bergeraklah...!!!!

Sesungguhnya alam mengajarkan bahwa kita tak akan pernah bisa berhenti. Meski kita berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak kita mengelilingi matahari.


Air yang tak bergerak lebih cepat usuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin yang tak dinyalakan lebih berdebu. Hanya perkakas yang tidak digunakan yang lebih gampang berkarat.


Alam telah mengajarkan ini. jangan berhenti berkarya, atau kita segera menjadi tua dan tak berguna.


.

.

.

Senin, 14 Juni 2010

15/06/2010
05:54:43
asw, cb qt bka kmpter/laptop qt, go to my cmpter, klik wndows (C, klik progrm files, klik mcroft office, klik media, open CAGCAT 10, cr gmbr brnm J0285926),qt akn nmuin gmbr lambg/bndra zionis Israel lgkp(prsis dg wrn asli'y)dg lilin(srna ibdh mrk)
HAPUS! gbr tsb di smw PC dslrh dnia. Tlg sbrkn smmpuy..
dari
"sahabat"


ketika saya baca tadi pagi, saya langsung berpikir, bukan mengikuti perintah di akhir sms itu untuk menyebarkannya.

entah mengapa saya tidak suka dengan sms itu. bukan karena saya pro Israel dan zionis serta kekejaman mereka, bukan pula karena saya bukan sosok Islam fanatik. saya muslim. sungguh saya muslim, dan insya Allah sampai mati.

kalimatnya itu loh. lalu, kalau saya hapus, Israel akan bagaimana? bangkrut lalu tidak punya biaya perang? atau Gaza dan Islam disana akan bagaimana? langsung merdeka? saya rasa itu tidak mungkin.

isi kaimat dalam sms itu seperti bersuara kebencian, berlatar amarah. Bukan saya tidak benci atau marah dengan sikap Israel, sungguh bukan itu. tapi, kalimat itu seperti mengajak saya untuk mengisi hati saya dengan kebencian dan kemarahan dalam menanggapi sesuatu.

bukankah Islam mengajarkan kita untuk menjauhi "kebencian" dan kemarahan"?

oke, begini saja. konkretnya.. jika ingin berempati dengan keadaan disana. jika gambar itu ada pada program Microsoft office, jangan pakai program itu. jika ada di merk laptop atau komputer, jangan beli..
bukankah menghapus gambar itu sangat tidak berarti buat ISrael? mereka tidak paduli itu. kalau produknya dibeli, beres sudah bagi mereka. mereka tak perlu khawatir sama sekali akan terhapusnya gambar itu...

jadi, intinya adalah, sesuatu yang berlatar amarah, dan hati dipenuhi kebencian, sungguh bukan karena lillahi ta'ala... tapi karena muslihat syaiton.

bukan saya menggurui, tapi mari kita berdoa setuluss dan sebanyak mungkin, jika raga tak mampu menjadi relawan disana dan harta sungguh tak bisa kita sisihkan.
Read More......

Perenungan dan Soe Hok Gie

Tulisan ini berawal dari kekaguman sama tentang Soe Hok Gie. Jelas saya merasa telat sekali, lantaran sosoknya sudah gempar beberapa tahun lalu. Waktu itu, saya biasa saja. Tapi, bulan kemarin, untuk ketiga kalinya saya menonton film “Gie”, bukan untuk menonton Nicholas Saputra idola saya, tapi untuk memahami isi film nya, saya jadi terpesona dengan sosok Soe Hok Gie. Kasihan sekali saya ini…

Saya membayangkan sosok Soe Hok Gie nyata, yang berlakon lagaknya film “Gie” garapan sutradara Riri Riza dengan lagu-lagu ini mengirinya. Kala ia berjalan, berdiskusi, diam merenung, menulis, atau mengetik, atau sekadar bermain-main dengan anjing-anjingnya atau meratapi manusia-manusia yang tak bisa ia lihat atau manusia-manusia yang berada dalam jangkauan matanya.


Soe Hok Gie, sepertinya memang benar seperti apa yang dikatakan seseorang, masa depannya luas dengan banyak kemungkinan akan jadi apa ia kelak. Entah disayangkan atau ikut berbahagia ternyata ia tidak sampai menjadi manusia tua. Seperti ungkapan filsuf Yunani yang sempat ia tulis dalam catatan hariannya “… nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda”

Pringsewu, 30 Mei 2010
(dalam perenungan)





Donna Donna (Ost. Gie)

On a waggon bound for market
There's a calf with a mournful eye.
High above him there's a swallow,
Winging swiftly through the sky.

