bergeraklah...!!!!

Sesungguhnya alam mengajarkan bahwa kita tak akan pernah bisa berhenti. Meski kita berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak kita mengelilingi matahari.


Air yang tak bergerak lebih cepat usuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin yang tak dinyalakan lebih berdebu. Hanya perkakas yang tidak digunakan yang lebih gampang berkarat.


Alam telah mengajarkan ini. jangan berhenti berkarya, atau kita segera menjadi tua dan tak berguna.


.

.

.

Selasa, 27 September 2011

catatan seorang laki-laki_"my love still my first love"

Pertama kali Saya melihatnya di lantai satu sebuah pusat perbelanjaan terbesar di dekat rumah saya. Berdiri di depan meja kasir dengan wajah muram. Setelah membayar beberapa barang belanjaan, ia berjalan lunglai menuju pintu utama. Entah mengapa saya mengikutinya, tidak jadi membeli susu pesanan mama. Mengikutinya sampai tempat parkir, sampai ia menghilang dengan sepeda mini berwarna putih. Sejak hari itu, mata saya terlalu sering menangkap sosoknya dan menyimpannya ke dalam memori saya. Masih teringat jelas tiap senyum dari yang paling kecil hingga yang paling lebar. Atau kibasan kasar tangannya ketika rambutnya menutupi wajah ketika tertiup angin. Lambaian tangan yang mungil itu juga masih saya ingat, walau itu bukan ditujukan kepada saya. Rengekan dan amarah kecil kepada mamanya, gayanya menggaruk-garuk kepala walau tak gatal, dan kata maaf pertama untuk saya ketika suatu kali saya pernah menghalangi jalannya. Masa awal SMA saya yang tidak terlupa, ketika pertama kali saya melihat perempuan sebagai perempuan. My first love.

Selama setahun mata saya masih menangkap sosoknya. Sengaja atau tidak sengaja, dan terus tersimpan di dalam memori. Saya menikmati sebagai pemuja rahasia, dan saya menikmati cara saya yang tidak mencari tahu apa-pun tentang sosoknya. Saya hanya menangkapnya dengan mata saya, hanya mata saya. Dan mengerti tentang dirinya hanya melalui mata saya.

Tahun ajaran baru dimulai, hari pertama di tingkat kedua. Upacara bendera pertama, mata saya kembali menangkap sosoknya. Saya senang sekaligus terkejut. Sosoknya berdiri di depan, beberapa kali meringis tersengat sinar matahari pagi yang kebetulan begitu menyengat. Saya berada di antara perasaan kecewa dan ingin berlari membawa payung untuk melindunginya. Tentu saja kecewa, karena ia berdiri disana sebagai salah seorang guru. Dan lima belas menit kemudian, ia jatuh pingsan. Seorang guru laki-laki muda yang berdiri disampingnya bergegas membopongnya sendirian ke ruang UKS dekat kantor. Ribut seketika, seluruh murid berbisik dan tengak tengok ke segala arah untuk melihat apa yang terjadi. Tapi saya menunduk dengan marah, saya merasa cemburu. Saya menjadi tidak suka dengan guru muda itu.

Selama setahun mata saya masih menangkap sosoknya di sekolah, di jalan, dan di pusat perbelanjaan itu. Tahun tingkat ketiga di mulai, sosoknya masih ada di mata saya, bahkan mungkin sudah di hati ini. Tak saya sangka dua tahun lebih saya tak pernah mengucapkan sepatah katapun kepadanya. Ia juga bukan pengajar di kelas saya, dan saya menghindar untuk berpapasan dengannya. Namun mata saya tetap ingin menangkapnya selalu, dari jauh, dari dekat. Betapa saya senang, ketika mendengar guru muda itu menikah liburan semester kemarin. Banyak guru yang meledeknya sebagai pengantin baru, bukan dengan first love saya. Hahaaa… saya senang sekali. Saya menjadi lebih tidak peduli dengan surat-surat cinta yang hampir tiap pagi saya temukan di laci meja saya. Surat-surat dari adik tingkat yang tidak punya malu.

