bergeraklah...!!!!

Sesungguhnya alam mengajarkan bahwa kita tak akan pernah bisa berhenti. Meski kita berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak kita mengelilingi matahari.


Air yang tak bergerak lebih cepat usuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin yang tak dinyalakan lebih berdebu. Hanya perkakas yang tidak digunakan yang lebih gampang berkarat.


Alam telah mengajarkan ini. jangan berhenti berkarya, atau kita segera menjadi tua dan tak berguna.


.

.

.

Sabtu, 09 Juli 2011

LOKER NOMOR 7 _ BAGIAN 5

cerita yang lalu ...

Raras dan Laras mulai menyadari apa yang terjadi. Loker nomor 7 bekerja seperti pintu ajaib doraemon, hanya saja bukan benda-benda yang dapat bertukar tempat, melainkan tinta. Sehingga mereka tidak bisa saling bertukar benda-benda canggih di tahun 2010 atau benda sebagai hadiah satu sama lain. Tapi, karena foto dicetak dengan tinta, mereka lebih sering mengirim foto-foto di tahun masing-masing.

***
19 Desember 2010, Minggu
10:00

Raras menjatuhkan diri di lantai dan duduk lemas menyandarkan punggungnya ke tembok setelah merasa pegal karena sudah hampir satu jam berdiri bersandar di samping pintu. Tadi pagi-pagi sekali Raras sudah keluar rumah dengan ijin jogging pada Kak Anggun, sehingga masih menggunakan celana panjang olahraga lengkap dengan jaket senada berwarna putih. Badannya terasa sangat gerah sekarang, sehingga ia membuka jaketnya dan membiarkan badan bagian atasnya kini berselimut tanktop putih.

“Siapa kamu?” Tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu sambil memperhatikan Raras. Melihat itu, spontan Raras berdiri sambil menenteng jaketnya. Terlihat sedikit keringat tersebar di leher dan lengan Raras dan deru nafasnya yang stabil.

“Raras,” jawab Raras cepat. “Karang?” Tanya Raras memastikan.

“Iya. Saya Karang. Raras siapa?” Tanya seseorang itu.

“Temannya Laras. Tahu?”

“Laras siapa?” Tanya seseorang itu.

Raras bergumam sebentar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu tesenyum ragu-ragu pada seseorang itu. “Dulu kamu pernah tinggal di alamat ini?” Tanya Raras akhirnya memiliki ide dengan memperlihatkan sebuah alamat yang ia tulis di salah satu halaman diarynya. Orang itu membacanya, lalu mengangguk heran sambil menatap Raras.

“Tidak kenal Laras? ini fotonya,” Raras memperlihatkan sebuah foto remaja perempuan yang dikucir satu. rambutnya yang pendek sebahu terlihat sekali walau dengan kuciran itu. Orang itu menggeleng pelan. Melihat itu, Raras mendesah agak kesal.

11:25

Raras kembali membaca surat Laras yang ia simpan di dalam tas olahraga setelah menyimpan rapat diary ke dalam tas. Setelah membacanya, matanya kembali menatap ke luar jendela bus yang berjalan agak lambat. Pemandangan di luar tidak Raras perhatikan, ia pun tak tahu ini daerah mana. Kurang lebih sudah 30 menit perjalanan, setengah perjalanan lagi akan sampai ke rumah Raras.

Sebut saja ini perjalanan mencari Karang. Berjuang menemukan Karang, orang yang Laras sukai. Keluarga Karang sudah pindah dari rumah yang dituliskan Laras dalam suratnya yang panjang. Keluarga Karang sudah pindah lagi ke Austria sejak Karang lulus SMA. Menurut informasi, Karang kuliah di Denmark. Untung saja salah satu tetangga yang mengaku teman satu komplek Karang memberi tahu kalau Karang sekarang di Indonesia, baru sebulan dan memberi alamat apartemen Karang.

“Karang tidak ingat kamu,” kata Raras pelan.

Raras memikirkan sosok Karang. Laki-laki dengan tinggi sekitar 170-an, berbadan lumayan kekar, berkacamata minus berbentuk persegi panjang yang mungil berwarna coklat. Laki-laki itu membiarkan bulu-bulu tipis menutupi kumis dan janggutnya. Menurut Raras, dengan pakaian yang Karang gunakan, ia baru saja berolahraga di suatu tempat. Mungkin di gym.

^^^
20 desember 2010, Senin
09:00

Raras menekan bel pintu rumah yang pernah ia datangi kemarin di hari Minggu. Laki-laki yang sempat Raras temui waktu itu muncul dari balik pintu ketika pintu akhirnya terbuka.

“Kamu lagi?” Sapa laki-laki itu sangat tidak ramah.

“Saya masuk, ya,” Raras memohon kemudian karena tampak sikap laki-laki itu tidak berniat mengajak Raras untuk bertamu di rumahnya. “Sebentar saja,”

09:20

Raras masih mengamati ekspresi wajah Karang yang masih membaca surat Laras. Wajah Karang tampak serius sekali sambil beberapa kali menengadahkan kepala ke atas untuk mengingat-ingat sesuatu.

