bergeraklah...!!!!

Sesungguhnya alam mengajarkan bahwa kita tak akan pernah bisa berhenti. Meski kita berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak kita mengelilingi matahari.


Air yang tak bergerak lebih cepat usuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin yang tak dinyalakan lebih berdebu. Hanya perkakas yang tidak digunakan yang lebih gampang berkarat.


Alam telah mengajarkan ini. jangan berhenti berkarya, atau kita segera menjadi tua dan tak berguna.


.

.

.

Senin, 22 Oktober 2012

Elang, Let Me Be With You 19

**19**
http://i.istockimg.com/file_thumbview_approve/184895/2/stock-photo-184895-paper-notebook.jpg

3 Januari 2009
Kami berada di dalam pesawat terbang, Elang tertidur pulas sekali di kursinya. Tiba-tiba saya ingin menghitung. Jarak usia saya dengannya dua tahun. Mengenalnya hampir dua belas tahun. Bersama dengannya selama sebelas tahun, tapi menurutnya baru sembilan tahun? Tidak. Kebersamaan kami memang sebelas tahun, dia harus menerima itu. Pacaran jarak jauh selama empat tahun, berarti kebersamaan kami bersihnya adalah tujuh tahun.
Mengapa saya menghitung hal yang tidak penting ini? :O


Melupakan seseorang yang telah memberikan kita banyak hal untuk diingat adalah hal yang sangat sulit, tapi jika itu yang terbaik, maka lepaskanlah. Karena terkadang ketika kita harus melepaskan seseorang, bukan karena tidak mencintainya, tapi karena kita menginginkan orang yang kita cintai tidak terluka.


--- MENGHITUNG ---

Maret 2010          
Om Candra dan aku yang selalu ada di rumah sakit hendak menunggu perkembangan Elang dan berencana melihatnya dengan mata kepala kami sendiri. Sama seperti Om Candra, aku izin dari kantor dan pimpinanku bisa mengerti keadaanku. Hampir setiap malam keempat sahabat Elang datang berkunjung, bahkan Prakoso dan Nicholas hampir setiap hari menginap bersama kami. Abdul Muis belum bisa meninggalkan tugasnya di Surabaya selain akhir pekan.
“Kami tidak bisa melakukan apapun kecuali memberi penanganan yang terbaik ketika otot pernafasan atau otot jantungnya mulai melemah suatu hari nanti. Kita semua harus sudah siap dengan apa yang akan terjadi nanti,” Begitu kata dokter suatu hari setelah mengecek kondisi Elang yang masih tertidur di atas ranjang ICU.
Apakah memang benar itu yang akan terjadi? Dokter semakin sok tahu sekarang. Bukankah kalian masih belum menemukan penyebabnya? Jangan bicara sembarangan kalau begitu!
“Adakah kemungkinan ia akan sadar lagi?” Tanya Om Candra.
“Kami tidak bisa menjawab,” jawab dokter.
Sudah kubilang, dokter memang tidak tahu apa-apa.
Satu minggu kemudian Tante Mirani, Om Hans Nooij, Esther, dan Falia datang bersamaan dari Belanda. Sejak hari itu, hampir setiap hari lorong depan ruang ICU ramai sekali karena kami berkumpul di dekat ruang ICU. Kami juga bergantian menunggu Elang di samping ranjang kamarnya.
`           Suatu malam di samping ranjang Elang, Tante Mirani menangis.
“Jika kamu begitu menderita, mami ikhlas, Nak, kamu bisa pergi segera,”
            Aku tidak, Lang! Aku tidak akan melepasmu, maka kamu tidak akan pernah bisa pergi. Itu janjimu waktu itu, ingat janjimu waktu itu! Kamu harus bangun dan sehat kembali. Tunjukkan keajaiban sekali lagi!
Aku masih berharap keajaiban pada Tuhan, bahwa Elang akan bangun dari koma, dan menjadi pulih berangsur-angsur kemudian. Begitulah harapan itu muncul setelah mendapati sebuah kasus di lain negara. Bahwa pasien tersebut bangun dari koma, dan beberapa bulan kemudian bisa menaiki tangga memperbaiki atap rumahnya yang bocor. Tapi aku menjadi pesimis karena ketika kuingat-ingat lagi, pasien tersebut tidak memiliki penyakit seperti Elang.
Bisakah keajaiban itu datang sekali lagi?
 “Wakker worder Elang, ik ben er al (Bangun, Elang, aku di sini),” Esther menangis di samping Tante Mirani.
            Tuhan, bolehkah aku tidak berputus asa kali ini? Apakah permintaanku untuk Elang tetap hidup begitu berat untuk dikabulkan?Dia segalanya bagiku, apakah bisa aku melepaskannya?Apakah sekarang ia begitu menderita dan sedang berteriak dalam hati hendak mati saja atau sedang meminta tolong agar kami memberikan penanganan terbaik?
            “Makan malam dulu,” Prakoso tiba-tiba membuka pintu kamar ICU Elang. “Biar aku yang menunggu Elang di sini,”
            “Kalian makan saja duluan. Nanti setelah kalian, tante makan,” jawab Tante Mirani cepat sambil mengusap-usap tangan Elang. Prakoso tampak masuk agar mendekat ke arahku.
            “Esther, let’s get dinner with us,” ajakku lembut pada Esther. Esther mengangguk sambil berjalan keluar kamar bersama aku dan Prakoso.