3 februari. Saya ingat tanggal itu. Ia duduk di kantin bersama beberapa siswi perempuan. Tertawa, bercanda dan tersenyum beberapa kali. Saya berjalan ke arahnya dengan langkah lebar, sangat lebar. Setelah dekat, saya memegang erat kepalanya, dan meletakkan bibir saya ke bibirnya. Ia memberontak, tapi saya telah tumbuh menjadi laki-laki kuat, atlet basket yang memiliki stamina tangguh, sehingga berontaknya sia-sia saja. Kantin menjadi ribut sekali. Setetes air mata mengalir dari mata kirinya, dan saya mulai melemah. Ia menjauhkan bibirnya, menampar saya, dan berlari meninggalkan kantin. Setelah itu, saya dipanggil guru BP, hari berikutnya orang tua saya dipanggil, dan hari berikutnya mendapat skorsing selama seminggu. Hari setelahnya saya menjadi sangat terkenal, lebih terkenal dari artis manapun, tidak hanya di dalam lingkungan sekolah.

Beberapa bulan kemudian, saya tahu bahwa ciuman itu pertama baginya, dan bagi saya juga. Saya senang sekali ketika akhirnya menggenggam tangannya dan mendengar dari mulutnya bahwa sejak hari di kantin itu, matanya selalu menangkap sosok saya. Saya senang saya bisa mendapatkan ciuman keduanya, yang juga ciuman kedua saya. Saya anggap itu pacaran. Sayang sekali hanya bertahan seminggu. Dia lebih khawatir dengan apa yang didengarnya dari orang-orang ketimbang apa yang didengar dihatinya, ketika semua tahu tentang hubungan kami. Apa yang terlarang? Apa yang salah?

Ia pergi entah kemana hingga saya mengakhiri tingkat tiga saya di SMA. Mata saya sama sekali tak pernah lagi menangkap sosoknya. Saya melanjutkan study ke Denmark, kembali, dan sudah bekerja, mata saya masih tak menemukan sosoknya. 10 tahun sudah memori saya masih tentang dia. Saya ingin sekali bertemu dengannya dan memintanya untuk tidak pedulikan perkataan orang lain, tapi pedulikan saya saja.

Post in 3 februari 2008

***

Tangan saya masih bergetar ketika membaca bagian akhir sebuah blog itu. Catatan yang ditulis tiga tahun lalu oleh laki-laki yang menjadi pacar pertama saya. saya tidak tahu rencana Tuhan, mengapa pada akhirnya, saya menemukan blog ini, dan membaca postingan terakhirnya yang berjudul “My love still my first love”. Sepertinya tidak hanya tangan saya yang bergetar, tapi juga hati saya. Saya tidak tahu rencana Tuhan, mengapa pada akhirnya ia kembali tepat di tahun kedua pernikahan saya. Dan yang paling saya tidak tahu rencana Tuhan, mengapa postingan ini tidak saya temukan sebelum saya menikah.

Saya beranjak dari ruang kerja hendak mengambil segelas air minum, karena tiba-tiba kerongkongan menjadi sangat kering. Handphone yang tergeletak di atas meja dapur bordering tanda sms.

08xxxxxxxxxx
Saya masih mencari hingga saat ini hingga akhirnya saya menemukan kamu.
Entah bagaimana perasaan saya sekarang, antara kecewa dan bahagia.
Tapi setidaknya saya menemukan kamu.
Bisa kita bertemu?
Saya di depan rumah kamu sekarang, saya hanya ingin bilang sesuatu yang belum sempat saya bilang ke kamu dulu.
Read More......

hanya kisah saya 13_hujan bulan juni

saya tengah mencoba "trial and error" untuk menghasilkan data yang saya inginkan. SPSS 16.0 lalu microsoft exel lalu SPSS 16.0, lalu exel lagi, begitu terus hingga saya "mabok SPSS" (begitu saya menyebutnya). Sedangkan papa duduk di sofa di depan meja kerja tempat saya mengolah data-data itu.