“Saya ingat pernah dikejar anjing sepulang dari sekolah Taman Kanak-Kanak, dan memang teman saya menolong saya. Saya baru tahu kalau dia yang menolong saya,” kata Karang sambil tersenyum kecil.

“Baguslah,” Raras mencoba menanggapinya dengan bahagia. Mungkin sebentar lagi ia akan ingat tentang Laras.

“Oh, dia juga masih ingat kalau saya pernah hampir tenggelam di danau waktu ada camp sehari yang diakadan TK. Waktu itu saya mengejar katak, lalu peristiwa itu terjadi begitu saja. Untung saja salah seorang guru menyelamatkan saya. Rupanya dia juga yang melihat saya dan segera melapor pada guru,”

“Jadi, sudah ingat Laras?” Tanya Raras. Karang meletakkan surat Laras dan mengambil foto Laras yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Ia mengamati foto Laras lama, lalu menggeleng. Raras bingung, tapi agak kesal. Raras menganggap daya ingat laki-laki ini kurang.

“Masih SMP, ya?” Tanya Karang setelah puas mengamati foto Laras. Matanya kini memandang ke Raras.

“SMA kelas X,” jawab Raras cepat.

20:00
Karang tidak kuliah di Denmark seperti yang diceritakan teman satu komplek Karang waktu itu. Karang kuliah di universitas swasta terkenal di daerahnya. Sudah lulus tahun lalu. Menurut penuturan laki-laki itu, ia tengah merintis suatu usaha bisnis kecil. Mengingat itu, Raras garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

“Kamu melakukan apa dua hari ini?” Tanya Kak Anggun ketika serial drama yang ia tonton sedang rehat menampilkan iklan.

“Tidak melakukan apa-apa,” jawab Raras sambil pura-pura menonton iklan yang sedang diputar di televisi.

“Libur natal kita ke resort. Mama dan Papa besok pulang,” seru Kak Anggun berseri-seri. Raras ikut berseri sambil berteriak hore sekencang-kencangnya sambil membayangkan Surabaya.

Surabaya, kota kelahiran Raras, yang sejak berumur 7 tahun tidak ia tempati lagi. Di tahun itu, Orang tua Raras dan dua adiknya meninggal dunia karena kecelakaan dalam perjalanan liburan ke Bali. Sebuah keajaiban, memang, Raras selamat dalam kecelakaan tersebut walau dengan patah di kaki dan paha kirinya.

Sejak saat itu Om dan Tantenya merawat Raras. Raras dibawa ke ibukota negara setelah kesembuhannya. Resort yang om dan tante Raras punya berada di salah satu pantai di Surabaya, sehingga lumayan sering Raras bisa mengunjungi rumahnya yang dulu. Dengan kasih sayang om, tante, dan Kak Anggun, Raras lupa akan kesedihan ketika kehilangan itu. Ia sama sekali tidak merasakan sedih hingga sekarang.

bersambung ...
Read More......

LOKER NOMOR 7 _ BAGIAN 4

cerita yang lalu ...

Hari-hari berikutnya, Laras mendapat surat balasan dari dalam loker nomor 7. Setiap surat yang terbalas, anak itu selalu berpikir kalau Laras adalah hantu hingga membuat Laras tidak yakin akan wujudnya sekarang. Setelah bertanya pada teman dan mama Laras, akhirnya ia benar-benar yakin kalau Laras bukan hantu gentayangan yang masih merasa hidup. Laras benar-benar masih hidup, bukan hantu. Tapi, pada suatu waktu, Laras meyakini pelakunya bukan berwujud manusia, tapi hantu sekolah. Tapi, mengapa hantu sekolah ini tak pernah berhenti menganggap Laras hantu sekolah juga?

***
24 Agustus 2010, Selasa
06:00

Raras tidak langsung beranjak dari ranjang setelah mematikan jam beker yang tadi terdengar nyaring sekali. Seperti datang tiba-tiba, pikiran tentang pintu ajaib doraemon dengan cepat memenuhi isi otaknya. Sedetik kemudian ia berlari menuju kamar mandi, tak sabar ingin segera pergi ke sekolah.

06:51
Turun dari mobil, Raras langsung berlari masuk ke sekolah. Merasa belum dipamiti, Kak Anggun teriak-teriak sambil membunyikan klakson mobil sekali. Raras yang tersadar, kembali untuk berpamitan dengan Kak Anggun.

“Maap, kak. Raras buru-buru!” teriak Raras sambil melambaikan tangan pada Kak Anggun yang duduk di kursi kemudi. Tanpa menghiraukan Kak Anggun lagi, Raras berlari masuk ke gedung sekolah. Raras langsung mendekati loker nomor 7 dan segera memasukkan kunci yang sejak dari rumah sudah ada di genggaman Raras ke dalam lubang loker nomor 7. Seperti biasa, Raras harus bersusah payah hingga akhirnya loker terbuka. Raras memasukkan secarik kertas yang sudah ia siapkan setelah mandi tadi ke dalam loker yang kosong itu lalu menutup loker tanpa menguncinya.