***

            Sore itu aku berteriak di ruang ICU sambil melempar ponselku ke lantai. Prakoso langsung memungut ponselku dan menarikku keluar dari ruang ICU. Ia menepuk-nepuk pundakku agar bisa meredakan emosiku, lalu kembali menarik tanganku hingga ke parkir rumah sakit.
            “Terkadang mereka sangat jahat,” kesalku setelah Prakoso berhasil membuatku duduk di kursi mobil samping kemudi.
            “Bukan begitu. Jika bisa, mereka nggak akan membuatmu mengurusi urusan kantor saat ini,”
            “Apa nggak ada orang lain?”
            “Kamu sudah menerima tanggung jawab ini sejak Desember kemarin. Jangan berhenti menjelang akhir. Ini bukan hanya akan menjadi urusanmu, tapi urusan semua orang di kantor,”
            “Persetan dengan semua orang,”
            “Kamu harus bertanggung jawab. Dan Elang nggak mungkin suka melihat kamu lari dari tanggung jawab hanya karena dia,”
            “Aku kesal,”
            “Kerjakan saja revisinya, aku yang akan memantau Elang dari sini untuk kamu. Aku janji, ketika membaik atau memburuk, aku akan segera mengabari kamu,”
            “Tapi aku ...”
            “Aku antar kamu ke rumah, lakukan dengan baik. Jika sudah selesai, aku akan segera menjemput kamu lagi kemari,”
             Jam tiga malam aku berhasil menyelesaikan revisi rancangan yang diminta klien. Dan segera kembali ke rumah sakit dengan membawa laptop dan berkas penting untuk diambil Vira esok hari. Vira bersedia membantuku menyelesaikan sisa persiapan untuk rapat nanti sore.
Hari ini sejak pagi Elang beberapa kali kejang-kejang  masih di ruang ICU. Nafasnya masih tidak teratur sama seperti kemarin, terkadang cepat, terkadang terlalu lambat. Melihat kondisinya, aku selalu menangis.
“Tante, aku mau jemput Tante Ayu di rumah. Esther mau ikut,” Prakoso tampak dari balik pintu tengah menatap Tante Mirani. Tante Mirani bangkit dari bangku samping ranjang Elang dan keluar kamar sebentar.
            “Kamu harus kuat, Sa. Kita tahu bahwa Elang lebih menderita dari pada kita. Kita ada di sini untuk menguatkannya dan memberikan semua yang terbaik yang kita punya. Jika kamu menangis seperti ini, ia bisa mendapat kekuatan dari mana lagi?” Falia memelukku.
            Tiba-tiba ponselku bergetar, membuatku melepaskan pelukan Falia.
            Vira.
            Aku mengangkatnya untuk mencari tahu ia menungguku dimana. Ternyata Vira saat ini sudah ada di depan pintu utama ruang ICU, sehingga dengan cepat aku menghampirinya dengan membawa laptop dan berkas file.
            “Mau kemana, Sa? Ada apa?” Tanya Fredi ketika melihatku keluar dari kamar ICU Elang dengan tergesa-gesa. Di luar kamar ramai sekali. Fredi, Ramadhan, Nicholas, Om Candra, dan Om Hans Nooij. Rupanya Esther benar sedang ikut Prakoso, karena tidak ada Esther di antara mereka.
            “Vira menunggu di depan pintu utama ruang ICU,” jawabku sambil kesusahan membawa laptop dan berkas dengan wadah yang masing-masing terpisah.
            “Maaf, Sa. Kami bukan tidak peduli dengan kondisi kamu. Tapi proyek ini sudah kamu ambil tiga bulan yang lalu dan nggak mungkin untuk mengganti kamu dengan orang lain,” kata Vira setelah aku menemuinya.
            “Iya, aku mengerti. Aku minta maaf karena nggak bisa ke kantor beberapa hari ini,” jawabku.