Chorus:
How the winds are laughing,
They laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
And half the summers night.

Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.

Stop complaining! said the farmer,
Who told you a calf to be?
Why don't you have wings to fly with,
Like the swallow so proud and free?

Chorus:
How the winds are laughing,
They laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
And half the summers night.

Calves are easily bound and slaughtered,
Never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
Like the swallow has learned to fly.

Chorus:
How the winds are laughing,
They laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
And half the summers night.






sampaikanlah pada ibuku
aku pulang terlambat waktu
ku akan menaklukkan malam
dengan jalan pikiranku

sampaikanlah pada bapakku
aku mencari jalan atas
semua keresahan-keresahan ini
kegelisahan manusia

retaplah malam yg dingin

reff: tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka-teki malam
tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka-teki keadilan

berbagi waktu dengan alam
kau akan tahu siapa dirimu yg sebenarnya
hakikat manusia

repeat reff

keadilan, keadilan

* akan aku telusuri
jalan yg setapak ini
semoga kutemukan jawaban
repeat * [3x]
jawaban, jawaban, jawaban, oh o





Cahaya Bulan. Erros ft Okta

perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
cahaya kota kelam mesra menyambut sang petang
di sini ku berdiskusi dengan alam yg lirih
kenapa matahari terbit menghangatkan bumi

aku orang malam yg membicarakan terang
aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang

perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
cahaya nyali besar mencuat runtuhkan bahaya
di sini ku berdiskusi dengan alam yg lirih
kenapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi

aku orang malam yg membicarakan terang
aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang

reff: cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
yg takkan pernah aku tau dimana jawaban itu
bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi
sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati

terangi dengan cinta di gelapku
ketakutan melumpukanku
terangi dengan cinta di sesatku
dimana jawaban itu
Read More......

Minggu, 13 Juni 2010

catatan seorang demonstran

untuk mendownload e-book "Catatan Seorang Demonstran", kumpulan catatan harian Soe Hok Gie, silakan baca dulu postingan ini... heheeeeee :)


Soe Hok Gie, seorang Indonesia dari keturunan Tiong Hoa. Sungguh ia adalah sosok dengan banyak kemungkinan akan masa depannya. Kritis dan peduli. Ia mulai mencatat kehidupan sehari-harinya sejak remaja, yang ia tulis dalam diarynya. Dan dipublikasikan kepada masyarakat setelah beberapa tahun ia meninggal di usia yang waktu itu masih terbilang muda, yaitu 27 tahun, dipuncak gunung Semeru. Saya suka sekali membaca catatan-catatannya yang dipublikasikan dengan judul buku : Catatan Seorang Demonstran. Ketika membacanya, seolah saya adalah “Gie” yang benar-benar merasakan apa yang ia rasakan ketika itu. Dan ada beberapa kutipan dari catatannya yang saya suka :



Sabtu, 16 Desember 1961
“… bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan : ‘dapat mencintai, dapat iba hati, dan dapat merasai kedukaan’. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita. Lihatlah orang Sparta, mereka adalah orang-orang yang malang. Seorang fasis dimana dimatikan nilai-nilai cinta. Ia adalah sekrup saja…”

Senin, 1 Januari 1962
“… Seperti Ghandi harus mati setelah orang yang spiritual tidak brguna lagi bagi Negara merdeka, yang berguna adalah orang-orang nasional… seperti Sukarno ia hanya perlu sebelum merdeka sebab ia hanya seorang agitator bukan perancang. Tapi ia tetap mau sebagai pemimpin rakyat dan lihatlah akibatnya. Memang hidup ini sangat tragis dan kejam. Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi.”