Sekitar dua menit kemudian, Raras membuka loker dan menemukan secarik kertas. Raras membuka kertas itu dengan kecewa, karena kertas itu masih kertas yang sama yang tadi Raras masukkan. Begitu di menit-menit kemudian, hingga bel tanda masuk berbunyi. Beberapa temannya heran melihat tingkah Raras yang membuka tutup loker itu sedari tadi tapi, Raras tak peduli. Setiap ditanya, ia akan menjawab seenaknya hingga mereka kesal sendiri dan tak ingin bertanya apa-apa.

Satu jam kemudian, pada tengah pelajaran, Raras sengaja minta ijin ke toilet dan mencuri waktu untuk memeriksa isi loker. Tapi lagi-lagi kekecewaan yang ada pada dirinya. Kertas yang ia temukan masih kertas yang sama. Suratnya belum dibalas.

^^^
10:11

Raras dengan cepat menyusuri data-data pribadi siswa di perpustakaan. Ia tengah mencari di buku masuk sekolah tahun 2003. Setiap nama yang mengandung nama ‘Laras’ segera Raras catat di diary yang baru ia beli beberapa minggu yang lalu. Tapi, setelah menemukan 2 nama, Raras terhenti mencari sambil berpikir.

“Kalau nama Laras lebih dari satu, percuma saja,” gumam Raras kemudian.

^^^
25 Agustus 2010, Rabu
10:05

Raras tersenyum membaca surat balasan yang baru ia ambil dari dalam loker nomor 7. Tadi pagi ketika Raras memeriksa loker, masih berisi kertas yang sama seperti kemarin.

saya juga bersumpah saat ini tahun 2003.
mendapat suratmu, saya jadi mulai berpikir kalo loker ini seperti pintu ajaib doraemon.

sungguh saya masih tidak percaya, tapi jika itu benar, bagaimana 2010?

oh ya, saya menempel kalender kecil tahun 2003. apa juga tertempel disana?


Raras segera melirik isi loker. di pintu bagian dalam tertempel kalender kecil tahun 2003 yang bergambar kepala beruang kutub putih berukuran besar dengan sedikit langit di bagian atas kepala beruang itu. Raras takjub agak lama dengan apa yang terjadi. Mata dan jemarinya tak henti fokus pada kalender itu. Setelah puas mengusap-usap kalender, Raras teringat untuk segera membalas surat itu.

sepertinya memang benar loker ini bekerja seperti pintu doraemon.

fantastik! kalender kecil bergambar beruang kutub putih tertempel di pintu bagian dalam loker.

Preseiden sekarang adalah Bapak Susilo bambang Yudhoyono. Kalau diingat-ingat, tahun 2003 masih Ibu Megawati?


tepat setelah bel tanda istirahat telah usai, Raras membuka loker nomor 7 dan menemukan surat balasan.

wow! kalender itu tidak hilang seperti surat kita. kalender yang baru saja saya tempel juga masih menempel di loker saya

susilo bambang yudhoyono? wajahnya memang mulai sering muncul di tv

saya percaya 100% sekarang.
apa kamu murid baru di tahun itu? saya murid baru di tahun saya sekarang. sepertinya kelas kita sama, mengingat loker kita sama



***
18 Desember 2010, Sabtu
11:00

Pembagian raport sekolah hari ini sungguh tidak Raras pedulikan seperti pembagiam raport tahun-tahun sebelumnya. Ia bahkan tidak tahu tentang nilai metematikanya tepat di nilai KKM kalau saja Kak Anggun tidak mengomel. Kak Anggun terus saja memeriksa hasil nilai Raras sambil mengomentarinya satu persatu.

“Di rumah saja, bisa, tidak? Raras ingin segera sampai rumah sekarang,” mohon Raras sambil mengambil raport dari tangan Kak Anggun. Kak Anggun mengomel sebentar tentang sikap Raras barusan sebelum akhirnya menyalakan mesin mobil.

Dalam perjalanan, Raras gelisah, ingin segera membaca surat-surat Laras yang lebih banyak ketimbang hari biasanya. Kemarin Raras bercerita kalau hari ini adalah hari pembagian raport dan akan masuk tanggal 3 januari 2011 mendatang. Agar tidak menimbulkan kecurigaan dan tetap menjaga rahasia, Raras tidak mungkin ada di sekolah dua minggu ke depan untuk berkirim surat dengan Laras.

Sejak hari dimana akhirnya Raras dan Laras mengerti apa yang tengah terjadi, mereka tak pernah berhenti saling mengirimi surat satu sama lain. Raras pun mengembalikan kunci loker nomor 31 dan kembali menggunakan loker nomor 7.