            “Jangan bersedih, karena Tuhan akan selalu memberikan jalan terbaik bagi Elang,” Vira mencoba menghiburku. Aku menangguk sambil mengajaknya duduk di bangku lorong dekat pintu utama ICU. Aku mulai menyalakan laptop dan memperlihatkan file desain yang sudah aku revisi sejak kemarin sore.
            “Ini desain revisi yang sudah kubuat. Setelah berhasil mengingat lokasi proyek itu, desain ini memberikan sirkulasi angin dan udara yang sempurna. Ada perubahan di bagian timur. Melihat letak tanah sekitar, aku memprediksi bagian timur ini nantinya akan terhalangi oleh bangunan lain,” kataku sambil memperlihatkan gambar desain tersebut. Sambil menjelaskan sedikit revisi dan menunjukkan arah gerakan angin.
            Vira mengangguk-angguk mengerti.
            Apa yang terbaik dari Tuhan untuk Elang saat ini?
            “Sa? Gelisa?” Vira mengagetkanku.
            Aku melamun.
            Aku kembali menjelaskan lebih detil lagi.
            Apa yang Elang rasakan saat ini? Apakah benar terasa sakit? Apakah jalan terbaik buat Elang adalah merelakannya pergi agar ia tidak merasa sakit lagi? Tidak adakah jalan lain agar ia tidak sakit lagi? Jika benar hanya itu jalan terbaik, apakah benar aku harus membiarkannya pergi?
            “Gelisa?”
            Aku sekarang menjadi tidak bisa fokus pada pekerjaan.
            “Tolong kamu perbaiki proposalnya, ya, sesuai penjelasanku tadi,”
            “Untuk itulah aku di sini, membantumu,’ jawab Vira.
            Aku kembali memberi arahan kepada Vira dan beberapa kali pula Vira mencatatnya ke dalam sebuah note berukuran sedang. Tapi kemudian aku terhenti ketika aku melihat beberapa dokter dan perawat tengah berlari-lari menuju pintu ruang ICU.
            Apakah mereka datang untuk Elang?
            “Gelisa, ada apa?”
            Dokter, kenapa kalian berlari seperti itu?
            Aku langsung berlari mengikuti dokter dan perawat tersebut yang berakhir di kamar ICU tempat Elang dirawat. Suara elektrokardiografi, alat yang merekam aktivitas jantung berbunyi tidak senormal biasanya dan elektrokardiogram di monitornya menggambarkan garis-garis yang berbeda dari garis-garis sebelumnya.
            “Defibrillator!” Perintah salah satu dokter sambil memberi CPR pada Elang dengan menekan-nekan dadanya secara terus menerus. “100 Joule!” Teriaknya lagi sambil terus memberikan CPR hingga defibrillator siap digunakan.
            “100 joule,” kata dokter lain sambil memberikan elektroda defibrillator kepada dokter yang mengurusi Elang. Tubuh Elang mengalami kejut sekali ketika elektroda defibrillator menempel di sekitar dada Elang.
            “150!”
            “150,”
            Hingga akhirnya suara elektrokardiografi berbunyi nyaring dan elektrogram membentuk garis datar tiba-tiba. Dokter mengumumkan kematian Elang.
            ”8:16 malam ...”
            Mendengar itu, aku terduduk di lantai, sementara Tante Mirani berlari mendekati Elang sambil menangis. Tante Mirani mengusap-usap wajah Elang dengan lembut. Tak lama kemudian Falia memelukku sambil menghapus air mataku sambil ikut meneteskan air matanya. Sementara seorang perawat tengah sibuk mencopot semua alat yang selama ini digunakan Elang di ruang ICU.
            Sekali lagi, perkara mati dan hidup bukan di tangan dokter, tapi di tangan Tuhan. Siapa sangka ketika dokter menyatakan bahwa Elang akan sembuh sejak diagnosa awal, ternyata Elang berakhir begini, hanya hidup satu tahun lebih setelah itu.
            “Apakah kamu sudah sampai home plate itu, Lang?”
             