"ai, beliin papa tolak angin, ai," teriak papa tiba-tiba kepada adik saya yang berada di ruang tv. Adik saya menjawab dengan lemas, mengingatkan saya bahwa ia sedang sakit. Lalu saya mengajukan diri untuk menggantikan adik saya. Papa mengeluarkan uang dan meletakkannya di atas meja.

Hujan kecil turun tiba-tiba, ketika saya baru saja mengambil jaket di kamar. "pa, ujan. Nunggu reda, ya," kata saya.

"di warung yg deket aja, bawa payung. Jadi gak usah naik motor," saran papa, karena saya berniat membelinya di warung yang lebih jauh. Saya tak menghiraukan papa. Saya bertekad kuat ke warung itu saja, naik motor.

Semenit kemudian, hujan berhenti, menyisakan gerimis lembut. Saya berangkat ke warung naik motor. Greng greng greng greng !

Sesampainya di warung, lumayan antri. Saya mendapat antrian ketiga. Tak lama kemudian, tolak angin sudah ada di tangan saya. Saya hendak pulang. Tapi, hujan deras tiba-tiba turun, berkali-kali lipat derasnya dari hujan sebelumnya. Membasahi semuanya, termasuk motor saya. Saya terduduk di bangku depan warung, menatap hujan, air yang mengalir dari jalan menuju halaman warung, dan motor saya yang terpaksa mandi sore.

"wah, hujan ini bakal lama," kata pemilik warung. Saya hanya tersenyum sambil menoleh ke arah langit. Langit sangat hitam, tak menyisakan warna biru sedikitpun. Lalu saya kembali menatap hujan, sekarang tampak menari-nari kian kemari bersama angin. Ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang. Cantik sekali! Saya menjadi semakin cinta hujan. Inilah hujan bulan juni.

Satu dua motor melaju menembus hujan. Ah, iri saya melihat mereka. Saya ingin hujan-hujanan juga.

"mau pulang, dek? Saya pinjami payung, motornya ditinggal aja, nanti papanya suruh ambil," saran pemilik warung.

"gak, om. Nunggu reda aja. Orang rumah lagi pada sakit, takut ikut sakit," jawab saya. Tapi, sedetik kemudian saya berkata dalam hati jika saya ingin menembus hujan saja seperti orang tadi. Hujan-hujanan.

"nunggu reda?" tanya pemilik warung.

"emang bakal lama, ya?" tanya saya sok memastikan. Pemilik warung mengiyakan. Dalam hati saya tersenyum, dan berniat melakukan langkah selanjutnya. "kalo lama, mending pulang sekarang aja," saya sok bergumam, sambil menjulurkan tangan ke depan untuk merasakan hujan melalui telapak tangan saya. Ketika itu, dalam hati saya berkata, hujan, tolong temani saya, teruslah deras sampai lama.

"kan udah keliatan hujan, ngapain di tes pake tangan?" ledek pemilik warung. Saya tersenyum, lalu berlari kecil menuju motor yang diparkir di halaman warung. Menaiki motor, dan melaju menembus hujan dan angin. Wow! Waaaaaaaaaa teriakan saya tidak hanya di dalam hati, saya mengeluarkannya seperti muntahan yang sudah tak tertahankan. Saya membiarkan sensasi kehujanan hingga sampai di depan rumah.

Basah kuyub badan saya, semuanya. Saya turun dari motor, membuka jaket dan menggantungkannya di stang motor, lalu berlari kejalan sambil berteriak 'huuuuuaaa' berkali-kali. Melempar sandal ke teras, lalu berputar-putar di tengah jalan depan rumah. Berlarian kesana-kemari sambil memainkan genangan-genangan air. Merentangkan tangan, menengadahkan wajah untuk menikmati rintikan hujan melalui saraf-saraf pipi, lalu membuka mulut untuk menelan air hujan sebanyak mungkin (saya memilih air hujan yang tidak melewati daun/atap rumah, hanya asli dari langit).