Entah sejak kapan, kejadian hilangnya tas Raras hanya terjadi pada hari itu saja, selanjutnya, loker nomor 7 tidak bisa lagi membawa tas masing-masing ke masa yang berbeda. Hal itu mereka sadari ketika Raras tengah mengirim handphonenya ke dalam loker, atau ketika Laras mengirim ikat rambut yang Laras pakai ketika itu. Sejauh pemahaman mereka, loker 7 hanya mampu menukar tinta. Ya, tinta. Seandainya saja benda dapat bertukar tempat, mereka berdua akan berusaha mampu masuk ke dalam loker yang mustahil untuk diisi oleh tubuh mereka. Selama ini, kertas yang mereka dapat adalah kertas yang sama, hanya saja di atas kertas itu telah berubah wujud menjadi tulisan lain. Tinta warna pada foto juga bisa, sehingga mereka sering sekali bertukar foto.

Raras dan Laras selama ini saling memberi informasi tentang keadaan di tahun mereka masing-masing. Laras tak henti-hentinya berkata bisa menjadi peramal gadungan. Laras bisa mengetahui tentang hal besar yang bisa diingat Raras tentang apa yang akan terjadi di tahun 2003. Maklum saja, di tahun itu, umur Raras masih 9 tahun, banyak yang dilupa, dan hanya hal-hal besar yang Raras ingat. Seperti akan munculnya film Eiffel I’m In Love yang ketika itu, Raras ingat kalau Kak Anggun mengobrol bersama temannya. Atau tentang akan kemunculan kasus Wahyu Hidayat mahasiswa STPDN. Kasus itu merajai televisi di tahun 2003, sehingga Raras masih mengingat kasus tersebut.

Berdasar keterangan Laras, sekolah tidak jauh berbeda dengan tahun 2003, hanya saja, lahan disamping sekolah masih berupa rumah warga, sekarang sudah menjadi kolam renang dan lapangan tenis. Mereka saling memberi foto keadaan tersebut.

“Kak, kita mau kemana?” Pikiran Raras tentang Laras buyar seketika setelah menyadari mereka tidak berada di jalan pulang.

“Makan dulu, laper,” jawab Kak Anggun santai.

“Kenapa tidak makan di rumah saja?” Sungut Raras.

“Makan diluar lebih enak,” jawab Kak Anggun masih santai. Raras menjadi gelisah lagi sekarang. “Kamu kenapa, Ras?”

“Cuma ingin segera sampai rumah,” jawab Raras pelan, pasrah pada akhirnya.

bersambung ...

Read More......

LOKER NOMOR 7 _ BAGIAN 3

cerita yang lalu ...

Sudah beberapa hari sejak surat pertama muncul dari dalam loker nomor 7, surat-surat lain terus Raras terima. Selama ini, ia menganggap surat itu pemberian anak nakal yang iseng mengambil tasnya. Hingga suatu hari, setelah menerima suatu surat, tubuh Raras merinding dan membuatnya jatuh pingsan.

^^^
20:11

Masih dengan merinding, Raras membaca lagi surat-surat yang pernah ia temukan di loker nomor 7. Lagi-lagi ia kemudian dengan cepat mengembalikannya ke atas meja belajar yang terletak di samping ranjang. Sementara Raras kembali bersembunyi di dalam selimut.

“Kamu harus istirahat, Ras,” tiba-tiba saja Kak Anggun bersuara. Raras kaget setengah mati. Jantungnya berdegub kencang. Ia membuka selimut untuk melihat Kak Anggun. Kak Anggun sedang menggeser bangku belajar agar lebih dekat dengan ranjang, kemudian menempelkan telapak tangannya ke dahi Raras, lalu turun ke leher.

“Kakak percaya kalau hantu itu ada?” Tanya Raras. Kak Anggun hanya menjawab ‘uh’ sambil memandang cemas kepada Raras.


***
22 Agustus 2003, Jumat
07:00

Laras membuka lokernya, dan tak menemukan surat apapun. Surat terakhir yang ia berikan pun juga tidak ada. Begitu juga ketika jam istirahat pertama, istirahat kedua, dan sepulang sekolah. Laras sekarang makin penasaran dengan anak itu.

^^^
23 Agustus 2003, Sabtu
07:00

Laras memasukkan semua barang milik anak itu ke dalam loker Laras, tanpa surat kali ini. Tadi berangkat sekolah, dengan sengaja ia menenteng tas putih berbulu itu sepanjang perjalanan menuju sekolah. Berharap anak itu dapat melihatnya dan mengambil sendiri tasnya atau jika cukup berani, langsung menghampiri Laras. Nyatanya sampai tas dan seluruh isinya dimasukkan ke dalam loker, tak satupun anak yang menghadap Laras.

***
07:10

Awalnya tak percaya, sampai-sampai Raras dengan cepat menutup kembali loker nomor 7. Beberapa detik kemudian, ia membuka loker kembali dan masih sama isinya, tas berbulu putihnya dan sepatu pantofel hitam yang beberapa hari lalu hilang di loker nomor 7. Pelan-pelan dan sangat waspada, Raras mengeluarkan barang-barang miliknya dari loker itu dan menjatuhkannya ke lantai.