Read More......

Elang, Let Me Be With You 20

**20**

Menemukan cinta lalu jatuh kepadanya adalah hal mudah. Hal yang sulit adalah menemukan seseorang yang kehadirannya menjadi seseorang yang terus menerus kita inginkan.

--- THE LAST DIARY ---

22 Maret 2010
20:16
Elang kembali ke home plate. Dokter mengatakan Elang sudah menyetujui secara tertulis bahwa ia bersedia menyumbangkan seluruh tubuhnya untuk penelitian tentang penyakit baru ini. Kami kaget dibuatnya karena sebelumnya Elang maupun dokter tidak pernah membahas hal ini.

Inikah yang Elang inginkan? Tidak menangisinya walau di depan makamnya nanti? Ya, dia akan tidak punya makam setelah ini. Aku akan menangis di hadapan langit saja kalau begitu.


23 Maret 2010
Saya menjadi suka sekali mendongak ke arah langit akhir-akhir ini, selalu bisa menyisihkan waktu untuk menyaksikan perubahan lukisan-lukisan yang dibuat awan dalam beberapa detik saja. Mendongak ke arah langit seperti memaksa lagi air mata untuk kembali masuk ke kantung air mata. Entah dalam beberapa waktu lagi rutinitas mendongak ke arah langit seperti menyapa untuk meredakan kerinduan.

Langit, apakah kalian sedang bersama-sama melihat saya? Apakah kita bertiga sedang saling bertatap-tatapan? Dan ia masih bisa membalas senyum saya?Apakah ia mendengar salam saya?Apakah rindunya sebesar rindu saya? Hmmm, tetap tidak bisa mendapat jawaban apa-apa. Pada akhirnya saya hanya bisa titip Elang kepadamu, langit ...


25 Maret 2010
Merelakannya dan membangkitkan diriku adalah cara yang bisa membuatnya lebih tenang dan senang di Alam sana. Bagiku, merelakan kepergiannya berarti tidak mengingatnya. Aku akan meninggalkan apapun yang akan bisa mengingatkanku kepadanya. Aku akan kuat dan bangkit kembali, agar dia lebih tenang dan lebih bahagia.

Bye diary !
Read More......

Jumat, 17 Februari 2012

SURAT CINTA : Kepada Bapak Ibu Yang terhormat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam cinta dan keselamatan untuk kami dan kalian. Semoga surat ini terbaca, dan masih dengan rasa kasih dan sayang, saya ingin menyampaikan surat cinta kepada bapak ibu yang terhormat.

Datanglah suatu waktu ke pinggir sawah luas dimana para buruh tani sedang sibuk menanam pohon padi. Bapak ibu yang terhormat dengan pakaian dan sepatu rapi disertai beberapa kamera media publik, maka mereka akan serta merta berhenti dan datang menghampiri berharap bersalaman (menyentuh kulit tangan kalian), sambil membungkuk mengharu biru. Mungkin kalian merasa tinggi dan membanggakan diri karena menjadi yang terhormat. Tapi jika diselami, itu adalah bukti kasih dan sayang sebagian dari kami. Itulah ucapan terima kasih yang terucap, ‘terimakasih karena kalian berdiri atas nama kami dan berani menyuarakan keinginan kami. Kami mempercayai kalian untuk membuat kami ada di tempat kami berpijak ini‘

Itukah uang bapak saya? Beliau yang pernah bertahun-tahun berjalan kaki mengajar pulang pergi ke tempat yang jauh, senantiasa mendapat potongan gaji untuk membayar kewajibannya kepada negeri kami, melalui tangan-tangan kalian. Mungkin tidak besar potongan gajinya, tapi itulah kasihnya kepada negeri. Itukah uang ibu saya? Beliau juga pernah mendaki gunung untuk mengajar di sebuah sekolah dasar terpencil, juga mendapat potongan gaji untuk membayar kewajibannya. Itukah yang kalian lakukan terhadap kami?