Senin, 14 Januari 1963
“… dalam keadaan inilah seharusnya kaum inteligensia bertindak, berbuat sesuatu. Aku sekali-sekali tidak bermaksud menyuruh mereka berbuat konyol. Bidang seorang sarjana adalah berpikir dan mencipta yang baru. Mereka harus bias bebas di segala arus-arus masyarakat yang kacau. Seharusnya mereka bias berpikir tenang karena predikat kesarjanaan itu (atau walaupun mereka bukan sarjana). Tetapi mereka tidak bias terlepas dari fungsi seosialnya ialah bertindak demi tanggung jawab sosialnya bila keadaan telah mendesak. Kelompok intelektual yang terus berdiam dalam keadaan yang mendesak telah melunturkan semua kemanusiaannya…”

Jakarta, 25 Januari 1966
“… rombongan memasuki kota Bogor dengan menyanyi Padamu Negeri.
Padamu Negeri aku berjanji
Padamu Negeri aku berbakti
Padamu Negeri aku mengabdi
Bagimu Negeri jiwa raga kami
Lagu ini sudah lama kukenal, sejak di sekolah rendah. Tetapi ketika itu aku sangat terharu dan tiba-tiba sajaknya menjadi sangat indah, puitis sekali. Seolah-olah mahasiswa dating kepada ibu Indonesia dan berjanji untuk menyerahkan jiwa raganya bagi tanah air tercinta.”

“dalam rapat llengkap KAMMI, setiap orang boleh menyatakan pendapatnya. Salah seorang pembicara, Hakim Sarimuda dari fakultas kedokteran, secara tegas meminta agar perjuangan tetap dilanjutkan. ‘kalau kita harus ditembak, kita bersedia. Tetapi kita adalah orang yang ketiga. Yang pertama harus ditembak adalah GESTAPU, lalu koruptor, dan barulah mahasiswa’…”

Rabu, 21 Agustus 1968
“… dan saya kira dengan mengenal manusia dalam detail hidupnya, kita akan lebih mencintai manusia.”

Senin, 26 Agustus 1968
“… saya menajwab dengan melihat Kennedy tentang ‘those who question power’. Pertama-tama kita harus jawab : who am I?’ dan saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa, tapi seorang yang ingin selalu mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi, juga ketidak-populeran. Ada sesuatu yang lebih besar : KEBENARAN.”

Salem, sabtu, 26 Oktober 1968
“… Betapa banyaknya ketidakadilan di dunia ini. Tidak hanya di Indonesia tapi juga dimana-mana di seluruh dunia… seolah-olah dunia ini adalah tumpukan sampah dari nafsu dan ketamakan manusia. Kadang-kadang saya berpikir apakah tidak lebih baik meledakkan dunia ini agar supaya semuanya berakhir. Tapi disamping semuanya itu kita juga melihat manusia-manusia yang bergulat untuk suatu cinta-cita. Sebagian dari mereka berhasil dan jadi orang terhormat Gandhi, Kennedy, tapi berjuta-juta tenggelam dalam ‘sampah-sampah’ dan hilang ditelan waktu… berapakah di antara mereka yang tetap bertahan dalam kegagalan? Saya tak tahu masa depan saya. Sebagai orang yang berhasil? Sebagai orang yang gagal terhadap cita-cita idealisme? Lalu tenggelam dalam waktu dan usia? Sebagai orang yang kecewa lalu mencoba menteror dunia? Atau sebagai seorang yang gagal tapi dengan penuh rasa bangga tetap memandang matahari yang terbit? Saya ingin mencoba mencintai semua dan bertahan dalam hidup ini…”

Salem, Selasa, 29 Oktober 1968
Saya mimpi tentang sebuah dunia,
Dimana ulama-buruh dan pemuda,
Bangkit dan brkata-Stop semua kemunafikan,
Stop semua pembunuhan atas nama apa pun

Dan para politisi di PBB,
Sibuk mengatur pengangkutan gandung, susu dan beras,
Buat anak-anak yang lapar di tiga benua,
Dan lupa akan diplomasi,

Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun,
Agama apapun, rasa apa pun, dan bangsa apa pun,
Dan melupakan perang dan kebencian,
Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik,

Tuhan-saya mimpi tentang dunia tadi
Yang tak pernah akan dating

30-31 Mei- 1-2 Juni 1969
“… empat orang dari rombongan kecuali saya mengucapkan permohonan di Pucak Ciremai. Saya tak tahu apa. Kadang-kadang dalam suasana ini dipuncak gunung kita menjadi religious dan puitis.”