“Itu tas kamu yang hilang?” Tanya Sandy, sang ketua kelas sambil memungut tas Raras dari lantai. Raras hanya menjawab ‘uh’. Lalu tiba-tiba Raras menyambar tas dan memeriksa barang-barang yang ada di dalam tas. Seragam sekolah, beberapa buku tulis, buku cetak, dan diary bercover putih. Dengan cepat Raras merobek satu lembar kertas dari dalam diary dan terburu-buru menuliskan sesuatu di atasnya, lalu memasukkannya ke dalam loker nomor 7.

***
07:16

Entah siapa kamu. Terima kasih sudah mengembalikan semua barang saya.
Saya tidak akan mengganggumu lagi.
saya mengerti sekarang, kenapa kunci loker nomor 7 ini susah sekali untuk dibuka.

Kamu marah?
Tolong jangan salahkan saya, nanti, saya akan memohon pada kepala sekolah agar kelak, tidak ada siswa yang memakai lokermu lagi.

tenanglah di alam sana,

juniormu (mungkin),
Raras


Laras tertawa kecil sambil sambil membaca surat itu. Sekali lagi kepalanya celingak-celinguk berharap menemukan kepala yang tengah mengintip di balik tembok, di balik pintu, sehingga anak itu bisa tertangkap basah oleh Laras sendiri. Barang-barang itu sudah ditukar dengan sebuah surat yang sejauh ini merupakan surat terpanjang.
“Apa itu?” Tanya Bu Ratna yang sudah berdiri di samping Laras.

“Surat, bu,” jawab Laras sambil mengembalikan bibirnya seperti semula. Mata Bu Ratna tampak tengah membaca surat dari anak yang bernama Raras.

“Raras?” tanya Bu Ratna. Laras menggeleng sambil mengangkat bahu tanda tak tahu. “Tas yang kemarin kamu temukan itu milik Raras? Siapa dia? Kelas berapa?”

“Boleh saya membalas suratnya?” Tanya Laras kemudian.

“Masuk sekarang. Memulai kelasmu jauh lebih penting sekarang,” jawab Bu Ratna.

***
10:03

Kamu pikir saya hantu? hei, sepertinya saya tahu siapa yang sinting. kamu sinting! mengerti?

Loker saya memang susah dibuka sejak pertama kali, saya juga sudah mengadu ke kepala sekolah, tapi tak ada hasil, karena tak ada loker kosong lagi untuk saya.terima kasih atas kebaikanmu,

Laras (nama kita hampir mirip)

NB : hei, saya masih 1 SMU, tidakkah kamu pikir dengan kelas saya?
dari mana kamu dapat kunci loker nomor 7 ini?


Raras mendapat surat balasan lagi ketika ia membuka loker nomor 7. Beberapa detik kemudian setelah membaca surat terakhir itu, ia teringat akan surat beberapa waktu lalu yang menyertakan hari, tanggal dan tahun. Tahun 2003.


***
10:05

apa kamu mati di tahun 2003?
Maaf jika membuatmu marah


Laras kembali tertawa kecil setelah membaca surat itu. Anak itu benar-benar sinting. Bagaimana bisa ia masuk ke sekolah bagus seperti ini. Lalu dengan cepat Laras membalasnya. Dan memasukkannya ke dalam loker dengan cepat pula.

kamu idiot?bagaimana bisa kamu mengatakan
saya sudah mati? bukankah kamu sendiri yang
memasukkan surat ke dalam loker saya?
kamu tidak melihat saya?
hahaaaa


Hampir dua menit kemudian, Laras mendapat ide. Ia hendak mengaku sebagai hantu saja. Kalau dia memang anak sinting, pasti lari ketakutan setelah membaca surat Laras. Ia masih akan tetap bersembunyi dari balik pintu sampai bisa menangkap basah anak sinting itu. Atau malah menakutinya tepat ketika anak sinting itu mengambil surat dari loker Laras.

“Ide cemer...” Laras kaget setengah mati ketika surat yang ada di dalam loker sudah berganti menjadi surat balasan. “Mustahil,” gumam Laras sambil membaca surat itu.

10:08

apa kamu belum tahu kalau kamu sekarang
sudah mati?


“Hei, kamu bisa lihat saya?” Tanya Laras tiba-tiba kepada salah seorang teman sekelasnya yang tengah asik mengobrol di dekat loker. Teman Laras dengan malas menjawab iya.

“Kamu lihat saya? Apa saya pernah mati?” Tanya Laras pada salah seorang siswa yang tengah melewati lorong.

“Sinting,” jawab siswa itu sambil tertawa bersama temannya dan terus melaju hendak menaiki tangga. Laras mengeluarkan ponsel dari kantong roknya dan menelepon mamanya.

“Ma, Laras sudah mati apa belum?” Tanya laras setelah mamanya mengangkat panggilan telepon darinya.