"lily! Nanti kamu sakit!" teriak papa dari dalam rumah. Saya hanya nengir, tak berniat menghentikannya sama sekali.

Setelah itu, kembali berlari kesana-kemari sambil berteriak. Memainkan air yang ada di selokan kecil depan rumah, dimana, airnya penuh dan mengalir deras. Menyiduk airnya dengan kaki dan membuangnya ke atas. Memasukkan daun kering ke air selokan dan berlari mendahului daun menuju hilir. Huuuuuaaaah, senangnya sore ini! Senangnya sore ini! Teriak saya dalam hati.

Tamu tetangga sebelah keluar rumah mengintip saya, tapi tidak saya pedulikan. Anaknya yang kira-kira berusia 6 tahun menatap saya dengan wajah sangat iri, juga tak saya pedulikan. Akhirnya saya hujan-hujanan. Hujan bulan juni.

Sekarang, setelah mandi, dengan kepala berbalut handuk, saya merasakan sakit kepala. Cenat-cenut.

Langit, terima kasih untuk hujannya sore ini. Hujan bulan juni akhirnya membuat saya senang, membuat penat akan data-data tadi terlupakan. Saya senang sekali sore ini.

Langit, terima kasih untuk hujannya!
:D
Read More......

hanya kisah saya 12

Ini ujian SPMB pertama. 30 menit menuju jam 8 pagi, Saya dan beberapa rekan disuruh masuk ke ruang ujian. Waktu itu, saya ujian di gedung fisiks FMIPA lantai 1, tepat di bawah tangga besi berputar (itu ruang kelas berapa ya?).

Karena lagi males nulis, saya persingkat saja ...
:D

setelah 3/4 waktu ujian berlalu, seorang dosen pengawas berjilbab n berkacamata tebal berkeliling kelas, hingga tiba kepada saya. Dia berdiri disamping saya dan mengamati kertas ujian saya. Tiba-tiba ...

"kok dikit amat ngerjainnya? Soalnya susah2 ya?! Yang lain penuh..." suara lantang beliau di tengah kesunyian ujian membuat petir tiba-tiba datang.

Semua orang memandang saya, menoleh ke arah saya, sambil senyum. Saya menggerutu berkali-kali dengan dosen pengawas itu. Dikit emang dikit, tapi jangan dipublikasikan, dong, bu! Saya memang gak pinter, tapi jangan dipublikasikan, dong, bu!

Saya diam menunduk, lalu setelah ibu pengawas ke calon mahasiswa lain, saya menoleh ke kertas anak2 lain. Ternyata mereka penuh semua. Kanan, kiri, sebelahnya kanan, sebelahnya kiri. Waaaah, mereka bisa, kenapa saya tidak bisa? Akhirnya saya kembali mengotak-atik soal lagi dengan lebih giat.

Musik patah hati terdengar,"jreng jreng jreng". Tetep gak bisa. Cuma segitu yang yang saya bisa. Saya hanya memandangi kertas ujian saya.

Akhirnya saya putuskan pasrah saja. Biarlah orang berkata apa, aaaaaa. Manusia tiada yang sempurna, aaaaaaa. Kuterima kau apa adanya...

Menit2 selanjutnya saya bosan dan tidak berniat menyentuh soal lagi. Punggung yang tadinya kaku saya sandarkan pada kursi, dan mulai mengajak mata berkeliling melihat rekan2 seperjuangan. Dari depan, sampai belakang. Eits, mata saya berhenti pada rekan yang ada di belakang saya (tidak tepat, tapi serong ke kanan). Dia tampak melirik kertas jawaban saya, lalu mengisi di lembar jawabannya. Lalu melihat kertas jawaban saya, lalu kembali mengisi kertas jawabannya. Dia tidak menyadari tatapan saya. Saya membalikkan kertas jawaban, dan pada akhirnya kami bertatap mata. Dia nyengir lalu pura-pura ikut berkeliling mata. Huh! Dasar!