Bapak ibu yang terhormat, jika tidak siap malu, jangan berbuat hal yang memalukan. Saya memang rakyat pasif, tapi saya bisa menjadi gemas melihat tingkah kalian. Saya menjadi mengerti mengapa pendemo kadang-kadang bersikap anarkis, karena sudah gemas tingkat akut. Saya menjadi ingin melempar sesuatu (seperti beberapa orang yang berani menghadang salah satu ibu terhormat setelah sidang) kepada kalian, tapi saya disini, melempar ke arah kalian, televisi saya akan menjadi rusak. Bagaimana saya menyampaikannya kepada bapak ibu yang terhormat sekalian? Apakah sebuah surat yang mencaci dengan penuh santun bisa diterima oleh kalian?

‎Mencaci pun saya masih merasa bapak ibu sama seperti saya, makhluk yang diciptakan Tuhan dan hidup di negara yang berketuhanan. Kalian tidak layak dicaci, sebagai manusia. Mungkin saya hanya akan mengirim surat berisi kalimat-kalimat tangis hingga di akhir kertas. Sekarang, saya hanya bisa berharap, untuk bapak ibu terhormat yang masih menjadi kebanggaan saya beberapa tahun lalu dan sekarang, saya berdoa agar bapak tidak termasuk ke dalamnya. Saya yakin diantara kalian ada yang ikut meringis dan menangis bersama kami, dalam doa-doa tulus atas nama kami.

Ketika Tuhan tidak dianggap ada, ketika sumpah dianggap hanya kata, ketika tidak ingat mati. Saya pun tidak bisa berdoa untuk keselamatan kalian. Berdoa diberikan azab kepada kalian pun saya yang merasa dirugikan tidak pantas. Tersenyum untuk kalian hanya melahirkan kesinisan, tawa saya lepas karena iba. Bapak ibu yang terhormat, kalian berdiri karena kepercayaan kami, bahkan saya sempat mempercayakan kepada kalian hanya karena sebuah foto dan motto yang pernah kalian sampaikan, saya percaya walau tidak pernah sekalipun mengobrol, atau bertatap muka.

Bapak ibu yang terhormat, saya sudah puas tertawa iba. Selanjutnya saya ingin menangis di pelukan kalian, tolong usapkan air mata saya, dengan kulit tangan kalian. Apakah akan terasa hangat? Atau dingin? Saya benar-benar menyayangi dan mengasihi kalian, tidak membutuhkan balas, saya hanya ingin mendapat senyuman tulus. Tapi jika itu juga tidak bisa, jangan dipaksakan tersenyum tulus, cukup ingat tangan-tangan kami yang masih bertumpu pada pundak bapak ibu yang terhormat.

Read More......

Jumat, 27 Januari 2012

Jangan cuma mimpi bisa ke luar negeri gratis

Tau gak, sih, lo... ada ratusan beasiswa yang disediain negeri-negeri eropa untuk mahasiswa indonesia. Kaya Belanda tuh. Biasanya beasiswa yang disediain itu untuk mahasiswa yang mau ngelanjutin sekolah S2 atau nanti gelarnya Master. Semuanya ditanggung. Dari tiket pulang pergi indonesia-Belanda, biaya kuliah, dan biaya hidup di Belanda sana. Malahan ada yang pernah bilang kalo kadang ada kursi beasiswa yang gak ada mahasiswa beasiswanya. Soalnya banyak mahasiswa yang gak punya cukup informasi buat ngajuin proposal. aje gile ... pas tau masalah ini, gue jadi semangat banget nyari tau tentang program beasiswa ini. Gak tau kenapa, gue pengen banget ke Belanda, negeri kompeni itu. Tapi, jujur deh, selain Belanda, ada banyak beasiswa lain dari negeri-negeri di eropa, di amerika, dan asia sendiri. so, banyak-banyak lah cari-cari info.


Beasiswa yang dikasih Negeri Belanda biasanya diurus sama Nuffic - organisasi yang mengkoordinasi kerjasama internasional di bidang pendidikan tinggi. Nuffic disini cuma ngasih dana. Jadi, mendaftar universitas dan memilih program studi, itu sih, lain lagi urusannya.