“Aduh, jangan main-main, deh. Mama lagi sibuk. Bye,” mama menjawab dengan terburu-buru dan langsung mengakhiri panggilan Laras.

Masih tampak bingung, Laras kembali membaca surat yang berada di genggamannya itu. Kemudian agar mengetahui apa yang sedang terjadi, Laras kembali memasukkan surat balasan ke dalam lokernya.

saya belum mati.
saya bukan hantu.
berhentilah menakuti saya,
saya pikir kamulah si hantu sekolah


10:15

saya juga bukan hantu, saya masih hidup.
jika kamu masih berpikir ini tahun 2003,
salah besar. Lihat kalender sekarang, dan
sadarilah kematianmu. ini tahun 2010.

lihat Laras, dan sadarilah.
mungkin setelah menerima surat ini,
kematianmu akan tenang,


“Tahun 2010? Setan sekolah sinting,” gumam Laras kemudian pelan bertepatan dengan bel masuk kelas tanda istirahat sudah habis.

“Ada apa lagi?” Tanya Bu Ratna yang sudah menunggu Laras di pintu. Bu Ratna kembali melirik surat yang ada di tangan Laras.

“Loker saya ada hantunya, bu. Hantu sinting,” jawab Laras dengan mata berbinar. Laras mengucapkan kalimat itu dengan rasa penuh kebanggaan, sehingga membuat Bu Ratna menganggapnya bercanda tidak penting.

^^^
12:37

“Apa mungkin hantu tahu masa depan?” Tanya Laras.

“Sudah saya bilang, tidak ada hantu. Dan itu hanya ulah anak iseng,” jawab Bu Ratna dengan nada kesal.

“Saya sudah cerita, bu, tidak mungkin jika anak iseng. Dalam waktu semenit saja, surat ini sudah dibalas,” Laras kembali menjelaskan argumennya.

“Kamu bandel, tapi saya harap jangan sinting juga,” kata Bu Ratna dengan nada marah kali ini. Mendengar itu, Laras berbalik meninggalkan meja Bu Ratna di kantor guru. Ia berencana mencari tahu sendiri apa yang telah terjadi.


bersambung ...

Read More......

Rabu, 16 Februari 2011

MEMORIAM


Keesokan paginya aku datang lagi ke kantor Erwin. Masih seperti hari kemarin, pagi ini hanya menemukan officeboy yang sedang mengepel lantai disebuah ruangan yang biasa digunakan untuk menerima tamu, aku tahu karena beberapa kali datang kemari, Erwin menyuruhku duduk di sofa ruangan itu. Lama aku mengamati gerak gerik officeboy tersebut dari balik jendela, lalu terhenti dengan kedatangan dua motor dari pintu gerbang. Masih dengan posisi yang sama, aku berdiri di teras depan pintu sambil pura-pura tak melihat pengendara motor yang mulai mendekati pintu kantor.

”Kamu lagi? Sebenernya kamu mau apa dari Erwin?” Tanya salah satu pengendara tadi setelah bertatapan denganku. “Kamu mencari seorang bapak?” tanyanya pelan sambil tersenyum.

“Hah? bukan,”jawabku setelah mengerti pertanyaannya. “saya Cuma mau minta tolong Erwin,” jawabku kemudian.

“Oh, perempuan yang kemarin? Pantas saja seperti pernah lihat,” kata pengendara satu lagi tiba-tiba sambil tersenyum padaku. “Nunggu di dalem aja,” ajaknya sambil mempersilakan aku masuk ke dalam kantor.

“Erwin ditugasi ke pabrik timur kemarin sore. dia gak ke kantor hari ini,” kata pengendara yang menyapaku pertama kali tadi sambil melenggang santai masuk ke dalam kantor, tanpa menoleh ke arahku sedikitpun.
“Apa?” tanyaku sambil berteriak.

“Oh, mungkin memang benar. Memang ada sedikit masalah disana. Pabrik pembuatan minyak makan disana mau dibeli perusahaan besar,” jawab pengendara yang masih setia bersamaku itu.

“Oh, kalau begitu, terima kasih. Salam aja buat Erwin,” kataku sebelum akhirnya meninggalkan kantor Erwin.


(empat bulan yang lalu)

Galang duduk sila di lantai balkon apartemen. Rambutnya yang agak gondrong dan kaos oblongnya yang agak besar beberapa kali bergoyang bergelombang diterpa angin. Akhir-akhir ini angin berhembus kencang, apalagi jika berdiri di balkon lantai sebelas ini. Suara yang khas terdengar ketika Galang menyeruput kopi susu panasnya disana, membuat aku ingin mendengarnya lebih jelas lagi sambil mengamati bibirnya.

“Apa harus pulang hari ini?” Tanyaku sambil berdiri bersandar kusen pintu balkon. Aku melipat tanganku ke dada untuk menahan rasa dingin dari hembusan angin. Galang menoleh ke arahku, lalu mengangguk sambil menyeruput kopi susu sekali lagi.