Pengumuman satu bulan kemudian. Saya bernazar...

Horeeee!! Saya lulus. Dari 60 calon mahasiswa di ruangan itu, 4 orang lulus. 2 orang di deretan depan, saya di deretan tengah, dan satu orang lagi, dia masuk jurusan penjaskes. Saya liat nomornya, tidak jauh dari saya, saya hitung sesuai bangku, akhirnya saya meyakinkan diri, anak yang kemarin asik sedang menyontek saya, lulus. Huuuuuuuu

saya cek ulang pengumuman itu, benar-benar hanya empat orang. Calon mahasiswa yang duduk di sebelah kanan kiri saya (waktu itu jawabannya penuh) tidak lulus.
Hemmm, rasanya ingin berteriak bahagia kepada dosen pengawas itu. Saya memang bisa ngerjain soal sedikit, tapi saya lulus, bu! Saya lulus!
Read More......

hanya kisah saya_11

setelah turun dari bus, dengan lunglai saya berjalan di jalan setapak menuju rumah saya. Langit sore masih tampak cerah namun sengatan matahari terhalangi awan, sehingga tidak terlalu panas. Walau terasa gerah juga.

Senangnya ketika pagar tembok abu-abu sudah nampak mata, sebentar lagi tiba. Ingin segera rebahan, karena lelah badan dan pikiran akibat pembicaraan di kampus tadi. 20 meter lagi sampai di depan pintu gerbang.

"mbak! Mbak! Mbak!" suara laki2 terdengar. Saya menoleh ke belakang. Laki2 itu mengendarai sepeda motor.

Saya membalas senyumnya, karena saya berpikir dia mengenal saya. Atau dia tetangga yang belum saya kenal? Karena beberapa tahun ini memang banyak warga baru dan saya sudah jarang sekali keluar rumah untuk sekedar bercengkrama dengan para tetangga.

"pulang kuliah, ya?" teriaknya sambil berusaha mendekat ke arah saya. Saya mengiyakan sambil senyum seramah mungkin.

"semester berapa?" tanyanya setelah menghentikan motornya di samping saya. Saya jawab kalau sudah semester delapan.

"namanya siapa sih?" tanyanya. Saya mulai bingung, tapi saya jawab juga nama saya.

"kenalin, aku andi" katanya sambil mengajak berjabat tangan. Saya mulai curiga, jangan2 sebenarnya memang saya tidak mengenal dia. Saya mulai berpikir dia punya niat menghipnotis saya, sehingga saya membuang pandangan mata saya ke bawah, ketika ia menatap mata saya. Saya meraih jabatan tangannya sebentar.

"rumahnya mana?" tanya dia lagi. Saya ber'hah' ria, dan dengan terbata saya jawab "itu di depan, sebentar lagi,"

"yang mana?"

"yg abu2" jawab saya makin bingung.

"yang abu-abu mana?"

"ya yang itu,"

"oh, yang abu2 putih ya?" tanyanya. Saya mengiyakan lagi. Makin bingung sekarang.

"aku main, ya," pintanya kemudian. Hah? Gila ya ni orang?

"masih capek, mas, baru pulang,"

"nanti malem, ya?" pintanya lagi. Saya menjawab hah pertama, lalu selanjutnya saya bilang terserah dia.

"ya udah, nanti malem. Sekarang aku pulang, ya," katanya sambil berbalik dengan motornya. Hah? Gila apa ya tuh orang. Lalu dia pergi, meninggalkan saya yang kebingungan.

Saya melanjutkan sisa perjalanan saya menuju rumah, dengan kebingungan. Saya masuk, lalu menjatuhkan diri di sofa ruang tv, masih kebingungan. Tak percaya dengan apa yang barusan terjadi.

Dia penjahat bukan, ya? Apa dia mau merekrut lily jadi anggota NII?

Selanjutnya saya menjadi takut dan kebingungan.

Hari yang aneh, kan? Orang itu aneh, kan?

Read More......