Jumat, 20 Juni 1969
“… dunia ini adalah dunia yang aneh. Dunia yang hijau tapi lucu. Dunia yang kotor tapi indah. Mungkin karena itulah saya lebih jatuh cinta dengan kehidupan. Dan saya akan mengisinya, membuat mimpi-mimpi yang indah dan membius diri saya dalam segala-galanya. Semua dengan kesadaran. Setelah itu rasanya menjadi lega.

Selasa, 15 Juli 1969
“… sisca ceritera-ceritera lelucon tentang arab, mesir, dan israil.
‘ente tahu enggak, sungai nil ane yang gali,’ kata si mesir
‘ ente juga tidak tahu, laut merah ane yang sepuh,’ kata arab
‘ya, tapi lu juga nggak tahu, laut mati gue yang bunuh,’ kata Israel.
Lelucon-lelucon membuat dunia tetap segar.”


untuk mendownload e-book "Catatan Seorang Demonstran", kumpulan catatan harian Soe Hok Gie, silakan download di bawah ini :


download




Read More......

kapitalisme dan pancasila


Kapitalisasi di negeri ini makin kentara. Lambat laut kian terbiasa dan bicara inilah “adanya”. Heuh. Tahu? Dulu “adanya” adalah non-blok, kita punya sendiri, Pancasila. Teoritas Pancasila itu tegak, seperti kalimat-kalimat yang disusun indah dalam pelajaran-pelajaran IPS di Sekolah Dasar. Bukan untuk kaum kapitalis ataupun kaum komunis yang kala itu tengah mengadu kuasa dan kekuatan. Tapi nyatanya benar-benar hanya teoritas.

Setelah komunisme melemah, kapilatisme yang merajalela, sampai ke usuk-usuk jiwa negeri. Sial. Pahamnya bukan paham. Pancasila seperti laksana symbol saja. Lihat anak-anak sekarang berjiwa kapital, kebanyakan anak-anak orang itu. Sekolah, politik, pemikiran, perilaku, pembicaraan, semuanya erat sekali dengan keterpengaruhan ini.

Kita salahkan saja akibat globalisasi. Globalisasi yang menggila dan cepat. Membawa paham-paham kapital yang makin lama makin dianggap mode dam modern. Fiuh… yang tidak tahu dianggap “kuno”.

Dalam pancasila itu ada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lihat saja, kota-kota besar memiliki dua sisi. Sisi foya-foya dan sisi keras. Tiap wilayah yang katanya persatuan Indonesia, terbagi dengan urutan menjulang tinggi tingkat dalam kemajuan dan urutan terakhir dengan sangat rendahnya daya hidup. Sial. Inilah “adanya” zaman sekarang. Zaman kapitalisasi.

Entah dimana Pancasila. Yang makin merasuk jiwa adalah paham yang sudah menjadi mode dan dianggap modern. Makin sirna paham suci kita. Dahulu katanya ada dalam pelajaran “PMP’ yang ketika saya sekolah, sudah tidak ada lagi. Sial. Makin luntur setelah itu. Tanya saja orang-orang sekarang, sedikit sekali yang mampu menyebutkan bunyi pancasila. “lupa. Sudah lama,” biasa lama-lama di dengar dari mulut-mulut negeri ini. Apalagi ditanya makna. Mungkin orang-orang bermulut manis yang mampu memaknai lewat lidahnya. Kamuflase.

Tahulah saya. Kenapa ada paham komunis. Mereka memberontak dengan keadaan yang menggila. Menghujat orang-orang kaya yang makin kaya dengan menindas lalu mengesampingkan kaum miskin. Mungkin sebentar lagi ada lagi paham itu, ketika orang-orang miskin sudah tidak tertahan akan derita.
Tapi akan dengan cepat paham komunis sirna lagi di negeri ini. Karena kita tidak butuh paham itu, dan tidak suka dengan paham kapitalis. Heum…

Lalu apa yang akan dilakukan para pemikir negeri ini? Tentu saja terus berpikir, sampai mati sebelum terealisasi bahkan sebelum sempat mendapat kebulatan jawaban. Karena akar-akar dalam jiwa sudah usang, tak pernah diberi air, dan unsur-unsur pendukung lain. Tinggal menunggu roboh, atau tergantikan akar lain, akar kapitalis. Dan di kemudian hari, tak ada lagi kemanusiaan yang adil dan beradab.

Pringsewu, 13 Juni 2010


referensi




Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasional selama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital....Read more...




Read More......