Pilih-pilih

Yang pertama kali perlu dilakukan kalo elo berminat banegt buat nerusin kuliah di Belanda, ya harus cari-cari info tentang jurusan dan universitas yang tepat,yang pengen elo datengin dan jurusan yang pengen elo pelajarin, dan harus sesuai sama jurusan S1 elo tentunya. Cari informasi sedetil-detilnya, karena di internet banyak banget yang ngebahas masalah jurusan macem gini dan dari universitas yang elo pengenin tentunya.

kalo elo udah nemu universitas yang elo pengenin, jangan ragu-ragu untuk mengontak universitas yang bersangkutan lewat e-mail. Tiap program studi biasanya nyantumin contact person di situs mereka. Dan, jangan takut gak dibales, contact person universitas-universitas di Belanda biasanya terbuka dan sigap bantu kita yang pengen kuliah disana.

Motivation Letter

Kalau semua yang elo cari udah jelas (syarat, kurikulum, dll) cepetan elo ngirim formulir dan berkas pendaftaran ke universitas bersangkutan. Gampangnya lagi, sekarang universitas di Belanda rata-rata udah nerima pendaftaran secara online. Jadi semua berkas bisa dikirim lewat e-mail, nggak perlu lagi susah-susah ke kantor pos. Yang perlu diperhatikan adalah: lengkapi semua dokumen. Dan buat CV dan Motivation Letter secanggih-canggihnya. Maksudnya, yang catchy, segar, menarik, dan meyakinkan. Bahasa yang digunakan juga harus sempurna. Jangan sampe batal diterima gara-gara banyak kesalahan eja atau penggunaan gramatika yang amburadul.

Kirimlah berkas pendaftaran ini sedini mungkin. Artinya, kalo elo niat mulai kuliah bulan Agustus 2011, berkas pendaftaran udah harus masuk selambat-lambatnya Oktober 2010. Atau kalo mau mulai kuliah Februari 2011, berarti April tahun sebelumnya semua berkas udah harus dikirim. Jangan lupa, cantumin di formulir pendaftaran elo punya rencana ngajuin beasiswa tertentu, biar pihak universitas juga bisa koordinasi dengan lembaga beasiswa disana.

Beasiswa

Untuk memilih beasiswa yang cocok, Kawan elo bisa cari di webnya nuffic atau webnya neso. elo googling aja ya, nanti keluar kok. Di web itu, mereka punya bejibun program beasiswa.

Nah, beberapa bulan setelah bekas pendaftaran diterima, universitas akan ngabarin apakah elo diterima di program studi mereka.Kalau nggak diterima? Perjuangan belum selesai, coba universitas lain tahun berikutnya!

Kalau diterima? Perjuangan juga belum selesai, waktunya daftar beasiswa.
Sebenarnya prosedur daftar beasiswa juga hampir sama seperti daftar universitas. cuma, universitas biasanya akan ngasih semacam surat pernyataan/rekomendasi untuk dilampirkan waktu mendaftar beasiswa. Isinya kurang lebih mengenai alasan mereka nerima elo, dan kenapa elo dianggap berpotensi untuk nerima beasiswa itu. Pendaftaran beasiswa ini juga ada deadline-nya. Jadi, sering sekali terjadi, mahasiswa diterima di universitas, tapi gak nerima beasiswa gara-gara telat daftar. Makanya, itu tadi, daftar ke universitasnya juga harus agak cepet. Biar ngurus beasiswanya lancar.

Kalau CV dan Motivation Letter elo menarik hati (atau simpati dan rasa kasihan) Nuffic, mereka bakal ngehubungin elo. Dan, dijamin, waktu beasiswa dinyatakan berhasil diraih, jalan menuju Belanda akan semulus jalan tol Padalarang waktu baru dibangun.

Universitas

Mengajukan beasiswa kelihatannya ribet? Mungkin iya. Tapi nggak berasa, kok. Kan prosesnya makan waktu kurang lebih setahun. Jadi ribetnya dicicil. Kalau males ribet mengajukan dua application (ke universitas dan ke Nuffic), silakan bayar sendiri. Eh, maksudnya, silakan cek juga situs-situs universitas Belanda. Beberapa universitas juga punya program beasiswa sendiri, seperti beasiswa Eric Blumink dari Universitas Groningen, dan beasiswa Utrecht Excellence dari Universitas Utrecht. Intinya, aktiflah nyari-nyari informasi dan jelilah memanfaatkan kesempatan. Asal gak kesempitan aja.

kalo urusan pengumuman beasiswa, gue punya situs yang ngasih pengumuman beasiswa. nanti gue kasih tau ke elo ya apa situsnya. hahahaa gue lupa
Read More......