“Udah bangun?” tanya Galang kemudian sambil memberi aba-aba dengan tangan agar aku mendekat kepadanya, tanpa menggeserkan duduk silanya.

“Sekarang udah siang,” jawabku. “Kecewa? Mau pulang tanpa pamit lagi?” Tanyaku agak ketus. Galang seperti menahan wajahnya untuk tidak tersenyum, lalu kembali menatap pemandangan kota yang terlihat begitu kecil itu.

“Sini lah,” katanya kemudian sambil bergerak mencondongkan tubuhnya ke arahku. Ia menyuruhku duduk di pangkuannya. “Sini,” perintahnya lagi. Dengan agak malas aku menjatuhkan tubuhku di pangkuannya dengan mendekap kedua tanganku sendiri lebih erat satu sama lain. Aku terdiam kemudian, karena aku merasakan hangat sekarang.


“Ayo naik gunung,” bisiknya pelan sambil menatap mataku. “Sekali-kali kita naik gunung,”

“Pengen. Tapi belum bisa sekarang,” jawabku pelan.

“Yah, ibu pembaca berita ini. Payah,” ejek Galang cepat sambil mengusap rambutku dengan kasar. Aku tersenyum saja mendengarnya. “Ibu pembaca berita,” panggilnya pelan sambil memelukku dan mengayunkan tubuhku pelan ke kanan dan ke kiri. Aku menjadi semakin hangat sekarang.

“Aku ibu orang hutan,” kataku. Tiba-tiba saja Galang tertawa setelah itu.

Semalam aku mengajaknya menikah dan berkata aku akan lebih baik menjadi ibu orang hutan, yang menemaninya bekerja bersama hutan setiap hari ketimbang membawakan berita pagi atau malam di sebuah stasiun televisi lokal yang masih berumur 4 tahun itu.

Lama kami terdiam dalam ritme ayunan syahdu ini sampai sebuah ponsel yang ada di atas meja makan mengharuskannya bangkit dan melepaskan pelukannya. Ia berjalan dengan santai meraih ponselnya, sementara aku duduk santai sambil menyeruput kopi susu Galang masih di teras balkon sambil mengamati pemandangan kota yang sungguh baru kusadari sangat tidak tertata. Tapi dengan tata letak yang sembarangan itu, ketika malam, lampu-lampunya seperti bintang-bintang bertaburan yang pindah dari langit ke permukaan bumi. Aku dan Galang menyukai sensasi ini. Walau ujung-ujungnya ia berkata kalau suasana ini seperti ia berada di puncak gunung

“Minggu depan Erwin ngajak naik gunung,” teriak Galang sambil berjalan menuju kamar mandi.

“Lagi? Udah dua minggu kalian naik gunung. Erwin gak ada kerjaan? Pabrik apa yang ngeliburin pegawainya setiap sabtu dan minggu?” Tanyaku mulai kesal.

“Pabrik bokapnya lah,” jawab Galang datar.

“Aku gak suka kamu naik gunung,” kataku agak berteriak sambil akhirnya bangkit dari dudukku tapi masih berdiri di teras balkon. “Aku gak suka kamu naik gunung. Setiap bayangin kamu di atas sana, aku selalu marah, marah karena kamu akan memeluk Rani disana, atau menggenggam tangannya selama perjalanan,”

Mendengar itu, Galang berhenti melangkah. Diam menunduk sejenak menatap lantai, lalu menggerakkan badan ke arahku dan menatap tajam mataku. Kami saling bertatapan lama pagi itu. Dan berakhir dengan hilangnya Galang ke dalam kamar mandi. Selanjutnya air keran mulai mengalir di dalamnya.


***

Dengan menyewa guide akhirnya aku naik gunung. Perjalanan pertama kalinya selama dua puluh tujuh tahun aku hidup. Penyesalan meradang di dada, mengingat perjalanan ini seharusnya bersama Galang, bukan tiga orang guide ini. Hayalan bergandengan tangan dengan Galang dalam mencapai puncak yang selama ini ia agung-agungkan, atau puncak lain, membuatku meneteskan airmata. Aku merindukan Galang.

Satu jam perjalanan sudah membuatku lelah. Sungguh tidak semudah apa yang aku pikirkan selama ini. Dan aku merasa marah sekarang, mengingat inilah hobi Galang dan Rani. Hingga mereka melakukan akad nikah di salah satu gunung dengan melakukan perjalanan menggunakan helikopter. Mungkin ini alasan aku tak punya keinginan kuat untuk menaiki gunung walau bersama Galang sekalipun. Tapi tidak kali ini. Aku sungguh punya tekat kuat untuk mencapai puncak gunung ini. Aku akan berusaha sekuat tenaga.

