meletakkan dua buah cake pesanan Laras ke atas piring yang cantik dan menhampiri Laras sambil membawa gelas berbentuk lucu berisi minuman berwarna merah muda bertopi es krim putih di atasnya. Sementara Karang duduk di meja lain dan mulai membaca sebuah buku. Karang memang bukan pelayan di sini, dia anak pemilik toko Baruna’s Cake.


***
12 Januari 2004, Senin
09:10
Laras, aku merindukanmu.
Ada banyak cerita, kau tahu?
Aku menemukan Karang, dan ini fotonya di tahun 2010


Laras membaca surat dari dalam loker nomor 7 untuk kesekian kalinya lalu kembali menatap foto laki-laki berusia 24 tahun itu. Laki-laki itu membiarkan rambut tipis di kumis dan janggutnya. Badannya kekar dan lekukan senyumnya masih sama ketika laki-laki itu ketika berumur 17.
Laras tidak sabar ingin segera tahu jawaban Raras apakah di tahun itu Laras dan Karang berpacaran. Sudah beberapa kali Laras ijin ke toilet pada jam pelajaran Bahasa Indoensia ini hanya sekedar mengecek surat balasan dari Raras. Tapi surat belum juga dibalas Raras.

10:05
Aku heran, Karang tak ingat apa pun terhadapmu.
Bagaimana bisa terjadi?

Bukankah dia sekarang tampan?Wah, pasti kamu tidak
konsentrasi di dalam kelas, sambil
meneteskan air liur menatap foto karang
hahaaaa


Laras tersenyum sebentar lalu terdiam. Ia gelisah dengan apa yang baru saja ia baca. Laras tak menyangka dalam waktu tujuh tahun nanti, Laras tak punya keberanian bertemu dengan Karang secara tiba-tiba saja, tanpa membuat janji bertemu di suatu tempat seperti yang selalu Laras buat selama ini.

bersambung ...
Read More......