Tanganku di tarik tiba-tiba ketika hendak menggapai tangan salah satu guide untuk naik ke jalan yang agak lebih terjal. Aku hampir terpeleset ketika akhirnya aku bisa menyeimbangkan tubuhku. Sebentar kulihat wajah Erwin lalu tiba-tiba hilang dari pandangan. Kepalaku dengan cepat menoleh ke kiri, dan kubiarkan mata ini teru memandang tanah dan rumput basah yang ada di dekat kakiku. Baru saja Erwin menampar wajahku. Panas dan Pedih terasa pipi ini sekarang.

“Gak punya malu!” teriak Erwin kemudian. “Untuk apa kamu kesini? Hah?” teriakannya makin keras.

“Untuk apa kamu kesini? Aku bisa kesini tanpa bantuan kamu,” aku malas menjawab pertanyaannya.

“Gunung gak sudi kamu disini. Pulang!” Teriak Erwin sambil menyeret tanganku. Setelah tertatih beberapa langkah, ahirnya aku bisa menahan tubuhku sendiri untuk berhenti dari tarikan Erwin. Aku bersusah payah melepaskan tanganku dari cengkraman Erwin. Sempat kulihat tiga guide yang aku sewa hanya diam menyaksikan adegan ini.

“Kalo gunung gak sudi, biar dia sendiri yang buat aku mati disini,” kataku sambil membalikkan badan meninggalkan Erwin. Dengan cepat tanganku dicengkram lagi dan ditarik lagi untuk berbalik arah. Aku mengerahkan tenaga lebih kuat lagi untuk lepas dari cengraman yang sudah terasa sakit ini.

“Tahu? Ini jalur ilegal. Gunung ditutup karena cuaca buruk. Dan aku gak sudi kamu mati di gunung ini. Pulang!” Teriak Erwin lagi.

“Peduli apa kamu sama aku?” tanyaku.

“Aku gak peduli sama sekali sama kamu. Aku Cuma gak mau kamu mati disini. Cari tempat lain!”

“Terima kasih untuk dia jeleknya. Tapi aku gak bakal mati,” kataku mulai marah. Aku menjadi tidak suka dengan Erwin. Teringat selama seminggu ini aku menahan diri dihina olehnya, aku melihat raut kebenciannya padaku hampir setiap hari. Kalau saja aku tahu ada fasilitas guide, tidak perlu aku memintanya mengantarkan aku ke puncak gunung ini.

“Kamu bakal mati!” teriaknya.

“Kalau memang doa kamu dikabulin aku mati disini, aku mau. Aku mau mati di tempat Galang mati,” bantahku dan di akhir kata, pipi yang sama terkena tamparan lagi. Terasa lebih pedih dari sebelumnya. Marahku sudah tak bisa ditahan. Aku membalas untuk menamparnya, lalu memukulnya membabi buta hingga sangat lelah dan akhirnya aku diam setelah mendapat tamparan sekali lagi.

“Kemarin sekali lagi Rani nangis untuk Galang dan untuk kalian. Dia sengsara, pelacur!”

“Kamu pikir Cuma Rani yang nangis? Cuma dia yang sengsara?” kataku. “Kamu pulang sekarang!” perintahku.

“Gak punya malu!” teriak Erwin sambil berjalan cepat meninggalkan aku.


***

Melihat berita di tv dan koran membuatku marah. Berita itu di tv memang sekilas saja, karena yang menjadi topik utama pada berita pagi di televisi swasta nasional ini adalah tentang korupsi yang entah sampai kapan terselesaikan. Berita di koran lokal pun tidak memenuhi seperempat halamannya. Untung saja dia bukan artis ibukota sehingga tak perlu harus tersiksa dengan melihatnya di program berita selebriti.

Aku kesal pada pelacur yang tak punya malu itu. Dia mati di gunung tempat Galang mati empat bulan lalu. Kesal karena perempuan itu masih mendendangkan kisah cintanya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Seharusnya sebagai sesama perempuan, dia tahu apa yang dirasakan Rani. Betapa hancurnya Rani ketika ia tahu perselingkuhan Galang tepat ketika Galang tengah dipersemayamkan di kediaman mereka. Perempuan itu muncul dengan tidak tahu malu dan menceritakannya tanpa dosa dan penyesalan.

Aku ingat Rani yang tangisnya menjadi-jadi ketika melihat perempuan itu tengah menangisi Galang di depan matanya, mengusap-usap kepalanya dengan penuh kasih sayang, bahkan berani mencium bibir Galang yang terkatup kaku itu. Dasar Pelacur!

“Galang kurang ajar! Aku sempat mengagumi kamu karena besarnya cinta kamu ke Rani dan memprediksi kalian bersama sampai tua. Kamu satu-satunya laki-laki yang gak mungkin begitu, bagiku begitu, brengsek!” Teriakku sambil meremas-remas koran yang tadi ada di hadapanku.

Untung saja ada kebaikan ketika itu. Galang mati dalam perjalanannya bersama Rani, dan beberapa teman di clun, terpeleset ketika hampir tiba di kaki gunung, dan mati dalam pelukan Rani di dalam ambulans menuju rumah sakit. Entah mengapa mengingat itu agak melegakan dan memudarkan rasa benci untuk Galang.
Read More......